Gaza Mengancam
Di dunia, orang bangkrut kehilangan uang. Di akhirat, orang bangkrut kehilangan pahala.
Di dunia, orang pailit dikejar bank. Di akhirat, orang pailit dikejar manusia yang pernah dia dzolimi.
Dan hari ini, di tengah darah Gaza yang terus mengalir, ancaman pailit itu tidak terasa jauh. Dia mengetuk pintu rumah kita. Dia mengetuk pintu masjid kita. Dia mengetuk pintu hati umat Muslim sedunia.
Kita boleh merasa aman karena sholat. Kita boleh merasa tenang karena puasa. Kita boleh merasa cukup karena sedekah. Tapi Nabi Muhammad ﷺ pernah mengajarkan bahwa ada orang datang pada hari kiamat membawa sholat, puasa, dan zakat, lalu pulang sebagai orang bangkrut.
Mengapa?
Karena dia mendzolimi manusia.
Dua Jalan Menuju Kebangkrutan
Ada dua jalan menuju pailit akhirat.
Pertama, amal ibadah tertolak. Sebab amalnya tidak ikhlas. Atau tidak sesuai sunnah Nabi ﷺ.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya amal itu tergantung niat.” Maka ibadah bukan hanya soal gerak badan. Bukan soal seberapa sering orang melihat kita di masjid. Bukan soal seberapa keras suara kita bicara agama. Allah melihat hati.
Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa siapa yang membuat perkara baru dalam agama yang bukan ajaran beliau, maka amal itu tertolak. Artinya, ibadah tidak boleh dikarang oleh selera. Ukuran amal bukan “menurut saya baik”. Ukurannya adalah: apakah Allah ridha dan Rasulullah ﷺ memberi contoh?
Bangkrut pertama ini sunyi. Orang mengira sedang menabung pahala. Padahal yang dia kumpulkan hanya gerak tubuh tanpa ruh ikhlas dan tanpa jejak Sunnah.
Kedua, orang bangkrut karena pahalanya habis untuk membayar kedzoliman kepada manusia.
Inilah yang lebih menakutkan.
Orang Muflis yang Membawa Banyak Amal
Dalam hadis riwayat Muslim, Nabi ﷺ bertanya kepada para sahabat, “Tahukah kalian siapa orang bangkrut?”
Para sahabat menjawab, orang bangkrut adalah orang yang tidak punya dinar dan dirham.
Nabi ﷺ lalu menjelaskan. Orang bangkrut dari umat beliau adalah orang yang datang pada hari kiamat membawa sholat, puasa, dan zakat. Tetapi dia pernah mencaci orang. Menuduh orang. Memakan harta orang. Menumpahkan darah orang. Memukul orang.
Maka pahalanya diberikan kepada korban-korbannya. Jika pahalanya habis, dosa korban dipindahkan kepadanya. Lalu dia dilemparkan ke neraka.
Imam an-Nawawi menjelaskan makna ini dengan nada yang keras: orang seperti itu adalah muflis yang hakiki. Bukan sekadar miskin. Tetapi hancur. Sebab semua simpanan amalnya disita untuk membayar tuntutan manusia.
Di dunia, orang dzolim bisa punya pengacara. Bisa punya buzzer. Bisa punya jabatan. Bisa punya konferensi pers. Tapi di akhirat tidak ada panggung. Tidak ada mikrofon. Tidak ada pengawal. Yang ada hanya catatan amal dan korban yang menuntut.
Gaza Bukan Sekadar Berita Luar Negeri
Lalu datanglah Gaza. Genosida.
Sebagian orang menganggapnya berita luar negeri. Seolah-olah Gaza hanya urusan peta. Urusan politik. Urusan orang nun jauh di sana.
Padahal di sana ada anak-anak kecil. Ada ibu yang kehilangan bayinya. Ada ayah yang mengangkat jenazah putra-putrinya. Ada dokter yang bekerja tanpa alat. Ada keluarga yang hidup di tenda. Ada manusia yang lapar, luka, terusir, lalu tetap mengucapkan hasbunallah wa ni’mal wakil.
Mereka bukan angka.
Mereka bukan konten.
Mereka saudara kita.
Allah berfirman bahwa orang-orang beriman itu bersaudara. Nabi ﷺ menganalogikan kaum mukmin seperti satu tubuh. Jika satu bagian sakit, bagian lain ikut merasa sakit.
Maka pertanyaan Gaza bukan hanya: apa sikap politik kita?
Pertanyaannya lebih tajam: masih hidupkah iman kita?
Apakah Diam Bisa Menjadi Kedzoliman?
Tidak semua orang mampu melakukan hal besar. Ini harus jelas.
Islam adil. Allah berfirman, “Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai kesanggupannya.” Maka tukang becak tidak dituntut menjadi presiden. Guru honorer tidak dituntut menjadi raja. Ibu rumah tangga tidak dituntut membuka jalur diplomasi. Pelajar tidak dituntut mengendalikan tentara.
