Setelah Nonton Film School of Rock

(Disclaimer: School of Rock bukan film islami.)

“School of Rock” ialah film tentang guru musik eksentrik, mengajak kita berpikir ulang tentang makna mendidik. Dewey Finn, seorang musisi gagal yang berpura-pura jadi guru, justru membuka pintu bagi anak-anak untuk menemukan diri mereka. Saya, seorang guru yang konon sudah tahu segalanya, mendadak merasa kecil. Kita sering bicara kurikulum, bicara angka, bicara prestasi. Tapi Dewey? Ia bicara soal mimpi, soal kebebasan, soal nyali untuk jadi diri sendiri.

Continue reading

Keperawanan Anak SD

Mari kita bicara soal keperawanan anak SD, dan ini memang tema yang tabu. Ini tentang jerit hati seorang ayah sekaligus guru yang melihat fenomena miris di depan mata: anak-anak yang mestinya polos, kini sudah kenal pacaran, joget di media sosial mengumbar aurat, bahkan terlibat dalam adegan (zina) yang seharusnya jauh dari usia mereka. Anak-anak kecil yang seharusnya menghafal ayat suci, malah sibuk dengan dunia yang penuh ilusi.

Continue reading

Pancasila Itu Tidak Ada

“Pancasila itu tidak ada,” begitu kata Sujiwo Tejo, seolah mengajak kita menatap bayang-bayang di cermin, melihat sesuatu yang mestinya ada tapi hilang entah ke mana. Kalau Pancasila ada, seharusnya air tak perlu dibayar mahal oleh rakyatnya sendiri. Kalau Pancasila hidup dalam denyut nadi bangsa ini, mengapa biaya BPJS sering kali menjadi jerat bagi mereka yang sudah pmiskin apa? Bukankah air itu pemberian Allah, yang seharusnya mengalir bebas seperti udara? Bukankah sila kelima berbicara tentang “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”?

Continue reading