Wajib Egois
Kita sering dilarang menjadi egois.
Tentu saja, itu nasihat yang benar.
Orang egois biasanya menyebalkan. Dia ingin menang sendiri. Dia memikirkan dirinya sendiri. Dia ingin dilayani, dipuji, didengar, dan dimenangkan.
Tapi ada satu jenis egois yang justru wajib dimiliki setiap Muslim.
Egois untuk menyelamatkan diri sendiri.
Bukan dari kemiskinan.
Bukan dari kekalahan.
Bukan dari omongan orang.
Tapi dari neraka.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.” (QS. At-Tahrim: 6)
Perhatikan baik-baik.
Jagalah dirimu.
Baru keluargamu.
Sebab orang yang tidak sanggup menjaga dirinya sendiri sering kali hanya pandai memberi nasihat kepada orang lain. Dia sibuk mengurus dosa orang. Sibuk menilai amal orang. Sibuk mengukur surga dan neraka untuk orang lain.
Sementara hatinya sendiri berantakan.
Maka, dalam urusan akhirat, hidup memang harus egois.
Egois dalam memperbaiki niat.
Egois dalam mengejar pahala.
Egois dalam menjaga diri dari dosa.
Egois dalam memburu surga tertinggi.
Keraslah kepada Diri Sendiri
Jangan terlalu keras kepada orang lain.
Keraslah kepada diri sendiri.
Setiap selesai beramal, tanyakan kepada hati: ini untuk Allah atau untuk manusia?
Setiap memberi, tanyakan: ini sedekah atau sedang mencari nama?
Setiap bicara agama, tanyakan: ini nasihat atau hanya ingin menang?
Pertanyaan seperti ini tidak enak. Tapi perlu.
Sebab amal bisa tampak indah dari luar, tetapi rusak dari dalam. Seperti buah yang kulitnya mulus, namun isinya sudah dimakan ulat.
Riya’ adalah ulatnya amal.
Sum’ah adalah ulatnya amal.
Ingin dipuji adalah ulatnya amal.
Nabi ﷺ bersabda:
“Sesungguhnya amal itu tergantung niatnya.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim)
Jadi jangan merasa aman hanya karena sudah sholat, sedekah, puasa, mengaji, atau berdakwah.
Semua amal itu masih harus melewati pintu niat.
Apakah benar karena Allah?
Setelah niat, ada pintu kedua: sesuai sunnah.
Apakah ibadah kita sudah mengikuti Nabi Muhammad ﷺ?
Fudhail bin Iyadh, seorang ulama besar, pernah menjelaskan bahwa amal terbaik adalah amal yang paling ikhlas dan paling benar. Ikhlas karena Allah. Benar karena sesuai sunnah Rasulullah ﷺ.
Itu penting.
Sebab amal tidak cukup hanya semangat.
Tidak cukup hanya banyak.
Tidak cukup hanya kelihatan baik.
Amal harus ikhlas dan benar.
Di sinilah seorang Muslim harus egois. Dia harus ketat kepada dirinya sendiri. Dia tidak mudah memberi alasan. Dia tidak mudah memaafkan kelalaian hatinya sendiri.
Jangan berkata, “Yang penting niatnya baik,” lalu beribadah sesuka hati.
Jangan pula berkata, “Yang penting sesuai sunnah,” tetapi hati penuh kesombongan.
Dua-duanya harus dijaga.
Ikhlasnya.
Benarnya.
Tamaklah kepada Pahala
Tamak kepada dunia itu penyakit.
Orang yang tamak harta tidak pernah selesai lapar. Punya satu, ingin dua. Punya dua, ingin tiga. Begitu terus sampai tanah kuburan memenuhi mulutnya.
Tapi tamak kepada pahala?
Itu bagus.
Itu perlu.
Seorang Muslim harus serakah dalam kebaikan. Ketika melihat orang bersedekah, hatinya bergerak. Ketika melihat orang rajin sholat malam, dia malu. Ketika melihat orang mudah memaafkan, dia ingin belajar.
Bukan dengki.
Tapi ingin ikut baik.
Allah berfirman:
“Maka untuk yang demikian itu, hendaknya orang berlomba-lomba.” (QS. Al-Muthaffifin: 26)
Berlomba.
Bukan berjalan malas.
Bukan menunggu tua.
Bukan menunggu kaya.
Bukan menunggu hati siap.
Kebaikan tidak selalu menunggu kita siap. Kadang justru kita harus memaksa diri agar siap.
Umar bin Al-Khattab pernah datang kepada Rasulullah ﷺ membawa separuh hartanya untuk infak. Hari itu dia berharap bisa mengalahkan Abu Bakar.
Lalu Abu Bakar datang membawa seluruh hartanya.
Ketika Nabi ﷺ bertanya, “Apa yang engkau tinggalkan untuk keluargamu?”
Abu Bakar menjawab, “Aku tinggalkan Allah dan Rasul-Nya.”
Umar kalah.
Tapi itu kekalahan yang indah.
Kalah dari orang yang lebih rakus dalam kebaikan.
Begitulah seharusnya kita.
Jangan iri kepada rumah orang.
Jangan iri kepada kendaraan orang.
Jangan iri kepada jabatan orang.
Irilah kepada orang yang lebih banyak sujudnya.
Irilah kepada orang yang lebih ringan sedekahnya.
Irilah kepada orang yang lebih bersih lisannya.
Irilah kepada orang yang lebih cepat minta maafnya.
Setiap malam, tanyakan kepada diri sendiri:
Apakah amalku hari ini lebih baik dari kemarin?
Apakah dosaku hari ini lebih sedikit dari kemarin?
