2 Pertanyaan Gila

Menanyai Diri Sendiri

Ada dua pertanyaan yang bisa membuat hidup kita berhenti sejenak.

Bukan karena sulit.

Tapi karena terlalu jujur.

Pertanyaan pertama:

Apa yang kamu inginkan?

Pertanyaan kedua:

Apa yang menghalangimu mendapatkannya?

Dua pertanyaan ini tampak sederhana. Seperti pertanyaan anak kecil. Tapi justru di situlah masalahnya. Pertanyaan sederhana sering tidak memberi tempat untuk bersembunyi.

Tidak bisa dijawab dengan gaya.

Tidak bisa ditutup dengan alasan.

Tidak bisa diselamatkan oleh kutipan motivasi.

Dia meminta kita duduk.

Diam.

Lalu jujur.

Dan banyak orang tidak tahan berhadapan dengan dirinya sendiri.

Apa yang Kamu Inginkan?

Ini pertanyaan gila.

Sebab banyak orang hidup bertahun-tahun tanpa benar-benar tahu apa yang dia inginkan.

Dia sekolah karena disuruh. Kuliah karena ikut arus. Bekerja karena butuh uang. Menikah karena umur. Membeli sesuatu karena orang lain membelinya. Mengejar gelar sukses karena masyarakat menyuruhnya begitu.

Lalu suatu malam, dia duduk sendiri.

Dan merasa asing dengan hidupnya.

Dia sibuk, tapi tidak tahu menuju ke mana.

Dia punya jadwal, tapi tidak punya arah.

Dia punya napas, tapi tidak punya makna.

Maka pertanyaan itu datang.

Apa sebenarnya yang kamu inginkan?

Bukan apa yang orang tuamu inginkan.

Bukan apa yang temanmu pamerkan.

Bukan apa yang algoritma dorong ke matamu setiap hari.

Tapi apa yang benar-benar kamu inginkan?

Pertanyaan ini memaksa kita bertemu diri sendiri.

Siapa kita?

Untuk apa kita hidup?

Apa yang ingin kita perjuangkan sebelum tubuh ini lemah, nama kita dilupakan, dan hidup kita selesai?

Dalam Islam, pertanyaan ini tidak boleh berhenti pada ego.

Sebab hidup bukan cuma soal “aku mau apa”.

Hidup adalah amanah.

Allah menciptakan kita untuk beribadah kepada-Nya. Maka setiap keinginan seorang Muslim harus punya jalan pulang: ridha Allah.

Mau kaya?

Untuk apa?

Mau terkenal?

Untuk apa?

Mau punya ilmu?

Untuk apa?

Mau membangun usaha?

Untuk apa?

Kalau ujungnya hanya diri sendiri, keinginan itu sempit.

Kalau ujungnya manfaat bagi manusia dan ridha Allah, keinginan itu mulai punya nilai.

Salman Tahu Apa yang Dia Cari

Lihat Salman Al-Farisi.

Dia lahir di Persia. Hidupnya bisa saja selesai di sana. Aman. Rapi. Mengikuti jalan keluarga. Tidak perlu banyak risiko.

Tapi hatinya mencari kebenaran.

Maka dia pergi.

Dari satu guru ke guru lain. Dari satu tempat ke tempat lain. Dari satu keyakinan ke pencarian berikutnya. Sampai akhirnya dia bertemu Rasulullah Muhammad ﷺ di Madinah.

Itu bukan perjalanan orang yang sekadar penasaran.

Itu perjalanan orang yang tahu apa yang dia cari.

Salman mencari kebenaran.

Bukan panggung.

Bukan tepuk tangan.

Bukan hidup yang mudah.

Banyak orang hari ini kalah bukan karena jalannya lebih berat daripada jalan Salman.

Dia kalah karena tidak tahu apa yang dia cari.

Dia hanya ingin hidupnya “lebih baik”.

Tapi lebih baik itu apa?

Lebih dekat kepada Allah?

Lebih bermanfaat bagi orang lain?

Lebih jujur dengan amanah hidupnya?

Atau sekadar lebih dipuji?

Pertanyaan ini perlu dijawab.

Pelan-pelan.

Tapi jujur.

Apa yang Menghalangimu?

Kalau pertanyaan pertama memeriksa arah, pertanyaan kedua memeriksa nyali.

Apa yang menghalangimu?

Uang?

Waktu?

Takut gagal?

Takut ditertawakan?

Takut tidak pantas?

Takut kehilangan rasa aman?

Takut ternyata kamu tidak sehebat yang kamu bayangkan?

Pertanyaan kedua ini sering lebih sakit. Sebab dia membongkar alasan yang kita rawat bertahun-tahun.

Kita berkata, “Aku belum punya waktu.”

Padahal ada waktu untuk scroll layar hape berjam-jam.

Kita berkata, “Aku belum siap.”

Padahal “siap” biasanya cuma nama lain dari “takut”.

Kita berkata, “Aku tidak punya kesempatan.”

Padahal kesempatan kecil sudah ada, hanya saja tidak sesuai gengsi kita.

Lebih gila dari orang yang tidak tahu apa yang dia inginkan adalah orang yang tahu apa yang dia inginkan, tapi memilih mundur.

Karena takut ini.

Takut itu.

Merasa tidak pantas.

Merasa terlalu terlambat.

Merasa terlalu kecil.

