Setiap Agustus tiba, bendera merah putih berkibar di mana-mana, jalan raya ditutup untuk karnaval, dan suara musik riuh menendang udara. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang seharusnya menjadi inti dari peringatan kemerdekaan: rasa syukur yang tulus dan penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan. Euforia Agustusan sering kali hanya menjadi ajang hura-hura, jauh dari napak tilas perjuangan dan semangat pengorbanan yang para pahlawan tunjukkan. Di tengah gegap gempita, makna kemerdekaan itu sendiri kerap tertinggal, tenggelam dalam pesta pora yang dangkal.
Continue readingBaitul Maqdis Dan Ilusi Kemerdekaan
Ketidakadilan di muka bumi adalah cerita lama yang terus berulang, dan Palestina, atau lebih tepatnya Baitul Maqdis, menjadi panggung yang tak henti-hentinya berdarah. Sejarah dunia mencatat dengan jelas, siapa yang merdeka dan siapa yang terjajah? Rakyat Palestina yang diwakili Mujahidin Hamas dan yang lain, meski dikepung dari segala penjuru, memiliki kebebasan yang jarang dimiliki oleh bangsa lain: kebebasan untuk melawan, untuk memperjuangkan hak yang telah dirampas. Mereka terjajah, tetapi jiwa mereka merdeka. Mereka bebas untuk berjuang, meski dengan segala keterbatasan.
Continue readingMenara Prestasi
Di atas menara, kau santri berdiri.
Tanganmu menggenggam piala penuh arti.
MI Manarul Islam Malang kini berseri.
Kemenangan terukir di langit pagi.
Wahai muridku, jangan lupa.
Puncak menara tak sekadar piala.
Adab dan akhlak adalah cahaya.
Menerangi jalan yang sering kita lupa.
Menara prestasi tinggi menopang harapan.
Tapi ingat, pijakanmu adalah kejujuran.
Adab dan akhlak itulah landasan.
Karena tanpa itu menara hanyalah bayangan.
Teruslah melangkah, jangan goyah.
Bawa serta akhlak di tiap langkah.
Karena pemenang sejati bukan di piala yang gemerlap.
Tapi di hati yang ikhlas dan penuh harap.