Ada sebuah kerisauan yang menghantui, sebuah keresahan yang pelan-pelan menyelinap ke dalam hati ketika melihat data dari UNESCO yang menyatakan minat baca masyarakat Indonesia hanya 0,001%. Ini bukan sekadar angka, tapi seperti tanda tanya besar yang menggantung di langit nusantara. Sebagai seorang ayah sekaligus guru, saya bertanya-tanya, apakah literasi sudah benar-benar mati di negeri ini?
Continue readingMerindukan Ibu Negara Berjilbab
Menjadi negara dengan penduduk mayoritas Muslim, Indonesia seolah menyimpan paradoks di dalamnya. Sejauh ingatan saya, belum ada satu pun ibu negara yang mengenakan jilbab dalam kehidupan sehari-hari. Ini bukan soal politik identitas, melainkan refleksi dari sebuah kenyataan: begitu sulitkah kita, sebagai bangsa, untuk memiliki seorang ibu negara yang menjalankan perintah sederhana dalam Islam? Ataukah kita, rakyat Indonesia, belum cukup pantas untuk memiliki figur yang mencerminkan nilai-nilai agama?
Continue readingAlergi Kitab Suci Sendiri
Sering saya merasa begitu jauh dari sesuatu yang justru seharusnya sangat dekat dengan kita? Seperti angin yang berbisik di telinga tapi saya pura-pura tuli, seperti Al-Qur’an yang bersandar di rak tapi saya abaikan. Begitulah, saya merasakannya, alergi pada kitab suci sendiri. Bukan karena tak tahu, tetapi karena memilih untuk tidak mau tahu. Saya tahu ini salah, bahkan sangat salah, namun sering kali saya justru memilih jalan yang lebih mudah—melupakan, mengabaikan, menjauh.
Continue reading