Dewasa Bukan Versi Hidup Lebih Mahal

Harus Naik Kelas

Ada pasangan muda yang baru menikah, lalu tiba-tiba merasa hidupnya harus naik kelas.

Dulu cukup makan di rumah. Sekarang merasa harus makan di tempat yang instagrammable. Dulu cukup motor bebek. Sekarang merasa harus mencicil mobil karena teman seangkatan sudah punya. Dulu rumah kontrakan kecil terasa cukup. Sekarang terasa sempit setelah melihat ruang tamu orang lain di TikTok.

Padahal mungkin gajinya tidak berubah banyak. Yang berubah hanya standar malu.

Continue reading

Kenapa Malu dengan Nama-Nama Islami?

Nama Atau Merek?

Ada orang tua yang memberi anaknya nama seperti sedang menamai merek parfum.

Bunyinya halus. Terlihat global. Mudah ditulis di bio media sosial. Cocok untuk dipanggil di kafe, bandara, atau kantor kedutaan asing. Tetapi ketika ditanya artinya, jawabannya sering berhenti di kalimat, “Pokoknya bagus.”

Tidak salah memberi nama yang terdengar indah. Tidak salah pula memakai nama yang tidak berbahasa Arab, selama maknanya baik dan tidak bertentangan dengan Islam. Tetapi ada yang perlu kita tanyakan dengan jujur.

Kenapa sebagian dari kita mulai malu dengan nama-nama Islami?

Continue reading

Anda Hebat, Tetap Profesional Meski Kerja Terasa Banal

Terkungkung di Penjara

Ada hari ketika pekerjaan terasa seperti dejavu yang memuakkan.

Anda datang, duduk, membuka laptop, menjawab pesan, mengisi laporan, menghadiri rapat, mengejar target, lalu pulang dengan kepala penuh tetapi hati kosong. Besoknya sama lagi. Lusa sama lagi. Bulan berganti, tugas berganti sedikit, tetapi rasa jenuhnya tetap tinggal.

Tidak semua orang bekerja dalam kisah yang heroik.

Continue reading