Menunggu 2 Waktu

Menunggumu

Hidup ini ruang tunggu.

Kita menunggu banyak hal.

Menunggu gaji cair. Menunggu anak pulang. Menunggu kabar baik. Menunggu hujan reda. Menunggu utang lunas. Menunggu keadaan membaik. Menunggu seseorang berubah.

Tapi sering kali, kita lupa bahwa ada dua waktu yang sebenarnya sedang kita tunggu.

Continue reading

Fatherless: Sebuah Otokritik

Surga Tanpa Ayah?

Ada anak yang yatim sebelum ayahnya mati.

Ayahnya masih hidup. Masih pulang ke rumah. Masih makan di meja yang sama. Masih membayar sekolah. Masih membeli beras. Masih membayar listrik.

Tapi bagi anak itu, ayahnya jauh.

Jauh sekali.

Bukan karena jarak. Tapi karena hati yang tidak pernah benar-benar datang.

Inilah fatherless yang sering kita sembunyikan. Kita kira fatherless hanya terjadi ketika ayah wafat, pergi, atau bercerai dengan ibu. Padahal ada bentuk lain yang lebih sunyi: ayah ada di rumah, tapi tidak hadir dalam hidup anaknya.

Tubuhnya pulang. Hatinya tidak.

Continue reading

Bahagia ala Kalkulator dan ChatGPT

Meretas Ketenangan Batin

Notif berdering. Deadline menjerit. Drama sosmed meledak di genggaman. Beginilah hidup kita, Generasi Z. Jiwa kita seperti ponsel yang kebanyakan buka tab, panas, lemot, dan akhirnya buffering. Mental kita tersangkut di loading bar yang tidak kunjung penuh. Kita hidup di pusaran informasi yang menuntut segalanya serba cepat, sementara batin kita terseok-seok mencoba mengejar.

Banyak yang bilang solusinya digital detox. Lari dari layar. Meditasi berjam-jam di tempat sunyi. Tapi kita realistis aja. Teknologi sudah jadi bagian dari napas kita. Jadi, bagaimana jika masalahnya bukan pada alatnya, tapi pada cara kita memandangnya? Bagaimana jika kita tidak lari, tapi justru belajar dari logika gadget yang kita pegang setiap hari?

Continue reading