Hilangnya Kalimat Takbir dalam Pekik Kemerdekaan

Pekik yang Kehilangan Jiwanya

Agustus datang lagi, dan bersama dia datang pula riuh rendah perayaan. Di seluruh negeri, dari istana yang megah hingga gang-gang yang lusuh, satu kata diteriakkan serempak: Merdeka! Kata itu, seperti mantra, seharusnya mampu menggetarkan jiwa, membangkitkan memori kolektif tentang darah dan pengorbanan.

Tapi dengarkan lebih seksama. Di balik kebisingan pengeras suara dan tawa perlombaan, ada sebuah keheningan yang aneh. Pekik kemerdekaan kita hari ini terasa seperti tubuh yang gagah namun tanpa ruh. Sebuah ritual yang telah kehilangan mantranya.

Continue reading

Bara dan Lara Wanita Gaza

Lebih Dari Sekadar Bayangan

Di Gaza, wanita bukan bayang-bayang yang bersembunyi di balik punggung lelaki. Dia adalah bayang-bayang dari segalanya. Bayang-bayang yang menelan reruntuhan, bayang-bayang yang meneduhkan anak-anak dari matahari kematian, bayang-bayang yang lebih nyata dari benda apa pun yang disorot cahaya.

Continue reading

Teriaklah Merdeka dengan Penuh Rasa Malu

Sebuah Refleksi Usia ke-80

Langit Nusantara cerah pada 17 Agustus 2025. Mungkin juga pura-pura cerah. Bendera-bendera berkibar di tiang-tiang paling angkuh, di gang-gang paling kumuh. Bangsa ini merayakan usianya yang ke-80. Delapan puluh tahun. Sebuah angka yang seharusnya gagah.

Dari desa ke sekolah ke istana negara, gema nasionalisme bersahutan. Allahu Akbar! Merdeka!

Tapi di tengah riuh itu, ada sunyi yang menusuk. Ada bisikan yang membuat lidah kelu. Kita mau ikut berteriak, tapi kerongkongan tercekat. Pertanyaan itu datang tanpa diundang. Merdeka dari apa? Dan merdeka untuk apa?

Continue reading