Pekik yang Kehilangan Jiwanya
Agustus datang lagi, dan bersama dia datang pula riuh rendah perayaan. Di seluruh negeri, dari istana yang megah hingga gang-gang yang lusuh, satu kata diteriakkan serempak: Merdeka! Kata itu, seperti mantra, seharusnya mampu menggetarkan jiwa, membangkitkan memori kolektif tentang darah dan pengorbanan.
Tapi dengarkan lebih seksama. Di balik kebisingan pengeras suara dan tawa perlombaan, ada sebuah keheningan yang aneh. Pekik kemerdekaan kita hari ini terasa seperti tubuh yang gagah namun tanpa ruh. Sebuah ritual yang telah kehilangan mantranya.
Continue reading