Surga Tanpa Ayah?
Ada anak yang yatim sebelum ayahnya mati.
Ayahnya masih hidup. Masih pulang ke rumah. Masih makan di meja yang sama. Masih membayar sekolah. Masih membeli beras. Masih membayar listrik.
Tapi bagi anak itu, ayahnya jauh.
Jauh sekali.
Bukan karena jarak. Tapi karena hati yang tidak pernah benar-benar datang.
Inilah fatherless yang sering kita sembunyikan. Kita kira fatherless hanya terjadi ketika ayah wafat, pergi, atau bercerai dengan ibu. Padahal ada bentuk lain yang lebih sunyi: ayah ada di rumah, tapi tidak hadir dalam hidup anaknya.
Tubuhnya pulang. Hatinya tidak.
Ayah Bukan Sekadar Pencari Nafkah
Banyak ayah merasa tugasnya selesai setelah membawa uang ke rumah.
Dia bekerja. Lelah. Tertekan. Dikejar cicilan. Lalu berkata, “Semua ini untuk keluarga.”
Benar.
Mencari nafkah itu kewajiban. Bahkan ibadah. Allah menyebut laki-laki sebagai qowwam bagi keluarganya dalam QS An-Nisa: 34. Laki-laki diberi amanah untuk memimpin, menjaga, dan menanggung keluarga.
Tapi qowwam bukan berarti raja kecil di rumah.
Qowwam berarti pelindung. Pembimbing. Penanggung jawab.
Nafkah bukan cuma uang sekolah, lauk makan, dan seragam baru.
Anak juga butuh wajah ayahnya.
Butuh telinga ayahnya.
Butuh pelukan ayahnya.
Butuh nasihat yang tidak datang sebagai bentakan.
Ayah yang hanya memberi uang, tapi tidak memberi waktu, sedang membangun rumah yang kenyang secara perut, tapi lapar secara jiwa.
Setiap Ayah Akan Ditanya
RasulullahcMuhammad ﷺ bersabda:
“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.”
Seorang laki-laki adalah pemimpin bagi keluarganya. Dia akan ditanya tentang mereka.
Hadis ini seharusnya membuat para ayah berhenti sejenak.
Sebab anak bukan pajangan rumah tangga.
Bukan pelengkap foto keluarga.
Bukan makhluk kecil yang cukup diberi makan, disekolahkan, lalu diserahkan kepada gawai.
Allah berfirman dalam QS At-Tahrim: 6:
“Wahai orang-orang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”
Ibnu Katsir menjelaskan bahwa ayat ini memuat perintah untuk mendidik keluarga dalam ketaatan kepada Allah. Qotadah berkata, seorang mukmin harus mengajak keluarganya untuk taat kepada Allah, melarang mereka dari maksiat, dan membantu mereka menjalankan perintah Allah.
Jadi pertanyaan untuk para ayah bukan hanya:
Berapa uang yang kau bawa pulang?
Tapi juga:
Apa yang sudah kau tanam dalam hati anakmu?
Nabi Itu Sibuk, Tapi Tetap Hangat
Kalau ada manusia paling sibuk, dialah Rasulullah Muhammad ﷺ.
Beliau memimpin umat. Mengajar sahabat. Mengurus perang. Menerima wahyu. Menanggung hinaan. Menjawab persoalan umat.
Tapi beliau tetap lembut di rumah.
Dalam hadis sahih, Nabi Muhammad ﷺ pernah mencium cucunya, Hasan bin Ali. Al-Aqra’ bin Habis melihat itu lalu berkata, “Aku punya sepuluh anak, tapi tidak pernah mencium satu pun dari mereka.”
Nabi ﷺ menjawab:
“Siapa yang tidak menyayangi, dia tidak akan disayangi.”
Sederhana. Tapi menampar.
Sebagian ayah mengira wibawa berarti dingin.
Mengira tegas berarti jarang tersenyum.
Mengira menjadi ayah berarti duduk seperti hakim, menunggu anak salah, lalu menjatuhkan vonis.
Padahal Nabi Muhammad ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang paling baik kepada keluarganya, dan aku adalah yang paling baik kepada keluargaku.”
Ukuran lelaki bukan hanya di luar rumah.
Bukan jabatan.
Bukan tepuk tangan.
Bukan penghasilan.
Ukuran lelaki pertama-tama terlihat dari cara dia memperlakukan keluarganya.
Anak Belajar dari Ayahnya
Anak laki-laki belajar menjadi laki-laki dari ayahnya.
Dia melihat bagaimana ayah bicara kepada ibu. Bagaimana ayah marah. Bagaimana ayah meminta maaf. Bagaimana ayah sholat. Bagaimana ayah menepati janji. Bagaimana ayah memperlakukan orang lain.
Anak perempuan juga belajar dari ayahnya.
Dari ayah, dia belajar seperti apa cinta yang sehat. Dia belajar bahwa lelaki baik tidak kasar. Tidak merendahkan. Tidak menghilang saat dibutuhkan. Tidak hanya ingin dihormati, tapi tidak mau mendengar.
Jika ayah absen, anak akan mencari guru lain.
Kadang gurunya layar ponsel.
Kadang teman sebaya.
Kadang figur palsu di internet.
Kadang dia belajar dari dunia yang sama sekali tidak peduli apakah anak itu selamat atau rusak.
Ibnu al-Qayyim pernah mengingatkan bahwa banyak kerusakan anak datang dari kelalaian orang tua. Mereka tidak diajari agama. Mereka dibiarkan tanpa arahan. Mereka tumbuh, tapi tidak dibimbing.
Keras?
Memang.
Tapi kadang ayah perlu kata-kata keras agar sadar bahwa diamnya bisa menjadi luka panjang bagi anaknya.
Pulanglah, Wahai Ayah
Pulang bukan sekadar membuka pintu.
Pulang bukan sekadar rebahan sambil memegang ponsel.
Pulang bukan sekadar bertanya, “Sudah makan?” lalu hilang dalam layar.
Pulang adalah hadir.
Duduk bersama anak.
Mendengar ceritanya sampai selesai.
Mengaji bersama.
Sholat bersama.
Makan bersama.
Tertawa bersama.
Meminta maaf saat salah.
Memeluk tanpa menunggu anak sakit.
Dalam Al-Qur’an, Luqman menasihati anaknya dengan panggilan lembut: “Wahai anakku.” Dia mengajarkan tauhid, sholat, amar makruf nahi mungkar, sabar, dan akhlak.
Begitulah pendidikan seorang ayah.
Dekat.
Lembut.
Jelas.
Berarah ke akhirat.
Ayah tidak harus sempurna.
Tidak ada ayah yang sempurna.
Tapi ayah harus hadir.
Sebab warisan terbesar seorang ayah bukan rumah bertingkat. Bukan motor baru. Bukan tabungan besar. Bukan nama baik di luar rumah.
Warisan terbesar seorang ayah adalah iman yang dia tanam, akhlak yang dia contohkan, dan kenangan bahwa anak-anaknya pernah dicintai dengan utuh.
Maka pulanglah, wahai ayah.
Bukan hanya dengan tubuhmu.
Pulanglah dengan hatimu.