Rasanya Palestina
Bayangkan masjid di kampungmu.
Masjid tempat engkau dulu mengeja alif, ba, ta. Masjid tempat ayahmu mengajarimu wudhu. Masjid tempat ibumu menunggu azan magrib saat Romadhon. Masjid tempat jenazah kakekmu disholatkan. Masjid yang lantainya pernah menerima dahimu ketika engkau menangis kepada Allah.
Lalu suatu hari, masjid itu dirampas.
Untuk masuk ke dalamnya, engkau harus meminta izin kepada orang yang memusuhimu. Untuk sholat di sana, engkau harus melewati pasukan bersenjata. Untuk berdiri di halaman baitullah, engkau harus siap dihina, didorong-dorong, dicurigai, bahkan diusir.
Apa rasanya?
Continue reading