Suatu sore, dua sahabat -Sulay dan Iman- terlibat dalam percakapan yang tidak biasa. Di tengah obrolan ringan tentang hidup dan pencarian makna, topik tentang dakwah dan dosa tiba-tiba mencuat ke permukaan, menyentuh titik sensitif yang seringkali diabaikan.
Sulay: “Kamu banyak dosa. Gak pantes buat dakwah!”
Iman: “Gak papa. Tinggal tobat aja.”
Sulay: “Iya, tobat aja dulu. Gak usah dakwah. Malu tuh sama dosa!”
Iman: “Jangan perfeksionis. Dakwahin aja yang kamu bisa.”
Sulay: “Siapa juga yang mau denger kamu dakwah? Mereka tau aibmu semua!”
Iman: “Jika yang boleh dakwah hanya orang yang gak punya dosa, tentu gak akan ada yang dakwah selain para Nabi dan Rosul.”
Sulay: …
Iman: “Hanya karena kita melakukan satu dosa, kita tidak bebas dari kewajiban mencegah orang lain dari dosa itu.”
Sulay: “Yee, itu namanya munafik, bro!”
Iman: “Kita punya dua kewajiban terkait dosa: tidak atau berhenti melakukannya, dan mencegah orang lain darinya.”
Sulay: “Ribet ama sih! Udah, hidup aja kayak biasanya. Jangan sok suci.”
Iman: “Lebih baik jadi orang sok suci daripada jadi orang sok munafik. Yoi, bro?”
Sulay: “#%&^$!”