Rumah Ibadahmu Dikencingi Babi dan Monyet

Rasanya Palestina

Bayangkan masjid di kampungmu.

Masjid tempat engkau dulu mengeja alif, ba, ta. Masjid tempat ayahmu mengajarimu wudhu. Masjid tempat ibumu menunggu azan magrib saat Romadhon. Masjid tempat jenazah kakekmu disholatkan. Masjid yang lantainya pernah menerima dahimu ketika engkau menangis kepada Allah.

Lalu suatu hari, masjid itu dirampas.

Untuk masuk ke dalamnya, engkau harus meminta izin kepada orang yang memusuhimu. Untuk sholat di sana, engkau harus melewati pasukan bersenjata. Untuk berdiri di halaman baitullah, engkau harus siap dihina, didorong-dorong, dicurigai, bahkan diusir.

Apa rasanya?

Continue reading

Generasi Salahuddin, Bukan Salah Dolen

Anak-Anak Kita dan Mereka

Ada suara yang seharusnya membuat kita berhenti.

Bukan suara bel sekolah. Bukan suara notifikasi gadget. Bukan pula suara musik dari kafe jalanan. Itu suara anak-anak Gaza. Suara lapar. Suara takut. Suara tubuh kecil yang berlari dari satu reruntuhan ke reruntuhan lain.

Lalu kita melihat anak-anak kita.

Continue reading

Merayakan Kegagalan Besar dan Kesuksesan Kecil

Jangan Bunuh Dia

Sebentar lagi sekolah libur panjang.

Anak-anak pulang membawa rapor. Sebagian membawa angka yang membuat orang tua tersenyum. Sebagian membawa angka yang membuat rumah menjadi mencekam.

Di banyak rumah, rapor bukan lagi laporan belajar.

Ia berubah menjadi vonis.

Anak yang nilainya tinggi dipeluk. Anak yang nilainya turun ditanya seperti terdakwa. Anak yang tidak rangking 3 besar dibandingkan dengan anak tetangga. Lalu orang tua berkata, “Ini demi masa depanmu.”

Mungkin benar.

Continue reading