“Pancasila itu tidak ada,” begitu kata Sujiwo Tejo, seolah mengajak kita menatap bayang-bayang di cermin, melihat sesuatu yang mestinya ada tapi hilang entah ke mana. Kalau Pancasila ada, seharusnya air tak perlu dibayar mahal oleh rakyatnya sendiri. Kalau Pancasila hidup dalam denyut nadi bangsa ini, mengapa biaya BPJS sering kali menjadi jerat bagi mereka yang sudah pmiskin apa? Bukankah air itu pemberian Allah, yang seharusnya mengalir bebas seperti udara? Bukankah sila kelima berbicara tentang “Keadilan Sosial bagi Seluruh Rakyat Indonesia”?
Continue readingSetelah Membaca Novel Kemi
Novel “Kemi” adalah sebuah cermin. Cermin besar yang menghadap kita, terutama bagi mereka yang bertanggung jawab mendidik generasi muda. Ustadz Adian Husaini dengan tajam menggambarkan dunia Kemi, seorang remaja yang berada di persimpangan zaman—ditarik antara idealisme Islam dan hegemoni pemikiran modern yang kerap kali menggiring pada sekularisme, liberalisme, dan hedonisme. Buku ini adalah alarm, memperingatkan bahwa pendidikan dan media sering kali mengabaikan inti dari pembentukan karakter yang Islami.
Continue readingTua Itu Pasti, Dewasa Itu Pilihan
Kawan, usia adalah angka, tapi kedewasaan adalah cerita. Kita melihat banyak orang yang tubuhnya telah menua, tapi jiwanya masih seperti bocah. Tengoklah, orang tua yang menelantarkan anaknya, ayah yang masih merokok di depan anak-anaknya, seolah lupa bahwa tanggung jawab tak sekadar pada diri sendiri. Kedewasaan, bukan sekadar soal rambut yang memutih, tetapi soal bijak melihat hidup, dan berani mengambil tanggung jawab.
Continue reading