Perempuan dengan Luka dan Harapan
Aku menemukannya, perempuan yang sama patahnya denganku. Tubuh yang ringkih, jiwa yang bergetar, dan mata yang menyimpan rahasia yang terlalu kelam untuk diungkapkan. Kami adalah dua jiwa yang runtuh, tidak ada yang lebih tepat menggambarkan kami selain patahan demi patahan yang tercecer di sepanjang jalan. Dan, di persimpangan yang absurd itu, kami bertemu. Bukan untuk saling menyembuhkan, tetapi untuk saling menemani, berbagi luka yang tak pernah benar-benar sembuh.
Continue reading