Menemukan Ketenangan dan Ketegaran dalam Perjalanan Hidup
Lihatlah dia. Lelaki dengan rompi oranye pudar di depan lobi hotel yang menyilaukan. Ferrari merah berhenti, mesinnya menggeram pelan. Si lelaki sigap membuka pintu. Kunci berpindah tangan. Dia memarkir mobil seharga miliaran itu tanpa getar di hati. Nanti malam, atau besok pagi, pemiliknya akan kembali. Mobil itu akan pergi. Dia tahu itu. Dia tidak pernah berpikir mobil itu miliknya.
Sekarang lihat yang lain. Seorang pengembara dengan ransel usang, duduk di warung pinggir jalan sebuah kota yang asing. Dia makan dengan lahap, memandang lalu-lalang. Kota ini indah, mungkin. Tapi dia tidak akan membangun rumah di sini. Dia hanya singgah. Mengisi perut, menghela napas, lalu melanjutkan perjalanan. Kampung halamannya menunggu.
Dua orang ini, tukang parkir dan pelancong, adalah kita. Atau setidaknya, bagaimana seharusnya kita memandang hidup. Di dalam gerak-gerik mereka yang sederhana, tersimpan falsafah paling dalam untuk menavigasi dunia yang bising ini. Falsafah yang jika kita pegang erat, akan melahirkan ketenangan baja dan ketegaran batu karang.
Continue reading →