Ada sebuah momen yang begitu sederhana, namun sarat makna—momen ketika saya memutuskan untuk mematikan smartphone. Dalam keheningan yang tiba-tiba hadir, saya menemukan kehidupan yang sebenarnya. Aneh memang, bagaimana sebuah perangkat kecil bisa begitu menguasai kita, hingga ketika ia dimatikan, terasa ada beban yang terangkat, pikiran yang selama ini terbelenggu tiba-tiba terbebas, dan produktivitas yang lama tertunda mendadak bersemi.
Continue readingDicari: Guru Yang Menyenangkan
Ada yang hilang dalam perjalanan pendidikan kita, sesuatu yang seharusnya tumbuh dari dalam universitas keguruan tetapi nyatanya tak pernah benar-benar matang. Sesuatu itu adalah kemampuan mencetak guru yang tidak hanya pandai mengajar, tetapi juga pandai menyentuh hati murid. Universitas keguruan terlalu sering terjebak dalam formalitas, menekankan pada teori yang kaku dan melupakan esensi pendidikan yang lebih lembut, lebih manusiawi. Mereka mengajarkan bagaimana cara mengajar, tetapi lupa mengajarkan bagaimana cara merasakan.
Continue readingEuforia Agustusan: Penutupan Jalan Raya Sekaligus Jalan Pikiran
Setiap Agustus tiba, bendera merah putih berkibar di mana-mana, jalan raya ditutup untuk karnaval, dan suara musik riuh menendang udara. Tapi di balik semua itu, ada sesuatu yang hilang, sesuatu yang seharusnya menjadi inti dari peringatan kemerdekaan: rasa syukur yang tulus dan penghormatan terhadap perjuangan para pahlawan. Euforia Agustusan sering kali hanya menjadi ajang hura-hura, jauh dari napak tilas perjuangan dan semangat pengorbanan yang para pahlawan tunjukkan. Di tengah gegap gempita, makna kemerdekaan itu sendiri kerap tertinggal, tenggelam dalam pesta pora yang dangkal.
Continue reading