Menunggumu
Hidup ini ruang tunggu.
Kita menunggu banyak hal.
Menunggu gaji cair. Menunggu anak pulang. Menunggu kabar baik. Menunggu hujan reda. Menunggu utang lunas. Menunggu keadaan membaik. Menunggu seseorang berubah.
Tapi sering kali, kita lupa bahwa ada dua waktu yang sebenarnya sedang kita tunggu.
Yang pertama datang lima kali sehari.
Namanya azan.
Yang kedua datang sekali seumur hidup.
Namanya ajal.
Azan bisa kita dengar dari masjid. Dari pengeras suara. Dari ponsel. Dari mushola kecil di pinggir jalan.
Ajal tidak begitu.
Dia datang tanpa jadwal yang kita tahu. Tanpa pesan lebih dulu. Tanpa bertanya apakah kita sudah siap.
Dia datang ketika waktunya tiba.
Dan saat itu terjadi, semua urusan yang kita anggap besar mendadak menjadi kerdil.
Azan: Panggilan untuk Pulang Sebentar
Azan bukan suara latar kehidupan.
Bukan tanda istirahat makan siang.
Bukan alarm yang boleh kita abaikan karena pekerjaan belum selesai.
Azan adalah panggilan.
Allah memanggil hamba-Nya.
Lima kali sehari, kita diminta berhenti sebentar dari sirkus dunia. Dari gadget. Dari rapat. Dari obrolan. Dari ambisi. Dari marah. Dari cemas. Dari semua hal yang sering membuat kita lupa bahwa kita ini hamba.
Allah berfirman dalam QS An-Nisa: 103 bahwa sholat adalah kewajiban yang telah ditentukan waktunya bagi orang-orang beriman.
Artinya, shalat bukan urusan sisa waktu.
Sholat punya waktunya sendiri.
Tapi kita sering memperlakukan sholat seperti pekerjaan tambahan. Kalau sempat, dikerjakan. Kalau sibuk, ditunda. Kalau lelah, dipercepat. Kalau ada urusan dunia, Allah diminta menunggu.
Berani sekali kita.
Padahal kita yang butuh sholat. Bukan Allah.
Kita yang lelah. Kita yang kotor. Kita yang terlena oleh dunia.
Rasulullah ﷺ memberi perumpamaan indah. Jika di depan rumah seseorang ada sungai, lalu dia mandi di sana lima kali sehari, apakah masih tersisa kotoran di tubuhnya? Para sahabat menjawab, tidak. Nabi ﷺ menjelaskan, seperti itulah sholat lima waktu. Allah menghapus dosa dengannya.
Masalahnya, kita sering masuk ke sungai itu tanpa sadar sedang mandi.
Kita sholat, tapi tidak hadir.
Kita takbir, tapi pikiran masih di kantor.
Kita rukuk, tapi hati masih di smartphone.
Kita sujud, tapi jiwa masih sibuk mencari pengakuan manusia.
Kita selesai sholat.
Tapi belum tentu menegakkan sholat.
Shalat yang Membuat Hati Pulang
Ibn al-Qoyyim menjelaskan bahwa khusyuk adalah berdirinya hati di hadapan Allah dengan tunduk dan rendah.
Jadi khusyuk bukan sekadar badan diam.
Bukan sekadar mata menatap tempat sujud.
Khusyuk adalah hati yang pulang.
Dan mungkin inilah masalah kita.
Tubuh kita sholat, tapi hati kita berkeliaran.
Kita membaca Al-Fatihah, tapi tidak merasa sedang berbicara kepada Allah. Kita sujud, tapi tidak merasa sedang berada di tempat paling dekat dengan-Nya. Kita salam, lalu kembali mengejar dunia seperti orang yang baru lepas dari siksaan berat.
Padahal sholat adalah latihan pulang.
Setiap azan adalah kesempatan untuk mengingat arah.
Kita boleh sibuk. Boleh bekerja. Boleh berdagang. Boleh mengejar ilmu. Boleh mengurus keluarga. Boleh membangun hidup.
Tapi jangan sampai dunia membuat kita lupa jalan pulang.
Perbaiki wudhu.
Datang lebih awal.
Matikan ponsel.
Pahami bacaan.
Pelankan gerakan.
Ingat bahwa saat takbir, dunia harus mengecil.
Kalau sholat kita mulai benar, hidup tidak otomatis bebas masalah. Tapi hati punya tempat kembali.
Dan orang yang punya tempat kembali tidak mudah hancur oleh dunia.
Ajal: Panggilan yang Tidak Bisa Ditunda
Panggilan kedua lebih sunyi.
Namanya ajal.
Tidak ada muazin.
Tidak ada pengumuman.
Tidak ada pemberitahuan keluarga.
Tidak ada pesan singkat yang berkata: “Besok giliranmu.”
