Fatherless: Sebuah Otokritik

Surga Tanpa Ayah?

Rumah, semestinya, adalah surga. Baiti jannati. Begitu Nabi Muhammad mengajarkan. Sebuah tempat di mana lelah dunia luruh di depan pintunya. Di dalamnya ada sakinah, ada tawa renyah anak-anak, ada kehangatan yang tidak bisa dibeli dengan uang sebanyak apa pun. Di pusat surga kecil itu, ada pilar-pilar yang menopangnya. Ibu sebagai madrasah pertama, dan ayah sebagai kepala sekolahnya.

Tapi hari ini, banyak surga yang terasa lowong. Dingin. Kepala sekolahnya ada, tapi ruang kerjanya kosong.

Continue reading

Bahagia ala Kalkulator dan ChatGPT

Meretas Ketenangan Batin

Notif berdering. Deadline menjerit. Drama sosmed meledak di genggaman. Beginilah hidup kita, Generasi Z. Jiwa kita seperti ponsel yang kebanyakan buka tab, panas, lemot, dan akhirnya buffering. Mental kita tersangkut di loading bar yang tidak kunjung penuh. Kita hidup di pusaran informasi yang menuntut segalanya serba cepat, sementara batin kita terseok-seok mencoba mengejar.

Banyak yang bilang solusinya digital detox. Lari dari layar. Meditasi berjam-jam di tempat sunyi. Tapi kita realistis aja. Teknologi sudah jadi bagian dari napas kita. Jadi, bagaimana jika masalahnya bukan pada alatnya, tapi pada cara kita memandangnya? Bagaimana jika kita tidak lari, tapi justru belajar dari logika gadget yang kita pegang setiap hari?

Continue reading

Attention Whore? No More!

Candu Validasi Digital

Kamu bangun tidur. Jujur deh, apa yang pertama kali kamu cari? Kitab suci atau ponsel? Mata kamu yang masih kriyep-kriyep itu langsung sibuk nge-scan layar. Notifikasi. Merah, biru, hijau. Angka-angka itulah yang bakal jadi penentu mood kamu hari ini: cerah atau mendung, hepi atau cemas. Berapa likes yang kamu dapat semalam? Nambah berapa followers? Ada yang nyinyir di kolom komentar?

Hidupmu seakan dipertaruhkan di panggung semu itu. Kamu jadi aktor sekaligus penonton. Kamu jual potongan-potongan dirimu demi tepuk tangan digital. Orang nyebutnya “budak algoritma”. Atau yang lebih nusuk, “attention whore”. Label yang nyakitin, tapi mungkin kamu sendiri ngerasa ada benarnya. Ini bukan lagi soal tren, ini krisis. Perbudakan modern yang rantainya bukan dari besi, tapi dari sinyal Wi-Fi dan rasa yang membakar akan sebuah pengakuan.

Continue reading