by

Boikot Piala Dunia

Jadwal Ibadah Baru

Setiap musim Piala Dunia datang, sebagian laki-laki seperti mendapat jadwal ibadah baru. Mereka tahu jam kick-off. Mereka tahu siapa cedera. Mereka tahu susunan pemain. Mereka tahu negara mana harus menang agar tim jagoannya lolos.

Tetapi dia lupa jam Subuh.

Dia lupa tubuhnya sendiri.

Dia lupa bahwa anaknya menunggu diajak bicara, istrinya menunggu didengar, dan badannya menunggu digerakkan.

Lalu dia berkata, “Ini cuma hiburan.”

Benar. Tetapi banyak hal yang menghancurkan umur manusia memang masuk lewat pintu hiburan.

Berhentilah membuang-buang waktumu menonton laki-laki lain bermain olahraga. Kalau kamu suka olahraga, lakukan sendiri. Kalau kamu cinta bola, tendang bolanya. Jangan hanya menonton kaki orang lain menjadi kuat sementara badanmu makin malas bergerak.

Untuk para wanita, kalau laki-lakimu memakai jersey dengan nama laki-laki lain di punggungnya, jangan buru-buru marah. Tapi ingatkan dia: tugasnya bukan menjadi papan iklan pemain bola. Tugasnya menjadi laki-laki utama di rumahnya sendiri.

Ini bukan hukum fikih tentang jersey. Ini sindiran. Sebab yang lebih berbahaya dari kain jersey adalah hati yang lebih setia kepada jadwal pertandingan daripada amanah keluarga.

Islam Tidak Anti Olahraga

Islam tidak melarang olahraga. Bahkan Islam mencintai kekuatan.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah, dan pada keduanya ada kebaikan.” (HR. Muslim).

Hadis ini seharusnya membuat laki-laki Muslim bergerak. Bukan hanya duduk, makan gorengan, minum kopi, lalu berteriak kepada pemain yang tidak mengenalnya.

Tubuh bukan untuk dipajang. Tubuh adalah amanah. Tubuh dipakai untuk sholat, bekerja, menjaga keluarga, membantu orang lain, dan beribadah kepada Allah. Kalau bola membuatmu bergerak, sehat, disiplin, dan kuat, itu manfaat. Tetapi kalau bola membuatmu begadang, lalai dari sholat, malas kerja, marah-marah, berjudi, dan fanatik, itu bukan olahraga. Itu penyakit.

Masalahnya bukan bola.

Masalahnya adalah kelalaian yang datang lewat bola.

Waktu yang Dirampok Pelan-Pelan

Piala Dunia tidak hanya mengambil dua jam pertandingan. Ia mengambil sebelum dan sesudahnya.

Sebelum pertandingan, orang sibuk membaca prediksi. Sesudah pertandingan, sibuk melihat cuplikan. Lalu debat. Lalu meme. Lalu komentar. Lalu pertandingan berikutnya.

Tahu-tahu satu bulan habis.

Allah bersumpah dengan waktu dalam QS. Al-‘Ashr:

“Demi masa. Sesungguhnya manusia benar-benar berada dalam kerugian, kecuali orang-orang yang beriman, beramal saleh, saling menasihati dalam kebenaran, dan saling menasihati dalam kesabaran.”

Imam Asy-Syafi’i berkata bahwa seandainya manusia merenungkan surat ini, niscaya surat ini cukup bagi mereka.

Mengapa cukup? Karena surat pendek itu menampar kita. Semua manusia rugi, kecuali yang mengisi waktunya dengan iman, amal saleh, kebenaran, dan kesabaran.

Sekarang tanya diri sendiri.

Piala Dunia mengisi waktumu dengan apa?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Bukhori).

Piala Dunia sering merusak dua-duanya. Waktu habis. Kesehatan turun. Malam dipakai begadang. Pagi dipakai tidur. Subuh menjadi korban. Kerja menjadi lesu. Keluarga mendapat sisa-sisa tenaga saja.

Padahal di akhirat, kita tidak akan ditanya siapa juara dunia.

Kita akan ditanya umur kita habis untuk apa.

Dari Suka Bola Menjadi Fanatik

Menonton pertandingan sesekali mungkin mubah. Tetapi fanatisme bisa mengubah hiburan menjadi kerusakan.

Orang bisa marah karena klub. Bermusuhan karena negara. Menghina saudara karena skor. Membenci orang yang tidak dia kenal hanya karena jersey lawan.

Padahal pemainnya dibayar. Penontonnya yang ribut.

Pemainnya tidur di hotel. Penontonnya bertengkar di warung kopi.

Pemainnya pindah klub saat kontrak selesai. Penontonnya masih menyimpan dendam.

Rasulullah ﷺ memperingatkan umatnya dari fanatisme jahiliyah. Dalam makna hadis yang diriwayatkan Abu Dawud, bukan termasuk pengikut Nabi Muhammad orang yang menyeru kepada ‘ashabiyyah, yaitu fanatisme buta.