Ajal bisa datang saat kita tidur. Saat kita tertawa. Saat kita bekerja. Saat kita mengemudi. Saat kita membuka grup WA. Saat kita menunda sholat. Saat kita merasa hidup masih panjang.
Padahal hidup tidak pernah memberi garansi.
Allah berfirman dalam QS Al-Munafiqun: 11 bahwa Allah tidak akan menunda kematian seseorang apabila waktunya telah datang.
Kalimat itu pendek.
Tapi cukup untuk meruntuhkan kesombongan manusia.
Kita sering hidup seperti pemilik waktu. Seolah-olah besok pasti ada. Seolah-olah taubat bisa nanti. Seolah-olah memperbaiki sholat bisa setelah tua. Seolah-olah meminta maaf bisa ditunda. Seolah-olah kematian hanya berlaku untuk orang lain.
Padahal semua orang sedang berjalan ke sana.
Pelan.
Tapi pasti.
Jadilah Musafir
Rasulullah ﷺ pernah memegang pundak Ibnu Umar lalu bersabda, “Jadilah engkau di dunia seperti orang asing atau seorang musafir.”
Seorang musafir tahu dia tidak tinggal selamanya.
Dia boleh singgah. Boleh makan. Boleh istirahat. Boleh bekerja. Tapi dia tidak lupa tujuan.
Ibn Rajab menjelaskan bahwa seorang mukmin di dunia seperti orang asing, sebab negeri asalnya adalah surga. Dia sedang berjalan pulang.
Maka aneh jika seorang musafir membangun istana di terminal, lalu lupa naik kendaraan menuju rumahnya.
Begitulah kita sering hidup.
Kita sibuk mempercantik terminal.
Sibuk mengecat bangku di ruang tunggu.
Sibuk berkelahi dengan sesama penumpang.
Sibuk iri kepada barang bawaan orang lain.
Lalu lupa bahwa kendaraan menuju akhirat bisa datang kapan saja.
Dunia boleh dikerjakan.
Tapi jangan disembah.
Harta boleh dicari.
Tapi jangan dijadikan tuhan kecil.
Rumah boleh dibangun.
Tapi jangan lupa, rumah terakhir bukan di sini.
Nama baik boleh dijaga.
Tapi jangan sampai demi wajah di depan manusia, kita kehilangan wajah di hadapan Allah.
Menunggu dengan Amal
Ada orang menunggu ajal dengan takut, tapi tidak berubah.
Ada orang mendengar azan, tapi tetap sibuk.
Ada orang tahu mati pasti datang, tapi terus menunda.
Dan ada orang yang menunggu dua waktu itu dengan amal.
Dialah orang yang waras.
Dia bekerja, tapi hanya mencari yang halal.
Dia mencari uang, tapi tahu uang hanya alat.
Dia mencintai keluarga, karena keluarga adalah amanah.
Dia tidur, agar kuat beribadah.
Dia makan, agar kuat bekerja.
Dia belajar, agar ibadahnya tidak ngawur.
Dia bersedekah, karena tahu harta yang benar-benar miliknya adalah yang sudah dikirim ke akhirat.
Dia jatuh, lalu bertaubat.
Dia salah, lalu memperbaiki diri.
Dia marah, lalu menahan lidah.
Dia terluka, lalu belajar memaafkan.
Dia tahu hidup cuma sekali.
Tapi dia tidak memakai kalimat itu untuk membenarkan maksiat.
Dia berkata, “Karena hidup cuma sekali, aku tidak boleh menyia-nyiakannya.”
Jangan Menunda Pulang
Pada akhirnya, kita semua sedang menunggu.
Menunggu azan berikutnya.
Menunggu ajal yang entah kapan.
Kualitas hidup kita bukan hanya diukur dari sebanyak apa yang kita punya. Tapi dari seberapa siap kita saat dipanggil.
Jika azan saja sering kita abaikan, bagaimana kita berharap siap saat malaikat maut datang?
Jika panggilan sholat saja sering kita tunda, apa yang membuat kita yakin tidak menyesal saat panggilan terakhir tiba?
Maka perbaikilah sholat.
Perbanyak taubat.
Ringankan hati.
Jangan terlalu lama marah.
Jangan terlalu dalam mencintai dunia.
Jangan menunggu tua untuk menjadi hamba yang siap meninggalkan dunia.
Sebab hidup memang menunggu dua waktu.
Azan memanggil kita untuk pulang sebentar.
Ajal memanggil kita untuk pulang selamanya.
Semoga saat panggilan terakhir itu datang, kita tidak berteriak minta dikembalikan.
Semoga kita datang dengan hati yang sudah sering pulang lewat sholat.
Dan semoga Allah menerima kita sebagai hamba yang lelah beribadah, tapi tidak sia-sia.