Setelah 80 Tahun dan 680 Hari: Perlukah Proklamasi Ulang?

Dari Sabang Sampai Gaza

Tujuh belas Agustus tahun dua ribu dua puluh lima. Catat tanggal itu. Di seluruh penjuru negeri, dari Sabang sampai Merauke, spanduk-spanduk akan terpasang. Tiang-tiang bendera akan berdiri gagah. Indonesia akan berusia 80 tahun. Sebuah angka yang bulat, sebuah usia yang matang.

Di hari yang sama, di secuil tanah bernama Gaza, sebuah genosida sudah berjalan 680 hari. Angka yang ganjil, angka yang berdarah. Di sana, nyawa manusia lebih murah dari nyawa nyamuk yang berdengung di telinga kita saat malam hari.

Continue reading

Ide Pendidikan dari Bapak Pendidikan Indonesia (yang Tidak Resmi)

Bukan Dewa-Dewa, tapi Tuhan yang Maha Esa

Bangsa ini mengenal satu nama besar sebagai kompas pendidikannya. Ki Hajar Dewantara. Pemerintah menobatkannya sebagai Bapak Pendidikan Nasional. Falsafahnya dihafal di luar kepala oleh para guru dan calon guru: Ing Ngarso Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karso, Tut Wuri Handayani. Di depan memberi teladan, di tengah membangun semangat, di belakang memberi dorongan. Indah, dan tidak ada yang salah dengan itu.

Dia lahir dengan nama Raden Mas Soewardi Soerjaningrat. Nama yang ningrat, nama yang Jawa. Lalu dia menanggalkan kebangsawanannya, memilih menjadi rakyat biasa, dan menyematkan nama baru di dadanya: Ki Hajar Dewantara. Mungkin tidak banyak yang berhenti sejenak untuk menguliti arti nama itu. Padahal, nama adalah doa.

Continue reading

Falsafah Tukang Parkir dan Pelancong

Menemukan Ketenangan dan Ketegaran dalam Perjalanan Hidup

Lihatlah dia. Lelaki dengan rompi oranye pudar di depan lobi hotel yang menyilaukan. Ferrari merah berhenti, mesinnya menggeram pelan. Si lelaki sigap membuka pintu. Kunci berpindah tangan. Dia memarkir mobil seharga miliaran itu tanpa getar di hati. Nanti malam, atau besok pagi, pemiliknya akan kembali. Mobil itu akan pergi. Dia tahu itu. Dia tidak pernah berpikir mobil itu miliknya.

Sekarang lihat yang lain. Seorang pengembara dengan ransel usang, duduk di warung pinggir jalan sebuah kota yang asing. Dia makan dengan lahap, memandang lalu-lalang. Kota ini indah, mungkin. Tapi dia tidak akan membangun rumah di sini. Dia hanya singgah. Mengisi perut, menghela napas, lalu melanjutkan perjalanan. Kampung halamannya menunggu.

Dua orang ini, tukang parkir dan pelancong, adalah kita. Atau setidaknya, bagaimana seharusnya kita memandang hidup. Di dalam gerak-gerik mereka yang sederhana, tersimpan falsafah paling dalam untuk menavigasi dunia yang bising ini. Falsafah yang jika kita pegang erat, akan melahirkan ketenangan baja dan ketegaran batu karang.

Continue reading