Lahir di Antara Perang dan Penderitaan
Ismail Haniyeh, seperti banyak anak-anak Palestina lainnya, lahir di tengah deru ledakan dan bau mesiu. Di kamp pengungsi al-Shati, Gaza, tahun 1962, hidup bukanlah tentang pilihan. Hidup adalah tentang bertahan. Ismail Haniyeh, seperti yang lain, tumbuh di antara reruntuhan, tapi bukan reruntuhan yang menjadikannya lemah. Dia, seperti bebatuan di Gaza yang dipukul gelombang perang, justru semakin keras. Dalam kesulitan itu, dia menanamkan sebuah cita-cita: kebebasan bagi tanahnya.
Continue reading