Kaum yang Lupa Rasanya Membaca Buku

Membaca Setiap Hari Tapi

Kita bukan kaum yang tidak membaca.

Kita membaca setiap hari. Membaca pesan WhatsApp. Membaca caption. Membaca komentar. Membaca status orang yang bahkan tidak kita kenal. Membaca judul berita, lalu merasa sudah tahu isi dunia.

Tapi itu bukan membaca yang membuat jiwa tumbuh. Itu hanya lewat di mata. Masuk sebentar, hilang lagi. Seperti angin yang numpang lewat di jendela rumah.

Kita membaca, tetapi tidak bertambah dalam.

Continue reading

Rumah Ibadahmu Dikencingi Babi dan Monyet

Rasanya Palestina

Bayangkan masjid di kampungmu.

Masjid tempat engkau dulu mengeja alif, ba, ta. Masjid tempat ayahmu mengajarimu wudhu. Masjid tempat ibumu menunggu azan magrib saat Romadhon. Masjid tempat jenazah kakekmu disholatkan. Masjid yang lantainya pernah menerima dahimu ketika engkau menangis kepada Allah.

Lalu suatu hari, masjid itu dirampas.

Untuk masuk ke dalamnya, engkau harus meminta izin kepada orang yang memusuhimu. Untuk sholat di sana, engkau harus melewati pasukan bersenjata. Untuk berdiri di halaman baitullah, engkau harus siap dihina, didorong-dorong, dicurigai, bahkan diusir.

Apa rasanya?

Continue reading

Generasi Salahuddin, Bukan Salah Dolen

Anak-Anak Kita dan Mereka

Ada suara yang seharusnya membuat kita berhenti.

Bukan suara bel sekolah. Bukan suara notifikasi gadget. Bukan pula suara musik dari kafe jalanan. Itu suara anak-anak Gaza. Suara lapar. Suara takut. Suara tubuh kecil yang berlari dari satu reruntuhan ke reruntuhan lain.

Lalu kita melihat anak-anak kita.

Continue reading