Burungku Sakit

Burungku, yang dulu terbang tinggi tanpa ragu
Dengan sayap perkasa membelah langit biru
Kini terkapar di dahan yang rapuh
Tertatih-tatih di bawah bayang kekuasaan yang membatu

Dulu, angin membawanya menari di atas awan
Kini, rantai-rantai tak terlihat mencekik perlahan
Oligarki dan politik dinasti, bak racun yang merayap diam-diam
Menggerogoti semangat yang dulu tak pernah tenggelam

Burungku sekarat, bukan karena usia
Tapi karena nestapa, karena cinta yang dipaksa buta
Pada kepentingan yang sempit, pada harta nafsu durjana
Ia merintih dalam bisu, menunggu pagi yang tak kunjung tiba

Tapi Garudaku takkan sirna
Dalam dadanya, masih tersimpan cahaya
Kecil, namun berani menantang sang pemilik tahta
Menentang mereka yang ingin merenggut kebebasan terakhirnya

Burungku sakit, tapi ia belum kalah
Selama masih ada yang percaya
Bahwa langit itu luas, dan angin masih setia
Membawanya terbang kembali ke rumah Pancasila

Mau Sekolah, Enggan Belajar

Ada yang aneh di negeri kita ini, kawan. Anak-anak berangkat ke sekolah setiap hari, rapi dengan seragam, buku tebal di tangan. Tapi, coba perhatikan lebih dekat—mereka datang bukan dengan semangat belajar, tapi dengan beban di pundak. Mau sekolah, tapi enggan belajar. Ini bukan masalah malas atau bodoh, tapi mungkin kita sebagai sistem pendidikan yang membuat mereka begini.

Continue reading

Setelah Nonton Film Bad Genius

(Disclaimer: Bad Genius bukanlah film islami.)

Bad Genius adalah sebuah film yang berputar di antara kecerdasan, ambisi, dan moralitas. Film ini, dengan cara yang elegan namun tajam, membawa kita pada dunia di mana tekanan akademis begitu berat hingga mendorong murid-murid cerdas ke jalan yang salah. Dalam ketegangan dan drama yang terjalin rapi, kita diperlihatkan bagaimana sistem yang kaku bisa menyesatkan, bagaimana kreativitas terperangkap dalam batasan, dan bagaimana hubungan manusia sering kali terabaikan di tengah kompetisi yang sengit.

Continue reading