Masa Depan Paling Depan

Sebagai seorang ayah sekaligus seorang guru, ada satu kegelisahan yang sering mengusik hati terdalam saya. Bagaimana cara “mencuci otak” anak-anak kita? Bukan dengan propaganda, bukan dengan janji-janji dunia, tapi dengan menanamkan dalam jiwa mereka, bahwa kesuksesan yang hakiki bukanlah tentang “muda kaya-raya, tua foya-foya.” Kesuksesan sejati adalah ketika kedua kaki kita masuk ke dalam surga, tempat yang dijanjikan Allah bagi mereka yang hidup dengan iman dan amal baik.

Continue reading

Setelah Membaca Buku Manusia Indonesia

Membaca “Manusia Indonesia” karya Mochtar Lubis, saya—seorang guru—duduk lama memandangi jendela, memikirkan anak-anak di kelas saya, memikirkan diri saya. Mochtar Lubis melukis karakter “manusia Indonesia” dengan garis-garis tegas: manusia yang penuh kepura-puraan, takut pada tanggung jawab, dan terbelenggu oleh feodalisme. Sederhana, tetapi begitu tajam. Saya merasa ditampar oleh kata-kata yang menohok, karena mungkin tanpa sadar, saya telah ikut membentuk generasi yang seperti itu—generasi yang takut untuk berbeda, takut untuk berpikir.

Continue reading

Kritik Itu Obat Itu Pahit

Hidup ini penuh dengan warna, kawan. Kadang kita serasa terbang di atas awan, kadang kita tersungkur di lumpur kehidupan. Dalam perjalanan ini, ada satu hal yang selalu hadir, entah dengan cara yang halus atau keras: kritik. Kritik itu bisa datang seperti bisikan lembut yang mengingatkan, atau mungkin dengan keras seperti tamparan yang membuat kita terjaga. Dan, kita tahu, kritik itu pahit. Tapi, bukankah obat yang paling mujarab seringkali terasa paling pahit?

Continue reading