Belajar Bahagia dari Kalkulator dan ChatGPT

Tombol C: Lupakan Luka, Maafkan Segalanya

Pernahkah kita berpikir, seandainya hidup ini punya tombol C seperti yang ada di kalkulator? Mudah saja. Ketika hitungan mulai berantakan, angka-angka berlari tak tentu arah, kita tinggal menekan tombol itu. “C”. Lalu segalanya lenyap. Bersih. Tak ada lagi jejak salah perhitungan. Tak ada lagi hitungan rumit yang membuat kepala berdenyut. Sederhana. Selesai.

Continue reading

Cinta Salah Alamat

Dalam dunia yang serba digital, kita semakin terikat pada kehidupan orang-orang yang tidak pernah kita temui. Siapa mereka? Bintang film, penyanyi, atlet, atau bahkan karakter fiksi. Emosi kita terpaut pada mereka; orang yang hidup di layar, di panggung, di lapangan. Ketika mereka tersenyum, kita bahagia. Ketika mereka menangis, kita ikut bersedih. Cinta kita tersangkut di dunia mereka, sebuah dunia yang sesungguhnya jauh dari realita kita. Mereka hidup di dunia mereka sendiri, terbungkus oleh ketenaran. Dan kita? Kita terjebak di antara sorak-sorai penonton yang tidak pernah terhitung.

Continue reading

Ayo Bunuh Diri!

Pernah terpikir untuk bunuh diri? Tenang. Bukan dalam artian fisik. Bukan soal mengakhiri hidup dengan tindakan tragis. Saya bicara tentang bunuh diri yang jauh lebih mendalam. Ini tentang mengakhiri satu sisi diri kita yang selama ini menjadi penjara semu. Bukan tubuh yang mati, tapi citra diri yang usang dan negatif. Bunuh diri yang saya ajak adalah membunuh stagnasi. Membunuh kenyamanan semu. Membunuh kebiasaan pasrah pada arus hidup yang seakan tidak punya arah. Ini panggilan untuk hidup, bukan mati. Untuk bangkit, bukan tenggelam.

Continue reading