Membaca Apa?
Kita sering mendengar kalimat ini: ayat pertama yang turun adalah iqro’.
Bacalah!
Dari sana kita membuat seminar literasi. Membuat poster. Membuat gerakan membaca. Membuat slogan bahwa Islam adalah agama ilmu.
Benar.
Tapi ada satu pertanyaan yang jarang kita ajukan.
Saat Jibril berkata kepada Nabi ﷺ, “Bacalah,” apa yang dibaca saat itu?
Al-Quran belum turun lengkap. Mushaf belum dibukukan. Kitab cetak belum ada. Perpustakaan Islam belum berdiri. Nabi ﷺ pun seorang ummi. Beliau tidak bisa membaca tulisan.
Jadi, iqro’ tidak bisa dipahami hanya seperti membaca buku di rak.
Di awal wahyu, membaca berarti menerima bacaan. Dibacakan. Mengikuti. Menghafal. Lalu menyampaikan.
Dari sanalah lahir umat yang bukan hanya membaca.
Tapi juga menghafal.
Iqro’ Bukan Slogan Kosong
Allah berfirman:
“Bacalah dengan nama Tuhanmu yang menciptakan.” (QS. Al-‘Alaq: 1)
Dalam riwayat awal wahyu, Jibril datang kepada Nabi ﷺ dan berkata, “Bacalah.” Nabi ﷺ menjawab, “Aku tidak bisa membaca.” Peristiwa itu berulang sampai turun ayat-ayat awal Surah Al-‘Alaq.
Ini bukan kisah literasi biasa.
Ini kisah wahyu dari langit.
Nabi ﷺ tidak membuat bacaan sendiri. Beliau menerima bacaan. Al-Quran bukan hasil renungan. Bukan karangan. Bukan filsafat pribadi.
Al-Quran adalah wahyu.
Diturunkan.
Dibacakan.
Dihafalkan.
Diajarkan.
Di sinilah tradisi talaqqi dimulai. Guru membacakan. Murid mengikuti. Guru meluruskan. Murid mengulang.
Ilmu tidak hanya pindah dari kertas ke mata.
Ilmu pindah dari lisan ke lisan.
Dari dada ke dada.
Dari guru ke murid.
Allah berfirman:
“Janganlah engkau gerakkan lidahmu untuk membaca Al-Quran karena hendak cepat-cepat menguasainya. Sesungguhnya atas tanggungan Kamilah mengumpulkannya di dadamu dan membuatmu pandai membacanya. Apabila Kami telah selesai membacakannya, maka ikutilah bacaannya.” (QS. Al-Qiyamah: 16–18)
Perhatikan kalimat itu.
Mengumpulkannya di dadamu.
Bukan hanya di mushaf.
Bukan hanya di rak.
Bukan hanya di aplikasi.
Tapi di dada.
Membaca Itu Pintu, Menghafal Ialah Penjagaan
Islam tidak memisahkan membaca dan menghafal.
Membaca tanpa hafalan akan mudah hilang. Hafalan tanpa pemahaman bisa kering makna. Pemahaman tanpa amal bisa menjadi beban di hadapan Allah.
Rasulullah ﷺ bersabda:
“Sebaik-baik kalian adalah yang mempelajari Al-Quran dan mengajarkannya.” (HR. Al-Bukhori)
Beliau juga bersabda:
“Dikatakan kepada ahli Al-Quran: bacalah, naiklah, dan tartilkanlah sebagaimana engkau membacanya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu berada pada akhir ayat yang engkau baca.” (HR. Abu Dawud dan At-Tirmidzi)
Ahli Al-Quran bukan sekadar orang yang pernah membuka mushaf.
Ia membaca.
Menghafal.
Menjaga.
Memahami.
Mengamalkan.
Mengajarkan.
Membaca adalah pintu.
Menghafal adalah penjagaan.
Mengamalkan adalah tujuan.
Zaid bin Tsabit dan Al-Quran yang Dijaga
Setelah Perang Yamamah, banyak penghafal Al-Quran wafat. Umar bin Al-Khattab khawatir. Beliau mengusulkan kepada Abu Bakar agar Al-Quran dikumpulkan.
Tugas itu diberikan kepada Zaid bin Tsabit.
Zaid mengumpulkan Al-Quran dari dua jalur: tulisan dan hafalan para sahabat.
Ini pelajaran besar.
Islam bukan anti tulisan.
Islam juga bukan anti hafalan.
Keduanya saling menjaga. Mushaf menjaga teks. Hafalan menjaga bacaan tetap hidup dalam dada umat.
Kalau para sahabat begitu serius menjaga Al-Quran, mengapa kita begitu santai?
Mushaf ada di rumah, tapi jarang dibuka. Aplikasi Al-Quran ada di ponsel, tapi kalah oleh notifikasi. Ayat sering lewat di telinga saat Romadon, tapi tidak tinggal di hati setelahnya.