Kalau jawabannya tidak, kita sedang rugi.
Dan orang rugi tidak selalu tampak sedih. Kadang dia tertawa. Kadang dia makan enak. Kadang dia terlihat sukses.
Tapi catatan amalnya bocor.
Seperti ember tua.
Biarkan Orang Bicara
Banyak orang gagal berbuat baik bukan karena tidak mampu.
Tapi karena takut komentar.
Mau sedekah, takut disebut pamer.
Mau hijrah, takut disebut sok suci.
Mau belajar agama, takut disebut berubah.
Mau minta maaf, takut dianggap lemah.
Akhirnya dia diam.
Dia tidak jadi melakukan apa-apa.
Hidupnya jadi tawanan mulut orang.
Padahal manusia memang suka bicara. Kalau kita diam, mereka bicara. Kalau kita bergerak, mereka bicara. Kalau kita jatuh, mereka bicara. Kalau kita bangkit, mereka tetap bicara.
Lalu sampai kapan kita hidup untuk menyenangkan mereka?
Maka egoislah.
Pikirkan penilaian Allah.
Bukan komentar manusia.
Bukan tepuk tangan.
Bukan status.
Bukan citra diri.
Nabi ﷺ mengajarkan bahwa siapa mencari ridho Allah meski manusia marah, Allah akan mencukupinya. Tetapi siapa mencari ridho manusia dengan membuat Allah murka, dia akan diserahkan kepada manusia.
Itu mengerikan.
Sebab manusia tidak bisa memberi surga. Mereka bahkan tidak bisa menjamin dirinya sendiri selamat.
Jadi, tetaplah berbuat baik.
Kalau dicela, lanjutkan.
Kalau disalahpahami, jelaskan seperlunya.
Kalau tidak perlu dijelaskan, tinggalkan.
Kalau dibalas buruk, balas dengan baik selama tidak membuat kedzoliman makin besar.
Bukan karena kita lemah.
Tapi karena kita sedang mengurus hati di hadapan Allah.
Itulah egois yang benar.
Egois yang membuat hati tidak tunduk kepada komentar manusia.
Mintalah Surga Tertinggi
Sebagian orang merasa cukup menjadi Muslim biasa-biasa saja.
Sholat bolong sedikit, tidak apa-apa.
Ghibah sedikit, tidak apa-apa.
Lalai sedikit, tidak apa-apa.
Dosa kecil sedikit, tidak apa-apa.
Masalahnya, sedikit yang dikumpulkan setiap hari akan menjadi banyak.
Setetes demi setetes, ember penuh juga.
Dosa kecil yang dipelihara bisa menjadi gunung. Apalagi jika hati sudah tidak merasa bersalah.
Padahal Nabi ﷺ mengajarkan kita punya ambisi besar.
Beliau bersabda:
“Jika kalian meminta kepada Allah surga, mintalah Firdaus.” (HR. Al-Bukhori)
Firdaus.
Surga tertinggi.
Bukan sekadar asal masuk surga.
Bukan sekadar selamat.
Bukan sekadar berada di pinggirannya.
Mintalah yang paling tinggi.
Tapi doa seperti itu harus dibayar dengan hidup yang serius.
Tidak pantas seseorang meminta Firdaus, sementara sholat Subuhnya sering kalah oleh selimut.
Tidak pantas seseorang meminta kedudukan tinggi, sementara lisannya sibuk merobek kehormatan orang.
Tidak pantas seseorang ingin dekat dengan Nabi ﷺ, sementara sunnahnya dipilih-pilih sesuai selera.
Kita harus punya mental pemburu.
Pemburu ampunan.
Pemburu pahala.
Pemburu ridho Allah.
Allah berfirman:
“Berlomba-lombalah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga yang luasnya seluas langit dan bumi.” (QS. Al-Hadid: 21)
Berlomba berarti ada yang cepat dan ada yang lambat.
Ada yang bangun malam, ada yang tenggelam dalam WA.
Ada yang menahan marah, ada yang merawat dendam.
Ada yang memaafkan, ada yang menyimpan luka seperti pusaka.
Ada yang sibuk memperbaiki diri, ada yang sibuk menguliti orang lain.
Kita mau jadi yang mana?
Egois Sebelum Hisab
Pada hari kiamat, semua orang sibuk.
Ibu lupa anak.
Anak lupa ayah.
Sahabat lupa sahabat.
Tidak ada yang sempat mengurus citra kita. Tidak ada yang sempat membela kita. Tidak ada yang sempat memberi tepuk tangan.
Semua datang sendiri-sendiri.
Allah menyebutnya dalam Al-Qur’an dengan kata fardan: seorang diri.
Di sana tidak ada followers.
Tidak ada komentar.
Tidak ada panggung.
Tidak ada alasan yang bisa dibuat-buat.
Yang ada hanya amal.
Maka sebelum sibuk menilai orang lain, nilailah diri sendiri.
Sebelum sibuk mengukur dosa orang lain, ukurlah dosa sendiri.
Sebelum sibuk mengurus hisab orang lain, siapkan jawaban untuk hisab sendiri.
Hidup haruslah egois.
Egois menjaga niat.
Egois mengikuti sunnah.
Egois menambah pahala.
Egois mengurangi dosa.
Egois tetap berbuat baik meski dicela.
Egois meminta Firdaus dan mengejarnya sampai napas terakhir.
Sebab pada akhirnya, setiap orang akan pulang kepada Allah membawa dirinya sendiri.
Dan pada hari itu, orang yang dulu egois dalam kebaikan akan bersyukur.
Karena dia tidak menghabiskan hidupnya hanya untuk menyenangkan dunia.