Setelah Membaca Novel Kemi

Novel “Kemi” adalah sebuah cermin. Cermin besar yang menghadap kita, terutama bagi mereka yang bertanggung jawab mendidik generasi muda. Ustadz Adian Husaini dengan tajam menggambarkan dunia Kemi, seorang remaja yang berada di persimpangan zaman—ditarik antara idealisme Islam dan hegemoni pemikiran modern yang kerap kali menggiring pada sekularisme, liberalisme, dan hedonisme. Buku ini adalah alarm, memperingatkan bahwa pendidikan dan media sering kali mengabaikan inti dari pembentukan karakter yang Islami.

Continue reading

Tua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan

Kawan, usia adalah angka, tapi kedewasaan adalah cerita. Kita melihat banyak orang yang tubuhnya telah menua, tapi jiwanya masih seperti bocah. Tengoklah, orang tua yang menelantarkan anaknya, ayah yang masih merokok di depan anak-anaknya, seolah lupa bahwa tanggung jawab tak sekadar pada diri sendiri. Kedewasaan, bukan sekadar soal rambut yang memutih, tetapi soal bijak melihat hidup, dan berani mengambil tanggung jawab.

Continue reading

Masa Depan Paling Depan

Sebagai seorang ayah sekaligus seorang guru, ada satu kegelisahan yang sering mengusik hati terdalam saya. Bagaimana cara “mencuci otak” anak-anak kita? Bukan dengan propaganda, bukan dengan janji-janji dunia, tapi dengan menanamkan dalam jiwa mereka, bahwa kesuksesan yang hakiki bukanlah tentang “muda kaya-raya, tua foya-foya.” Kesuksesan sejati adalah ketika kedua kaki kita masuk ke dalam surga, tempat yang dijanjikan Allah bagi mereka yang hidup dengan iman dan amal baik.

Continue reading