Padahal hidup memang tidak pernah menunggu kita merasa siap.

Jangan Bersembunyi di Balik Takdir

Ada orang yang memakai agama untuk membenarkan kemalasan.

“Kalau memang rezeki, nanti datang.”

“Kalau memang takdir, pasti terjadi.”

Kalimatnya terdengar sangat beriman.

Tapi kadang isinya hanya rasa malas yang diberi dalil agama.

Islam tidak mengajarkan kita duduk menunggu langit menjatuhkan hasil. Rasulullah Muhammad ﷺ mengajarkan tawakkal setelah ikhtiar.

Unta diikat dulu.

Baru bertawakkal.

Artinya jelas.

Bergerak dulu.

Ambil sebab dulu.

Kerjakan bagianmu dulu.

Lalu serahkan hasil kepada Allah.

Mau berubah?

Mulai.

Mau punya ilmu?

Belajar.

Mau hidup lebih bersih?

Tinggalkan maksiat.

Mau bermanfaat?

Kerjakan sesuatu, meski kecil.

Doa tanpa usaha bisa berubah menjadi angan-angan.

Usaha tanpa doa bisa berubah menjadi kesombongan.

Seorang Muslim butuh keduanya.

Keinginan Perlu Dimurnikan

Tidak semua keinginan layak dikejar.

Ada keinginan yang lahir dari iri.

Ada yang lahir dari dendam.

Ada yang lahir dari luka.

Ada yang lahir dari ingin dipuji.

Ada yang lahir dari ingin membuktikan bahwa orang lain salah.

Maka sebelum mengejar sesuatu, bersihkan dulu niatnya.

Ini penting.

Rasulullah Muhammad ﷺ mengajarkan bahwa amal bergantung pada niat. Dua orang bisa melakukan hal yang sama, tapi nilainya berbeda di sisi Allah.

Yang satu mencari ridha Allah.

Yang satu mencari panggung.

Tanyakan pada diri sendiri:

“Kalau aku mendapatkannya, siapa yang terbantu?”

“Kalau aku berhasil, apakah aku makin dekat kepada Allah?”

“Kalau aku sampai ke tujuan ini, apakah hidup orang lain ikut lebih baik?”

Kalau jawabannya tidak, mungkin yang perlu diubah bukan langkahmu.

Tapi niatmu.

Jangan Hidup Seperti Orang Tersesat

Sungguh aneh kalau manusia hidup puluhan tahun tanpa tahu apa yang dia inginkan.

Bangun.

Kerja.

Pulang.

Tidur.

Mengeluh.

Membandingkan diri sendiri dengan orang lain.

Lalu mengulang semuanya sampai rambut memutih.

Lebih aneh lagi kalau dia tahu apa yang dia inginkan, tapi memilih mundur karena takut.

Takut gagal.

Takut ditolak.

Takut miskin.

Takut tidak pantas.

Takut dunia tidak memberi tempat.

Padahal dunia memang tidak selalu memberi tempat.

Kadang kita harus membuat tempat itu dengan izin Allah.

Sedikit demi sedikit.

Dengan usaha.

Dengan doa.

Dengan sabar.

Dengan ridha.

Jawab Sebelum Terlambat

Maka tanyakan dua pertanyaan itu kepada diri sendiri.

Apa yang kamu inginkan?

Jangan buru-buru menjawab.

Duduk dulu.

Diam dulu.

Jujur dulu.

Lalu tanyakan pertanyaan kedua:

Apa yang menghalangimu?

Jawab tanpa berdusta.

Jangan selalu menyalahkan orang lain.

Jangan sembunyi di balik keadaan jika yang sebenarnya menahanmu adalah takut.

Hidup terlalu singkat untuk dijalani tanpa arah.

Dan terlalu berharga untuk dihabiskan demi keinginan yang tidak membawa kita kepada ridho Allah.

Maka inginkan sesuatu yang baik.

Kejar dengan cara yang halal.

Jadikan manfaat bagi sesama sebagai jalannya.

Jadikan ridha Allah sebagai akhirnya.

Sebab pada akhirnya, tidak semua yang kita inginkan harus kita miliki.

Tapi semua yang kita kejar harus layak kita pertanggungjawabkan di hadapan Allah.

Percaya Diri: Nasihat Berbahaya

Tertipu Motivasi

Ada nasihat yang terdengar baik, tapi diam-diam bisa merusak.

“Percayalah pada dirimu sendiri.”

Kalimat itu ada di mana-mana. Di seminar. Di video motivasi. Di caption Instagram. Di dinding kamar. Di kepala anak muda yang sedang ingin membuktikan sesuatu pada dunia.

Sekilas, kalimat itu tidak salah.

Kita memang perlu berani. Perlu mencoba. Perlu bangkit. Perlu punya nyali untuk hidup. Islam tidak mengajarkan kita jadi manusia lemah, malas, dan menyerah sebelum bergerak.

Tapi masalah dimulai ketika percaya diri berubah menjadi percaya hanya pada diri sendiri.

Continue reading

Dreams, Deadline, and Death

Masih Mati

Ada orang yang mati sebelum benar-benar mati.

Tubuhnya masih berjalan. Dia masih bekerja. Masih membalas chat. Masih membayar tagihan. Masih tertawa di acara keluarga. Dari luar, hidupnya tampak baik-baik saja.

Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang sudah lama dikubur.

Impian.

Continue reading