Ketika Guru Tidak Layak Digugu dan Ditiru

Ada Mata-Mata

Anak-anak datang ke kelas bukan hanya membawa tas.

Mereka membawa mata.

Mereka melihat cara guru bicara. Cara guru tertawa. Cara guru marah. Cara guru memakai ponsel. Cara guru berpakaian. Cara guru menjaga diri. Bahkan cara guru menghabiskan waktu luang.

Guru sering mengira tugasnya hanya menjelaskan pelajaran. Matematika. Bahasa. Agama. Sejarah. Lalu selesai.

Tidak.

Guru adalah pelajaran itu sendiri.

Continue reading

Kolonialisme dan Piala Dunia

Bola Itu Bundar, Ingatan Jangan Ikut Pudar

Setiap Piala Dunia datang, rakyat jelata ikut sibuk. Tukang bakso pasang televisi. Warung kopi penuh sampai dini hari. Anak-anak memakai kaos Argentina, Brasil, Prancis, Jepang, Portugal. Orang dewasa mendadak jadi pelatih. Semua tahu siapa harus diganti, siapa harus menendang penalti, dan siapa yang pantas dimaki.

Tidak apa-apa.

Sepak bola memang hiburan. Kadang ia membuat hidup yang susah terasa bisa ditunda dua kali empat puluh lima menit. Cicilan tetap ada. Beras tetap mahal. Tapi kalau bola masuk gawang, dada rakyat mendadak sumringah.

Namun ada hal yang mengganggu saya.

Continue reading

Privilege: Hidup Tidak Adil?

Garis Start Kehidupan

Hidup memang tidak dimulai dari garis yang sama.

Ada anak yang lahir dengan pintu dunia sudah terbuka. Orang tua lengkap. Rumah aman. Uang cukup. Sekolah bagus. Buku tersedia. Guru mudah dijangkau. Koneksi sudah menunggu.

Bahkan sebelum dia bisa berjalan, sebagian jalannya sudah diratakan.

Tapi ada juga anak yang lahir dalam keadaan minus.

Bukan nol.

Minus!

Dia lahir dekat dengan utang, teriakan, lapar, dan takut. Dia tidak punya ruang untuk gagal. Sebelum mencoba, dia sudah dihukum oleh keadaan. Orang lain belajar mengejar mimpi. Dia belajar bertahan hidup.

Lalu kita bertanya:

Apakah hidup tidak adil?

Dalam ukuran manusia, sering kali tampak begitu.

Continue reading