Seni Menjadi Hamba di Panggung Takdir
Manusia adalah navigator ulung. Setidaknya, begitu anggapan kita. Di kepala kita, ada peta kehidupan yang tergambar dengan detail presisi. Garis-garisnya tajam: lulus kuliah umur 22, kerja di perusahaan multinasional umur 25, menikah umur 28, punya rumah sebelum 30, anak pertama laki-laki, anak kedua perempuan. Semuanya terukur. Semuanya terkendali.
Kita memegang kemudi kapal kita dengan erat. Kita merasa tahu ke mana angin akan berembus dan kapan ombak akan datang.
Tapi lautan tidak selamanya jinak. Ada kalanya badai datang tanpa diundang. Badai itu bernama takdir Allah. Ia menghantam tanpa ampun, merobek layar harapan kita, mematahkan tiang rencana kita. Peta yang kita banggakan itu mendadak jadi secarik kertas basah tidak berguna. Impian yang dirajut putus. Harapan yang digantungkan jatuh berkeping-keping.
Continue reading