Kita sering mengaku umat iqro’.
Tapi hari-hari kita lebih banyak disedot oleh layar ponsel daripada membaca Al-Quran.
Hafidz Itu Gelar Ilmu
Hari ini, kata hafidz sering dipahami sebagai penghafal Al-Quran.
Itu benar.
Tapi dalam tradisi ilmu Islam, al-Hafizh juga menjadi gelar besar bagi ulama hadits. Mereka bukan hanya hafal teks. Mereka menjaga sanad, matan, perawi, cacat riwayat, dan jalan periwayatan.
Ada Al-Hafizh Ibnu Hajar Al-‘Asqalani. Ada Al-Hafizh Adz-Dzahabi. Ada Al-Hafizh Al-‘Iraqi. Ada Al-Hafizh Ibnu Rajab.
Ini menunjukkan satu hal.
Ilmu Islam dahulu tidak cukup hanya pernah dibaca.
Ilmu diikat.
Dijaga.
Diulang.
Dipahami.
Diuji.
Diamalkan.
Hafalan Al-Quran 30 juz dalam tradisi ulama klasik sering menjadi bekal awal penuntut ilmu. Setelah itu mereka menghafal hadits, matan fikih, bahasa Arab, ushul fikih, dan ilmu alat.
Lalu kita?
Sering kali membaca pun tidak.
Menghafal apalagi.
Hati Bukan Tempat Sampah
Tapi membaca juga tidak boleh sembarangan.
Islam memerintahkan ilmu. Tapi bukan semua informasi layak masuk ke kepala. Bukan semua buku layak dibaca. Bukan semua konten layak ditonton. Bukan semua guru layak diikuti.
Otak dan hati seorang Muslim bukan tempat sampah.
Allah berfirman:
“Dan janganlah kamu mengikuti sesuatu yang kamu tidak mempunyai pengetahuan tentangnya. Sesungguhnya pendengaran, penglihatan, dan hati, semuanya itu akan dimintai pertanggungjawaban.” (QS. Al-Isro’: 36)
Rasulullah ﷺ berdoa:
“Ya Allah, aku berlindung kepada-Mu dari ilmu yang tidak bermanfaat.” (HR. Muslim)
Ada bacaan yang menambah iman. Ada bacaan yang menambah kesombongan. Ada bacaan yang membuat akhlak lembut. Ada bacaan yang menanam syubhat. Ada konten yang membuat hati hidup. Ada konten yang membuat jiwa gaduh.
Maka seorang Muslim perlu diet informasi.
Pilih yang masuk ke hati.
Karena apa yang sering kita baca akan membentuk cara kita berpikir. Cara kita mencintai. Cara kita membenci. Cara kita takut. Cara kita berharap.
Imam Bukhori dan Hafalan yang Memukau
Salah satu kisah yang sering diceritakan dalam sejarah ulama adalah ujian Imam Al-Bukhori di Baghdad.
Ketika beliau datang, para ulama ingin menguji hafalannya.
Mereka menyiapkan seratus hadits.
Sanad dan matannya sengaja diacak. Satu hadits dipasangkan dengan sanad hadits lain. Semua dibuat kacau.
Lalu hadits-hadits itu dibacakan satu per satu di depan Imam Al-Bukhori.
Beliau hanya menjawab, “Aku tidak mengetahuinya.”
Orang awam mungkin mengira beliau tidak paham.
Tapi setelah semua selesai, Imam Al-Bukhori berdiri.
Beliau mengulang kembali kesalahan itu satu per satu.
Urut.
Rapi.
Lalu membetulkan sanad dan matannya.
Itulah tradisi hafalan Islam.
Bukan hafalan kosong.
Bukan sekadar kuat ingatan.
Tetapi hafalan yang menjaga agama dari pemalsuan.
Dari dada ulama seperti itulah Allah menjaga sunnah Nabi ﷺ.
Jangan Berhenti sebagai Pembaca
Maka jangan berhenti pada slogan membaca.
Bacalah.
Tapi setelah membaca, pilih yang penting untuk dihafal.
Hafalkan Al-Qur’an semampumu.
Hafalkan hadits-hadits pokok.
Hafalkan doa.
Hafalkan kaidah agama.
Hafalkan ilmu yang membuatmu lebih dekat kepada Allah.
Jangan biarkan memori hape penuh dengan file sampah, sementara memori kepala kosong dari ayat Allah.
Jangan biarkan lisan lancar menyebut nama-nama artis dunia, tetapi gagap membaca kalam Robb-nya.
Kita umat Iqro’.
Dan umat Iqro’ bukan hanya umat yang matanya bergerak di atas teks.
Kita adalah umat yang dadanya menjadi rumah bagi kebenaran.
Membaca adalah awal.
Menghafal adalah ikatan.
Mengamalkan adalah bukti.