Candu Validasi Digital
Kamu bangun tidur. Jujur deh, apa yang pertama kali kamu cari? Kitab suci atau ponsel? Mata kamu yang masih kriyep-kriyep itu langsung sibuk nge-scan layar. Notifikasi. Merah, biru, hijau. Angka-angka itulah yang bakal jadi penentu mood kamu hari ini: cerah atau mendung, hepi atau cemas. Berapa likes yang kamu dapat semalam? Nambah berapa followers? Ada yang nyinyir di kolom komentar?
Hidupmu seakan dipertaruhkan di panggung semu itu. Kamu jadi aktor sekaligus penonton. Kamu jual potongan-potongan dirimu demi tepuk tangan digital. Orang nyebutnya “budak algoritma”. Atau yang lebih nusuk, “attention whore”. Label yang nyakitin, tapi mungkin kamu sendiri ngerasa ada benarnya. Ini bukan lagi soal tren, ini krisis. Perbudakan modern yang rantainya bukan dari besi, tapi dari sinyal Wi-Fi dan rasa yang membakar akan sebuah pengakuan.
Continue reading