Sumpek. Jika Al-Qur’an tak bisa menyembuhkanku, tidak ada obat lain yang mampu. Ada yang hilang di abad ini. Kita hidup di tengah keramaian, tapi merasa sepi. Kita punya segalanya, tapi merasa hampa. Penyakit ini bukan fisik, melainkan di dalam hati dan jiwa.
Continue readingKisah Kamu Kafir (Anakku Radikal)
Malam itu, malam Ahad, kami sekeluarga berjalan di trotoar Alun-Alun Kota Malang, menikmati lampu-lampu yang katanya mirip Malioboro. Anak saya, dengan kepolosannya, menanyakan tentang gereja yang ia lihat. “Baba, itu tempat ibadah orang kafir?” tanyanya, dan saya menjawab, “Iya.” Sampai di situ, mungkin cerita ini masih biasa-biasa saja, seperti potongan kecil dari kehidupan sehari-hari.
Continue readingSetelah Membaca Buku Rejection Proof
Bayangkan kita hidup di dunia di mana setiap penolakan adalah lagu patah hati yang terus diputar tanpa henti. Tapi, dari buku Rejection Proof karya Jia Jiang, kita belajar bahwa di balik melodi yang sumbang itu, ada alunan yang sebenarnya bisa membuat kita menari. Kita seringkali merasa dunia ini adalah panggung yang menakutkan, dan ketakutan terbesar kita adalah ketika panggung itu mematikan lampu sorotnya ke arah kita, saat kita ditolak, dicemooh, atau diabaikan. Namun, bukankah itu justru menjadi panggilan untuk bermain lebih bebas?
Continue reading