by

Percaya Diri: Nasihat Berbahaya

Dilema Motivasi

Ada nasihat yang terdengar seperti obat, padahal bisa menjadi racun.

“Percayalah pada dirimu sendiri.”

Kalimat itu sering muncul di seminar, video motivasi, caption media sosial, dan dinding kamar anak muda yang sedang ingin membuktikan sesuatu kepada dunia.

Sekilas, tidak ada yang salah.

Manusia memang perlu berani. Perlu mencoba. Perlu bangkit. Perlu punya nyali. Islam tidak mengajarkan kita menjadi lemah, malas, dan menyerah sebelum bergerak.

Masalahnya dimulai saat percaya diri berubah menjadi percaya hanya pada diri sendiri.

Di titik itu, manusia mulai lupa.

Bahwa dirinya lemah.

Bahwa napasnya bukan miliknya.

Bahwa akalnya bukan miliknya.

Bahwa tubuh, waktu, peluang, dan hasil kerjanya adalah titipan Allah.

Dan titipan tidak pantas dijadikan tuhan.

Saat Diri Dijadikan Sandaran

Anak muda Muslim hidup dalam zaman yang suka menekan dada.

Harus sukses. Harus produktif. Harus kaya. Harus kuat. Harus punya karya. Harus terlihat bahagia. Kalau gagal, katanya kurang usaha. Kalau tertinggal, katanya kurang mental. Kalau kalah, katanya kurang percaya diri.

Lalu datang nasihat itu.

“Percaya saja pada dirimu sendiri.”

Masalahnya, diri kita tidak selalu bisa dipercaya.

Hari ini semangat. Besok runtuh.

Hari ini yakin. Besok takut.

Hari ini merasa sanggup menaklukkan dunia. Besok untuk bangun dari tempat tidur saja terasa berat.

Kalau tempat bersandar kita hanya diri sendiri, kita sedang bersandar pada sesuatu yang mudah patah.

Islam mengajarkan jalan yang lebih selamat: berusaha, berdoa, lalu bertawakkal.

Bukan menuhankan usaha.

Bukan memuja kemampuan diri.

Bukan merasa hasil pasti datang hanya karena kita sudah bekerja keras.

Orang yang menuhankan usaha berkata, “Aku pasti berhasil karena aku hebat.”

Orang yang bertawakkal berkata, “Aku akan berusaha sekuat tenaga, tapi hasilnya milik Allah.”

Yang pertama membuat dada membusung.

Yang kedua membuat hati tunduk.

Qorun dan Mabuk Kesuksesan

Al-Qur’an menceritakan Qorun.

Dia diberi harta yang sangat banyak. Kuncinya saja berat dipikul oleh orang-orang kuat. Tapi ketika diingatkan, dia berkata bahwa semua itu dia dapat karena ilmu yang ada padanya.

Bahasanya sederhana.

“Aku kaya karena aku pintar.”

“Aku berhasil karena aku mampu.”

“Aku menang karena aku hebat.”

Bukankah kalimat itu terdengar akrab?

Banyak orang hari ini tidak menyebut dirinya Qorun. Tapi cara berpikirnya mirip. Saat bisnis naik, dia lupa siapa yang membuka jalan. Saat nilai bagus, dia lupa siapa yang memberi akal. Saat karir menanjak, dia lupa siapa yang menjaga tubuhnya tetap sehat.

Padahal semua bisa hilang.

Dalam satu malam.

Dalam satu sakit.

Dalam satu musibah.

Dalam satu keputusan Allah.

Sukses bukan selalu tanda kita dimuliakan. Bisa jadi sukses adalah ujian. Dan ujian yang paling halus adalah saat manusia merasa tidak sedang diuji.

Jika Gagal, Dia Bisa Hancur

Bahaya lain dari “percaya pada diri sendiri” muncul saat seseorang gagal.

Kalau seluruh hidupnya dibangun di atas dirinya sendiri, maka saat dirinya jatuh, semuanya ikut runtuh.

Dia merasa dunia tidak adil. Dia merasa usahanya sia-sia. Dia merasa tidak punya tempat pulang. Pada titik yang gelap, seseorang bisa berpikir untuk mengakhiri hidupnya.

Ini bukan hal kecil.

Kalau pikiran seperti itu muncul, jangan sendirian. Cari orang yang amanah. Bicara dengan keluarga, guru, ustaz, teman yang bisa dipercaya, atau tenaga profesional. Meminta bantuan bukan tanda iman lemah. Menjaga nyawa adalah bagian dari ketaatan.

