Merayakan Kegagalan Besar dan Kesuksesan Kecil

Jangan Bunuh Dia

Sebentar lagi sekolah libur panjang.

Anak-anak pulang membawa rapor. Sebagian membawa angka yang membuat orang tua tersenyum. Sebagian membawa angka yang membuat rumah menjadi mencekam.

Di banyak rumah, rapor bukan lagi laporan belajar.

Ia berubah menjadi vonis.

Anak yang nilainya tinggi dipeluk. Anak yang nilainya turun ditanya seperti terdakwa. Anak yang tidak rangking 3 besar dibandingkan dengan anak tetangga. Lalu orang tua berkata, “Ini demi masa depanmu.”

Mungkin benar.

Continue reading

Kapan Kita Ngobrol tentang Keperawanan Anak-Anak Kita?

Negeri Serba Boleh

Indonesia adalah negeri yang serba boleh.

Di sini perempuan boleh bercadar rapat. Boleh juga berjalan dengan pakaian yang hampir habis kainnya. Nilai agama masih dihormati. Tetapi tidak selalu ditaati. Orang bisa marah saat agama dihina, tetapi diam saat anak-anaknya belajar mencintai lawan jenis tanpa batas.

Pacaran sudah dianggap biasa.

Anak SMP pacaran, dibilang lucu. Anak SMA pulang malam, dibilang masa muda. Chat mesra, telepon larut, boncengan, jalan berdua, saling pegang tangan, dianggap proses saling mengenal.

Padahal pacaran punya saudara kembar yang jarang disebut: zina.

Continue reading

Boikot Piala Dunia

Jadwal Ibadah Baru

Setiap musim Piala Dunia datang, sebagian laki-laki seperti mendapat jadwal ibadah baru. Mereka tahu jam kick-off. Mereka tahu siapa cedera. Mereka tahu susunan pemain. Mereka tahu negara mana harus menang agar tim jagoannya lolos.

Tetapi dia lupa jam Subuh.

Dia lupa tubuhnya sendiri.

Dia lupa bahwa anaknya menunggu diajak bicara, istrinya menunggu didengar, dan badannya menunggu digerakkan.

Lalu dia berkata, “Ini cuma hiburan.”

Continue reading