Setelah Membaca Buku Rejection Proof

Bayangkan kita hidup di dunia di mana setiap penolakan adalah lagu patah hati yang terus diputar tanpa henti. Tapi, dari buku Rejection Proof karya Jia Jiang, kita belajar bahwa di balik melodi yang sumbang itu, ada alunan yang sebenarnya bisa membuat kita menari. Kita seringkali merasa dunia ini adalah panggung yang menakutkan, dan ketakutan terbesar kita adalah ketika panggung itu mematikan lampu sorotnya ke arah kita, saat kita ditolak, dicemooh, atau diabaikan. Namun, bukankah itu justru menjadi panggilan untuk bermain lebih bebas?

Continue reading

Setelah Membaca Buku Ayat-Ayat yang Disembelih

Ada hal-hal yang tidak boleh kita lupakan, meski waktu sering kali membuat kita lengah. Buku “Ayat-Ayat yang Disembelih” oleh Anab Afifi dan Thowaf Zuharon adalah pengingat keras akan sebuah luka lama yang menganga di tubuh bangsa ini. Luka yang dihasilkan dari ideologi yang datang dengan wajah ramah, berjanji kesejahteraan, tetapi meninggalkan genangan darah dan kesedihan.

Continue reading

Setelah Nonton Film 127 Hours

Menonton 127 Hours adalah menyaksikan perlawanan manusia terhadap keterbatasan dirinya sendiri. Film ini mengisahkan perjuangan Aron Ralston, seorang pendaki yang terperangkap di antara batu besar selama 127 jam, dengan pilihan hidup yang sangat terbatas: tetap di tempat dan mati, atau memotong lengannya sendiri untuk hidup. Ini adalah momen di mana segala teori tentang kehendak bebas diuji, dipaksa menghadapi realitas yang brutal, tanpa kompromi.

Continue reading