Sejenak ke Belakang
Bayangkan Indonesia pada 1944.
Belum ada upacara 17 Agustus. Belum ada Merah Putih yang berkibar sebagai bendera sebuah negara merdeka. Penjara, kerja paksa, kelaparan, dan rasa takut masih menjadi bagian dari hidup rakyat Nusantara.
Di tengah keadaan itu, sebuah suara datang dari tempat yang jauh.
Pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ucapan selamat dari Mufti Besar Palestina, Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini rohimahulloh, berkaitan dengan harapan kemerdekaan Indonesia yang saat itu dijanjikan penjajah Jepang. Siaran tersebut diberitakan selama dua hari dan disebarkan melalui pers Arab. Ini memang belum menjadi pengakuan resmi antar negara, Indonesia bahkan belum memproklamasikan kemerdekaannya, tetapi dukungan politik dan moral itu sangat berarti bagi perjuangan bangsa yang masih mencari kawan.
Continue reading