Jokowi Adalah Kami

Ada kalanya kita perlu merenung dalam-dalam tentang hubungan antara pemimpin dan rakyat, seperti hubungan cermin dan bayangan. “Jokowi adalah kami,” sebuah kalimat sederhana namun sarat makna, mengingatkan kita bahwa seorang pemimpin tidak lahir dari ruang hampa. Pemimpin, siapa pun dia, adalah cerminan dari rakyat yang diwakilinya—baik buruknya pemimpin adalah refleksi dari baik buruknya rakyat.

Continue reading

Setelah Membaca Novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar

Membaca novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar karya Tere Liye adalah pengalaman yang menyentuh saraf-saraf terdalam tentang apa itu kebijaksanaan dan pengetahuan. Sebagai seorang guru, saya melihat novel ini sebagai ajakan untuk menantang status quo, untuk mempertanyakan apa yang sering kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Kebodohan yang dimaksud di sini bukanlah ketidaktahuan, melainkan keberanian untuk keluar dari jerat pikiran yang seragam, dari definisi ‘pintar’ yang sering kali mengekang kreativitas dan keaslian diri.

Continue reading

Setelah Membaca Novel Negeri Para Bedebah

Membaca novel Negeri Para Bedebah itu seperti duduk di warung kopi, menyaksikan bagaimana dunia ini berjalan di belakang layar. Sebagai guru, saya tak bisa menahan diri untuk merenung, mengingat kembali tujuan dari pendidikan yang sebenarnya. Tere Liye dengan lihai merajut kisah Thomas, seorang konsultan keuangan, yang terjebak dalam jaring kekuasaan dan kepentingan. Dunia yang ia hadapi begitu gelap, penuh intrik dan tipu daya. Dan sebagai guru, saya merasa tertampar—apakah kita, dalam mendidik generasi muda, hanya melahirkan orang-orang pintar tanpa adab dan kehilangan arah?

Continue reading