Generasi Salahuddin, Bukan Salah Dolen

Anak-Anak Kita dan Mereka

Ada suara yang seharusnya membuat kita berhenti.

Bukan suara bel sekolah. Bukan suara notifikasi gadget. Bukan pula suara musik dari kafe jalanan. Itu suara anak-anak Gaza. Suara lapar. Suara takut. Suara tubuh kecil yang berlari dari satu reruntuhan ke reruntuhan lain.

Lalu kita melihat anak-anak kita.

Continue reading

Merayakan Kegagalan Besar dan Kesuksesan Kecil

Jangan Bunuh Dia

Sebentar lagi sekolah libur panjang.

Anak-anak pulang membawa rapor. Sebagian membawa angka yang membuat orang tua tersenyum. Sebagian membawa angka yang membuat rumah menjadi mencekam.

Di banyak rumah, rapor bukan lagi laporan belajar.

Ia berubah menjadi vonis.

Anak yang nilainya tinggi dipeluk. Anak yang nilainya turun ditanya seperti terdakwa. Anak yang tidak rangking 3 besar dibandingkan dengan anak tetangga. Lalu orang tua berkata, “Ini demi masa depanmu.”

Mungkin benar.

Continue reading

Kapan Kita Ngobrol tentang Keperawanan Anak-Anak Kita?

Negeri Serba Boleh

Indonesia adalah negeri yang serba boleh.

Di sini perempuan boleh bercadar rapat. Boleh juga berjalan dengan pakaian yang hampir habis kainnya. Nilai agama masih dihormati. Tetapi tidak selalu ditaati. Orang bisa marah saat agama dihina, tetapi diam saat anak-anaknya belajar mencintai lawan jenis tanpa batas.

Pacaran sudah dianggap biasa.

Anak SMP pacaran, dibilang lucu. Anak SMA pulang malam, dibilang masa muda. Chat mesra, telepon larut, boncengan, jalan berdua, saling pegang tangan, dianggap proses saling mengenal.

Padahal pacaran punya saudara kembar yang jarang disebut: zina.

Continue reading