Seorang Muslim punya identitas yang lebih tinggi daripada warna jersey, bendera tim, atau yel-yel di stadion.

Dia hamba Allah.

Jangan dengan murah sekali menjual hati hanya untuk bola.

Laki-Laki Harus Hadir di Rumahnya

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Setiap kalian adalah pemimpin, dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

Seorang suami adalah pemimpin di rumahnya. Seorang ayah adalah penjaga keluarganya. Dia tidak harus kaya. Dia tidak harus terkenal. Tetapi dia harus hadir.

Kalau malam-malamnya habis untuk pertandingan, pagi-paginya habis untuk tidur, lalu anak dan istrinya hanya mendapat sisa, maka masalahnya bukan sepak bola.

Masalahnya amanah yang ditukar dengan hiburan.

Laki-laki tidak diciptakan untuk menjadi penonton seumur hidup. Dia harus menjadi pelaku. Dia harus bekerja. Dia harus mendidik. Dia harus bergerak. Dia harus menjadi sebab kebaikan di rumahnya.

Dunia tidak kekurangan penonton.

Dunia kekurangan laki-laki yang hadir.

Olahraga yang Bermakna

Rasulullah ﷺ pernah berlomba lari dengan Aisyah. Dalam riwayat Abu Dawud, Aisyah pernah menang. Di waktu lain, Rasulullah ﷺ menang dan beliau berkata bahwa itu balasan untuk perlombaan sebelumnya.

Lihatlah. Olahraga menjadi kasih sayang. Menjadi canda halal. Menjadi kedekatan suami-istri.

Dalam Shahih Al-Bukhori, Aisyah juga pernah melihat orang-orang Habasyah bermain tombak di masjid, dan Rasulullah ﷺ membiarkannya. Ibnu Hajar menjelaskan dalam Fathul Bari bahwa permainan tombak itu mengandung latihan keberanian dan persiapan kekuatan.

Islam mengenal hiburan. Tetapi hiburan yang sehat tidak merusak iman, waktu, dan kewajiban.

Bandingkan dengan hari ini. Sebagian laki-laki sanggup menonton dua puluh dua orang berlari selama sembilan puluh menit, tetapi tidak sanggup berjalan pagi sepuluh menit bersama istrinya.

Lucu, kalau tidak ingin disebut menyedihkan.

Tidak Semua yang Seru Itu Bermanfaat

Banyak orang berkata, “Ini cuma hiburan.”

Baik. Tetapi apakah semua hiburan pantas mendapat tempat dalam hidup kita?

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Di antara baiknya Islam seseorang adalah meninggalkan apa yang tidak bermanfaat baginya.” (HR. At-Tirmidzi dan Ibnu Majah).

Ibnu Rajab menjelaskan bahwa baiknya Islam seseorang tampak dari kemampuannya meninggalkan ucapan dan perbuatan yang tidak dia perlukan.

Maka jangan hanya bertanya, “Apakah menonton bola haram?”

Tanya juga, “Apakah ini pantas menghabiskan umurku?”

Kalau pertandingan tidak menambah iman, tidak menambah ilmu, tidak membuat tubuh sehat, tidak memperbaiki keluarga, dan tidak memperbaiki akhirat, mengapa ia mendapat jatah waktu sebanyak itu?

Boikot yang Benar

Boikot Piala Dunia bukan berarti duduk murung sambil merasa paling saleh.

Boikot berarti memindahkan energi.

Dari menonton menjadi bergerak.

Dari begadang menjadi bangun Subuh.

Dari debat skor menjadi belajar ilmu.

Dari membeli jersey karena gengsi menjadi membahagiakan keluarga.

Dari mengagumi pemain menjadi melatih diri.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Bersungguh-sungguhlah terhadap apa yang bermanfaat bagimu, mintalah pertolongan kepada Allah, dan jangan lemah.” (HR. Muslim).

Kalau suka olahraga, lakukan.

Kalau ingin kuat, berlatih.

Kalau ingin menang, kalahkan malasmu sendiri.

Piala Dunia akan datang dan pergi. Juara akan berganti. Pemain yang hari ini dipuja, besok cedera, lusa dilupakan. Tetapi waktumu tidak kembali. Anakmu tidak kecil selamanya. Istrimu tidak selamanya menunggu. Subuh yang lewat tidak bisa diulang.

Maka boikotlah Piala Dunia jika itu telah mencuri hidupmu.

Bukan karena kita benci olahraga.

Kita hanya menolak menjadi budak tontonan.

Berhentilah menonton bola terlalu lama.

Mulailah menendang bola.

Mulailah menggerakkan tubuh.

Mulailah pulang ke rumah sebagai laki-laki yang benar-benar hadir.

Write a Comment

Comment