Tetapi semua orang tetap ditanya sesuai kemampuan.
Ada yang mampu berdoa. Ada yang mampu berdonasi. Ada yang mampu mendidik anaknya tentang Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho. Ada yang mampu menyebarkan informasi. Ada yang mampu ikut aksi damai. Ada yang mampu menulis. Ada yang mampu memboikot produk yang terbukti mendukung penjajah teroris zionis yahudi israel.
Yang berbahaya bukan orang yang benar-benar tidak mampu.
Yang berbahaya adalah orang yang mampu, tetapi pura-pura tidak mampu.
Dia bisa berdonasi, tapi memilih belanja untuk gengsi. Dia bisa bersuara, tapi takut kehilangan citra. Dia punya ilmu, tapi diam. Dia punya mimbar, tapi sibuk membahas tema yang aman. Dia punya jabatan, tapi bersembunyi di balik kalimat diplomatik.
Gaza sedang menguji satu pertanyaan besar: kita benar-benar tidak mampu, atau hanya tidak mau terganggu?
Jika Raja Hanya Mengecam
Rakyat kecil boleh hanya mengecam jika memang hanya itu yang dia mampu. Tukang becak juga bisa mengecam. Pedagang kaki lima juga bisa mengecam. Ibu rumah tangga juga bisa mengecam. Santri juga bisa mengecam.
Tapi jika presiden hanya mengecam, itu masalah.
Jika raja hanya berkata “kami prihatin”, itu kelucuan yang menyakitkan.
Sebab raja punya istana. Presiden punya negara. Pemerintah punya kementerian luar negeri. Mereka punya kas negara. Mereka punya hubungan dagang. Mereka punya forum internasional. Mereka punya kuasa yang tidak dimiliki rakyat kecil.
Maka kewajiban mereka juga lebih besar.
Kecaman adalah senjata rakyat kecil. Tetapi bagi raja dan presiden, kecaman saja adalah tanda miskin keberanian.
Jangan Menjadi Penonton Bersorban
Ulama, dai, dan intelektual Muslim juga tidak boleh menjadi penonton bersorban.
Mereka punya ilmu. Punya mimbar. Punya jamaah. Punya pengaruh. Jika rakyat awam diam karena tidak tahu, ulama harus mengajar. Tetapi jika ulama diam padahal tahu, diam itu bisa menjadi bagian dari masalah.
Mimbar yang tidak pernah menyebut penderitaan umat bisa kehilangan ruh kenabian. Kajian yang hanya bicara kesalehan pribadi, tapi tidak pernah menyentuh kedzoliman sosial, akan melahirkan Muslim yang rapi ibadahnya tetapi tumpul nuraninya.
Nabi ﷺ bukan hanya mengajarkan sholat. Beliau juga membela yang tertindas.
Jangan Sampai Pahala Kita Disita
Bayangkan seseorang rajin sholat. Rajin puasa. Rajin umrah. Rajin kajian.
Tetapi dia menertawakan Gaza. Menghina korban. Menyebarkan narasi penjajah. Menganggap genosida sebagai drama politik biasa. Punya kuasa untuk membantu, tetapi memilih diam.
Apakah amalnya aman?
Apakah pahalanya tidak akan dituntut?
Kita tidak sedang memvonis individu. Hanya Allah yang tahu kadar kemampuan dan kelalaian setiap hamba. Tetapi peringatan ini harus mengguncang hati kita.
Jangan sampai sholat kita berdiri tegak, tetapi nurani kita sujud kepada kenyamanan.
Jangan sampai puasa kita menahan lapar, tetapi hati kita kenyang melihat saudara sendiri kelaparan.
Sebelum Dituntut, Jawablah Sekarang
Maka bergeraklah sesuai kemampuan.
Berdoalah untuk Gaza. Berdonasilah meski kecil. Edukasi keluarga. Jaga isu ini tetap hidup. Ikut aksi damai. Tekan wakil rakyat dengan cara yang benar. Hindari hoaks. Jangan jadikan luka Gaza sebagai konten murahan.
Orang kaya, bantu dengan harta besar.
Ulama, bimbing umat.
Pemimpin, berhentilah menjadikan kecaman sebagai puncak keberanian.
Kelak, ketika manusia berdiri di hadapan Allah, tidak ada lagi konferensi pers. Tidak ada lagi alasan diplomatik. Tidak ada lagi kalimat “kami mengecam keras.”
Yang ada hanya catatan amal.
Yang ada hanya korban yang menuntut.
Yang ada hanya satu pertanyaan: ketika saudaramu dihancurkan, apa yang sudah kamu lakukan sesuai kemampuanmu?
Sebelum Muslim sedunia pailit di akhirat, bertaubatlah! Bergeraklah! Dan berhentilah menjadikan kecaman sebagai pengganti keberanian.