Setelah Nonton Film The Social Dilemma

Menjadi seorang ayah dan guru adalah meniti jalan dengan dua peta di tangan: satu untuk keluarga, satu lagi untuk murid-murid. Saat menonton The Social Dilemma, saya seperti ditampar. Dunia yang kita tinggali, yang kita yakini aman, ternyata penuh perangkap. Anak-anak kita, murid-murid kita, terjebak dalam jaring yang tidak mereka sadari. Jaring yang dibangun oleh algoritma, oleh kapitalisme digital yang tak mengenal belas kasih.

Continue reading

Aku Hidup Ketika Dia Mati

Ada sebuah momen yang begitu sederhana, namun sarat makna—momen ketika saya memutuskan untuk mematikan smartphone. Dalam keheningan yang tiba-tiba hadir, saya menemukan kehidupan yang sebenarnya. Aneh memang, bagaimana sebuah perangkat kecil bisa begitu menguasai kita, hingga ketika ia dimatikan, terasa ada beban yang terangkat, pikiran yang selama ini terbelenggu tiba-tiba terbebas, dan produktivitas yang lama tertunda mendadak bersemi.

Continue reading

Dicari: Guru Yang Menyenangkan

Ada yang hilang dalam perjalanan pendidikan kita, sesuatu yang seharusnya tumbuh dari dalam universitas keguruan tetapi nyatanya tak pernah benar-benar matang. Sesuatu itu adalah kemampuan mencetak guru yang tidak hanya pandai mengajar, tetapi juga pandai menyentuh hati murid. Universitas keguruan terlalu sering terjebak dalam formalitas, menekankan pada teori yang kaku dan melupakan esensi pendidikan yang lebih lembut, lebih manusiawi. Mereka mengajarkan bagaimana cara mengajar, tetapi lupa mengajarkan bagaimana cara merasakan.

Continue reading