Anak muda Muslim butuh sandaran yang lebih kuat daripada semangat pribadi.

Kita butuh Allah.

Kita butuh yakin bahwa gagal bukan akhir cerita.

Kita butuh percaya bahwa Allah Maha Adil dan Maha Bijaksana.

Kadang pintu ditutup bukan karena Allah membenci kita. Bisa jadi di balik pintu itu ada bahaya yang tidak kita lihat.

Kadang kita menangis karena tidak diberi. Padahal Allah sedang menjaga.

Kadang kita merasa kalah. Padahal Allah sedang membelokkan arah.

Hunain: Ketika Jumlah Menipu

Ada kisah lain dalam Al-Qur’an.

Perang Hunain.

Saat itu kaum Muslimin punya jumlah yang besar. Jumlah itu membuat sebagian mereka merasa kuat dan jumawa. Tapi Allah menunjukkan bahwa jumlah besar tidak cukup jika hati mulai bergantung pada jumlah itu. Bumi yang luas terasa sempit. Mereka sempat mundur.

Ini pelajaran keras.

Bahkan kekuatan bisa menipu.

Bahkan strategi bisa menipu.

Bahkan jumlah besar bisa menipu.

Bahkan percaya diri bisa menipu.

Sebab yang menyelamatkan bukan sebab itu sendiri. Yang menyelamatkan adalah Allah.

Kita tetap wajib mengambil sebab. Tapi sebab bukan Tuhan.

Nasihat yang Lebih Selamat

Maka nasihat yang lebih baik bukan:

“Percayalah pada dirimu sendiri.”

Nasihat yang lebih selamat adalah:

“Percayalah pada takdir Allah.”

Tapi jangan salah paham.

Percaya pada takdir bukan berarti malas. Bukan berarti duduk diam. Bukan berarti berkata, “Kalau rezeki tidak akan ke mana,” lalu tidur lagi.

Itu bukan tawakkal.

Itu malas yang diberi baju agama.

Rasulullah Muhammad ﷺ mengajarkan, “Ikatlah untamu, lalu bertawakkallah.”

Artinya jelas.

Ambil sebabnya dulu.

Kerjakan bagianmu dulu.

Bergerak dulu.

Mau lulus? Belajar.

Mau rezeki halal? Bekerja.

Mau kuat? Olahraga.

Mau menikah? Perbaiki diri.

Mau hidup berubah? Tinggalkan maksiat, bangun kebiasaan baik, dan minta pertolongan Allah.

Manusia wajib berusaha.

Tapi manusia tidak berhak memaksa hasil.

Tawakkal Menjaga Hati

Tawakkal menyelamatkan kita dari dua jurang.

Sombong saat sukses.

Putus asa saat gagal.

Kalau berhasil, kita bersyukur.

Kalau gagal, kita bersabar.

Kalau diberi, kita tidak mabuk.

Kalau ditunda, kita tidak hancur.

Kalau rencana berjalan, kita tahu itu karunia Allah.

Kalau rencana runtuh, kita percaya Allah punya hikmah.

Allah berjanji dalam Al-Qur’an bahwa siapa yang bertawakkal kepada-Nya, maka Allah akan mencukupinya.

Cukup bukan berarti semua keinginan kita dikabulkan.

Cukup berarti Allah tidak membiarkan kita sendirian.

Dan itu karunia besar.

Sangat besar.

Jangan Salah Tempat Percaya

Percaya diri boleh.

Tapi jangan berhenti di sana.

Diri kita terlalu lemah untuk dijadikan sandaran terakhir. Hari ini kuat, besok jatuh. Hari ini yakin, besok ragu. Hari ini tertawa, besok menangis diam-diam.

Maka bersandarlah kepada Allah.

Berusahalah sekuat tenaga.

Berdoalah dengan hati yang jujur.

Bertawakkallah setelah semua sebab diambil.

Lalu terima apa pun hasilnya dengan ridho.

Jangan berkata, “Aku pasti bisa karena aku percaya pada diriku.”

Katakan:

“Aku akan berusaha, karena aku percaya kepada Allah.”

Itu lebih aman.

Lebih benar.

Lebih menenangkan.

Karena ketika dunia tidak berjalan sesuai rencana, hati kita masih punya tempat pulang.

Write a Comment

Comment