Agar Tidak Mati Berdiri

Seni Menjadi Hamba di Panggung Takdir

Manusia adalah navigator ulung. Setidaknya, begitu anggapan kita. Di kepala kita, ada peta kehidupan yang tergambar dengan detail presisi. Garis-garisnya tajam: lulus kuliah umur 22, kerja di perusahaan multinasional umur 25, menikah umur 28, punya rumah sebelum 30, anak pertama laki-laki, anak kedua perempuan. Semuanya terukur. Semuanya terkendali.

Kita memegang kemudi kapal kita dengan erat. Kita merasa tahu ke mana angin akan berembus dan kapan ombak akan datang.

Tapi lautan tidak selamanya jinak. Ada kalanya badai datang tanpa diundang. Badai itu bernama takdir Allah. Ia menghantam tanpa ampun, merobek layar harapan kita, mematahkan tiang rencana kita. Peta yang kita banggakan itu mendadak jadi secarik kertas basah tidak berguna. Impian yang dirajut putus. Harapan yang digantungkan jatuh berkeping-keping.

Continue reading

Jadilah Pelaku, Bukan Pemikir

Unik Tapi Aneh

Manusia itu makhluk aneh. Unik. Diberi anugerah paling mewah bernama akal, tapi sering kali malah menggunakannya untuk menyiksa diri sendiri. Semakin pintar otaknya, semakin canggih pula dia merakit alasan. Alasan untuk tidak memulai. Alasan untuk menunda. Alasan untuk tetap meringkuk di tempat yang disebut ‘zona nyaman’, padahal itu tidak lebih dari sebuah sangkar emas yang indah.

Continue reading

Dua Saja Kunci Sukses

Sebuah Manual Spiritual

Hidup ini kadang terasa seperti sirkus, bukan? Semua orang sibuk berakrobat di atas tali, mengejar tepuk tangan yang kadang tidak terdengar, atau jatuh dengan luka yang tidak terlihat. Mereka bicara “sukses”, tapi entah apa definisi pastinya. Mungkin setumpuk uang di bank? Atau kursi empuk di gedung tinggi? Atau nama yang nangkring di mana-mana? Ironisnya, banyak yang berhasil meraih itu semua, lalu mendapati diri mereka berdiri di tengah padang pasir, kering, hampa. Jadi, sukses macam apa itu?

Continue reading