Setelah Membaca Buku Manusia Indonesia

Membaca “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis, saya—seorang guru—duduk lama memandangi jendela, memikirkan anak-anak di kelas saya, memikirkan diri saya. Mochtar Lubis melukis karakter “manusia Indonesia” dengan garis-garis tegas: manusia yang penuh kepura-puraan, takut pada tanggung jawab, dan terbelenggu oleh feodalisme. Sederhana, tetapi begitu tajam. Saya merasa ditampar oleh kata-kata yang menohok, karena mungkin tanpa sadar, saya telah ikut membentuk generasi yang seperti itu—generasi yang takut untuk berbeda, takut untuk berpikir.

Continue reading

Kritik Itu Obat Itu Pahit

Hidup ini penuh dengan warna, kawan. Kadang kita serasa terbang di atas awan, kadang kita tersungkur di lumpur kehidupan. Dalam perjalanan ini, ada satu hal yang selalu hadir, entah dengan cara yang halus atau keras: kritik. Kritik itu bisa datang seperti bisikan lembut yang mengingatkan, atau mungkin dengan keras seperti tamparan yang membuat kita terjaga. Dan, kita tahu, kritik itu pahit. Tapi, bukankah obat yang paling mujarab seringkali terasa paling pahit?

Continue reading

Satanis Sejak Kecil dan Tuhan Doraemon

Dalam perjalanan tumbuh kembang saya, ada momen-momen yang dibentuk oleh hiburan yang saya konsumsi. Kartun seperti Dragon Ball dan Doraemon, komik seperti One Piece—ini semua menjadi bagian dari narasi masa kecil dan remaja saya. Tapi coba renungkan, di balik kisah-kisah seru itu, ada simbol-simbol dan pesan-pesan yang tidak selalu netral. Misalnya, Mr. Satan di Dragon Ball yang menjadi “pahlawan” bumi, atau Devil Fruit di One Piece yang memberikan kekuatan super kepada karakternya. Konsep setan, yang seharusnya menjadi musuh nyata, malah dibelokkan menjadi bagian dari narasi heroik.

Continue reading