Privilege: Hidup Tidak Adil?

Garis Start Kehidupan

Hidup memang tidak dimulai dari garis yang sama.

Ada anak yang lahir dengan pintu dunia sudah terbuka. Orang tua lengkap. Rumah aman. Uang cukup. Sekolah bagus. Buku tersedia. Guru mudah dijangkau. Koneksi sudah menunggu.

Bahkan sebelum dia bisa berjalan, sebagian jalannya sudah diratakan.

Tapi ada juga anak yang lahir dalam keadaan minus.

Bukan nol.

Minus!

Dia lahir dekat dengan utang, teriakan, lapar, dan takut. Dia tidak punya ruang untuk gagal. Sebelum mencoba, dia sudah dihukum oleh keadaan. Orang lain belajar mengejar mimpi. Dia belajar bertahan hidup.

Lalu kita bertanya:

Apakah hidup tidak adil?

Dalam ukuran manusia, sering kali tampak begitu.

Continue reading

Ketika Sekolah Tidak Terasa Meaningful, Joyful, dan Mindful

Sekolah Seharusnya

Pagi hari.

Anak-anak berangkat sekolah dengan mata yang belum selesai bangun.

Tas di punggung terasa seperti karung batu. Di tangan ada bekal. Di kepala ada tugas. Di hati ada rasa malas yang tidak selalu berani mereka ucapkan.

Belum sampai gerbang, mereka sudah lelah.

Guru juga begitu.

Datang pagi. Pulang sore. Mengajar. Menilai. Mengisi laporan. Mengurus administrasi. Menghadapi murid. Menghadapi orang tua. Menghadapi sistem.

Lalu kita menyebutnya pendidikan.

Padahal kadang rasanya lebih mirip pabrik.

Continue reading

Ternyata Harus Pilih-Pilih Teman

Sok Suci?

Sejak kecil kita sering mendengar nasihat ini.

“Kalau berteman jangan pilih-pilih.”

Kedengarannya baik. Seolah bijak. Seolah siapa pun yang memilih teman adalah orang sombong, merasa suci, dan tidak mau bergaul.

Tapi tunggu dulu.

Continue reading