Saladin Camp: Dari Emosi Menuju Strategi

Lebih dari Sekadar Reaksi

Setiap kali kabar serangan terhadap Gaza atau Masjid Al-Aqsho datang, umat Islam bergerak. Kotak donasi dibuka. Jalan raya dipenuhi massa. Media sosial dipenuhi doa, poster, dan kemarahan. Semua itu penting. Orang yang masih marah ketika kedzoliman terjadi berarti hatinya belum mati.

Masalah muncul setelah suara ledakan mereda. Donasi berhenti. Poster tenggelam. Massa pulang. Kita menunggu tragedi berikutnya untuk kembali merasa menjadi bagian dari perjuangan.

Continue reading

Palestina Menjaga Pancasila

Duo Palestina

Ada masa ketika Indonesia belum memiliki banyak uang, senjata, dan kawan. Republik baru lahir. Belanda datang kembali membawa serdadu dan propaganda. Dunia belum yakin apakah bangsa bernama Indonesia sanggup bertahan.

Pada masa itu, bantuan datang dari tempat yang jauh: Palestina.

Continue reading

Scroll, Share, and Care: Cara Gen Z Membayar Hutang Sejarah

Sejenak ke Belakang

Bayangkan Indonesia pada 1944.

Belum ada upacara 17 Agustus. Belum ada Merah Putih yang berkibar sebagai bendera sebuah negara merdeka. Penjara, kerja paksa, kelaparan, dan rasa takut masih menjadi bagian dari hidup rakyat Nusantara.

Di tengah keadaan itu, sebuah suara datang dari tempat yang jauh.

Pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ucapan selamat dari Mufti Besar Palestina, Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini rohimahulloh, berkaitan dengan harapan kemerdekaan Indonesia yang saat itu dijanjikan penjajah Jepang. Siaran tersebut diberitakan selama dua hari dan disebarkan melalui pers Arab. Ini memang belum menjadi pengakuan resmi antar negara, Indonesia bahkan belum memproklamasikan kemerdekaannya, tetapi dukungan politik dan moral itu sangat berarti bagi perjuangan bangsa yang masih mencari kawan.

Continue reading