Homo Saecularis vs Homo Islamicus

Pertarungan Homo

Ada istilah yang muncul seperti gurauan, tetapi menyimpan luka: secular trauma.

Istilah itu lahir sebagai bayangan dari istilah lain yang lebih sering terdengar: religious trauma. Sebagian orang merasa terluka oleh pengalaman buruk dengan lingkungan agama. Ada yang pernah melihat agama dipakai untuk menekan, mengontrol, atau mempermalukan. Itu ada. Tidak perlu ditutup-tutupi.

Tapi pertanyaannya: apakah hidup tanpa agama pasti membuat manusia sembuh?

Continue reading

Dewasa Bukan Versi Hidup Lebih Mahal

Harus Naik Kelas

Ada pasangan muda yang baru menikah, lalu tiba-tiba merasa hidupnya harus naik kelas.

Dulu cukup makan di rumah. Sekarang merasa harus makan di tempat yang instagrammable. Dulu cukup motor bebek. Sekarang merasa harus mencicil mobil karena teman seangkatan sudah punya. Dulu rumah kontrakan kecil terasa cukup. Sekarang terasa sempit setelah melihat ruang tamu orang lain di TikTok.

Padahal mungkin gajinya tidak berubah banyak. Yang berubah hanya standar malu.

Continue reading

Kenapa Malu dengan Nama-Nama Islami?

Nama Atau Merek?

Ada orang tua yang memberi anaknya nama seperti sedang menamai merek parfum.

Bunyinya halus. Terlihat global. Mudah ditulis di bio media sosial. Cocok untuk dipanggil di kafe, bandara, atau kantor kedutaan asing. Tetapi ketika ditanya artinya, jawabannya sering berhenti di kalimat, “Pokoknya bagus.”

Tidak salah memberi nama yang terdengar indah. Tidak salah pula memakai nama yang tidak berbahasa Arab, selama maknanya baik dan tidak bertentangan dengan Islam. Tetapi ada yang perlu kita tanyakan dengan jujur.

Kenapa sebagian dari kita mulai malu dengan nama-nama Islami?

Continue reading