Attention Whore? No More!

Candu Validasi Digital

Kamu bangun tidur. Jujur deh, apa yang pertama kali kamu cari? Kitab suci atau ponsel? Mata kamu yang masih kriyep-kriyep itu langsung sibuk nge-scan layar. Notifikasi. Merah, biru, hijau. Angka-angka itulah yang bakal jadi penentu mood kamu hari ini: cerah atau mendung, hepi atau cemas. Berapa likes yang kamu dapat semalam? Nambah berapa followers? Ada yang nyinyir di kolom komentar?

Hidupmu seakan dipertaruhkan di panggung semu itu. Kamu jadi aktor sekaligus penonton. Kamu jual potongan-potongan dirimu demi tepuk tangan digital. Orang nyebutnya “budak algoritma”. Atau yang lebih nusuk, “attention whore”. Label yang nyakitin, tapi mungkin kamu sendiri ngerasa ada benarnya. Ini bukan lagi soal tren, ini krisis. Perbudakan modern yang rantainya bukan dari besi, tapi dari sinyal Wi-Fi dan rasa yang membakar akan sebuah pengakuan.

Continue reading

Setelah Membaca Buku Teach Like Finland

Sebuah Refleksi Pendidik Muslim tentang Kelas yang Manusiawi dan Penuh Berkah

Saya membuka buku itu. Judulnya Teach Like Finland. Ditulis oleh Timothy D. Walker. Rasanya seperti didorong masuk ke sebuah ruangan yang asing, namun entah kenapa terasa begitu akrab. Buku itu seolah menatap saya, seorang guru, lalu berkata dengan suara pelan: berhenti. Berhenti sejenak. Tarik nafas. Pikirkan lagi, apa sebenarnya mengajar itu?

Continue reading

Menagih Janji Pembukaan UUD 1945

Amanah Konstitusi dan Panggilan Akidah untuk Membela Palestina

Buka lagi kitab itu. Kitab yang dijahit dengan benang merah perjuangan dan ditulis dengan tinta darah para pahlawan. Pembukaan Undang-Undang Dasar 1945.

Di paragraf pertamanya, ada sumpah yang terukir di sana. Bukan sekadar kalimat pembuka. Bukan basa-basi politik. Itu adalah sebuah janji. Sebuah ikrar suci.

Continue reading