Geliat Dakwah Sang Pendosa

Suatu sore, dua sahabat -Sulay dan Iman- terlibat dalam percakapan yang tidak biasa. Di tengah obrolan ringan tentang hidup dan pencarian makna, topik tentang dakwah dan dosa tiba-tiba mencuat ke permukaan, menyentuh titik sensitif yang seringkali diabaikan.

Sulay: “Kamu banyak dosa. Gak pantes buat dakwah!”
Iman: “Gak papa. Tinggal tobat aja.”
Sulay: “Iya, tobat aja dulu. Gak usah dakwah. Malu tuh sama dosa!”
Iman: “Jangan perfeksionis. Dakwahin aja yang kamu bisa.”
Sulay: “Siapa juga yang mau denger kamu dakwah? Mereka tau aibmu semua!”
Iman: “Jika yang boleh dakwah hanya orang yang gak punya dosa, tentu gak akan ada yang dakwah selain para Nabi dan Rosul.”
Sulay: …
Iman: “Hanya karena kita melakukan satu dosa, kita tidak bebas dari kewajiban mencegah orang lain dari dosa itu.”
Sulay: “Yee, itu namanya munafik, bro!”
Iman: “Kita punya dua kewajiban terkait dosa: tidak atau berhenti melakukannya, dan mencegah orang lain darinya.”
Sulay: “Ribet ama sih! Udah, hidup aja kayak biasanya. Jangan sok suci.”
Iman: “Lebih baik jadi orang sok suci daripada jadi orang sok munafik. Yoi, bro?”
Sulay: “#%&^$!”

Continue reading

Muhasabah Menjelang Setahun Genosida Muslim Gaza

Sudah hampir setahun berlalu sejak genosida terhadap rakyat Palestina di Gaza dimulai pada 7 Oktober 2023, dan apa yang tersisa hanyalah puing-puing kemanusiaan yang hancur lebur. Hampir 41 ribu rakyat Palestina tewas. Bukan sekadar angka, ini adalah manusia—anak-anak, ibu-ibu, kakek-nenek—semua yang bernafas di tanah yang dikepung tanpa ampun. Hampir 300 ribu rumah rata dengan tanah, memaksa ratusan ribu keluarga tinggal di tempat pengungsian yang sangat tidak layak untuk dihuni. Rumah sakit, yang seharusnya menjadi tempat penyembuhan, selalu menjadi sasaran bom. Dari 36 rumah sakit di Gaza, 29 telah hancur; artinya hanya ada 7 rumah sakit yang masih beroperasi dengan kapasitas yang sangat terbatas, mencoba menangani ribuan korban luka yang semakin membanjiri.

Continue reading

Setelah Membaca Buku Ada Pemurtadan di IAIN

Membaca Ada Pemurtadan di IAIN karya Hartono Ahmad Jaiz, seperti menyusuri jalan sunyi di mana iman mulai tergerus, di tempat yang seharusnya menjadi benteng keislaman. Bagaimana mungkin, di sebuah perguruan tinggi Islam, orang belajar agama tapi malah meragukan bahkan mencaci-maki Tuhan? Kita mendengar kalimat-kalimat yang mencengangkan: “Selamat bergabung di area bebas Tuhan,” atau “Kami tidak ingin punya Tuhan yang takut pada akal manusia.” Seolah-olah, akal manusia menjadi hakim tertinggi, memutuskan apa yang benar dan salah, bahkan lebih tinggi dari wahyu. Kalimat-kalimat ini bukan hanya menggambarkan pemurtadan, tetapi sebuah bentuk dekonstruksi pemikiran yang mengikis keimanan seseorang. Ada apa dengan dunia pendidikan kita?

Continue reading