by

Ketika Guru Tidak Layak Digugu dan Ditiru

Ada Mata-Mata

Anak-anak datang ke kelas bukan hanya membawa tas.

Mereka membawa mata.

Mereka melihat cara guru bicara. Cara guru tertawa. Cara guru marah. Cara guru memakai ponsel. Cara guru berpakaian. Cara guru menjaga diri. Bahkan cara guru menghabiskan waktu luang.

Guru sering mengira tugasnya hanya menjelaskan pelajaran. Matematika. Bahasa. Agama. Sejarah. Lalu selesai.

Tidak.

Guru adalah pelajaran itu sendiri.

Dalam budaya Jawa, guru disebut “digugu lan ditiru”. Dipercaya ucapannya. Ditiru perbuatannya. Tapi apa jadinya jika yang digugu tidak lagi layak dipercaya? Apa jadinya jika yang ditiru justru sedang rusak oleh hiburan, media sosial, dan hilangnya rasa malu?

Kita sibuk bicara kurikulum. Sibuk bicara metode. Sibuk bicara nilai rapor. Tapi lupa bertanya satu hal yang lebih dasar.

Apakah guru masih menjadi teladan?

Kalau tidak, apa ini masih pantas disebut pendidikan?

Ketika Guru Kalah oleh Hiburan

Kita tidak sedang mengharamkan semua hiburan.

Sepak bola, pada asalnya, bisa menjadi hiburan. Menonton pertandingan tidak otomatis membuat seseorang berdosa. Anime juga tidak bisa dipukul rata dengan satu palu. Ada yang sekadar cerita. Ada pula yang penuh aurat, kekerasan, syirik, pacaran, fantasi cabul, dan nilai yang merusak hati.

Masalahnya bukan sekadar menonton.

Masalahnya adalah kalah.

Guru yang semalam suntuk menonton bola, lalu pagi hari masuk kelas dengan mata berat. Guru yang lebih hafal nama pemain daripada nama murid yang sedang bermasalah. Guru yang hafal karakter anime, tetapi tidak peka pada anak yang mulai kehilangan adab. Guru yang lebih semangat membahas klub favorit daripada membahas sholat, kejujuran, dan tanggung jawab.

Bagaimana anak belajar disiplin jika gurunya sendiri tidak mampu mendisiplinkan matanya?

Bagaimana murid belajar mengatur waktu jika guru terus tenggelam dalam layar?

Hiburan boleh memasuki kehidupan manusia. Tapi kalau hiburan sudah duduk di kursi kemudi, manusia tersebut sedang dijajah. Bukan oleh Belanda. Bukan oleh Jepang. Tapi oleh nafsunya sendiri.

Ketika Rasa Malu Dipajang di Media Sosial

Masalah lain lebih pahit.

Bagaimana anak perempuan muslimah belajar tentang rasa malu dan menjaga kehormatan, jika sebagian pendidik muslimah justru mempertontonkan diri di media sosial tanpa rasa malu?

Kita tidak sedang membicarakan orang tertentu. Kita tidak sedang membuka aib. Kita sedang membicarakan gejala.

Ada budaya pamer wajah. Pamer tubuh. Pamer gaya hidup. Joget. Pose menggoda. Konten mencari perhatian. Caption Islami, tetapi gambar mengundang pandangan. Nasihat tentang izzah, tetapi perilaku mengejar validasi.

Murid perempuan melihat semua itu.

Diam-diam mereka belajar.

Bukan dari ceramah. Bukan dari poster adab di dinding kelas. Tapi dari contoh yang muncul di layar ponsel mereka.

Jika guru berkata, “Jadilah muslimah yang menjaga kehormatan,” tetapi akunnya sendiri menjadi etalase perhatian, nasihat itu akan kehilangan tulang.

Tentu rasa malu bukan hanya untuk perempuan. Laki-laki juga wajib menjaga pandangan, ucapan, pakaian, candaan, dan interaksi. Tapi dalam pendidikan anak perempuan muslimah, guru muslimah punya tempat khusus. Dia bukan hanya pengajar. Dia model hidup.

Jika modelnya retak, murid jadi bingung.

Islam Menuntut Teladan

Allah menegur orang yang mengatakan sesuatu tetapi tidak melakukannya. Dalam QS. As-Saff ayat 2–3, Allah menyebut amat besar kebencian di sisi-Nya ketika seseorang berkata apa yang tidak dia kerjakan.

Ayat ini cukup membuat guru gemetar.

Mengajarkan adab, tapi hidup tanpa adab.

Mengajarkan malu, tapi menenggelamkan malu.

Mengajarkan disiplin, tapi kalah oleh hiburan.

Mengajarkan takwa, tapi lalai ketika tidak dilihat kepala sekolah.

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik. Allah menyebut beliau sebagai uswah hasanah dalam QS. Al-Ahzab ayat 21. Nabi bukan hanya memberi perintah. Beliau hidup sebagai contoh. Beliau mengajarkan shalot, dan beliau sholat. Beliau mengajarkan sabar, dan beliau bersabar. Beliau mengajarkan malu, dan beliau menjaga kehormatan.

Rasulullah ﷺ juga bersabda bahwa setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya. Guru adalah pemimpin di kelas. Dia akan ditanya. Bukan hanya tentang nilai. Tapi juga tentang pengaruh.

Hadis lain menyebut, rasa malu adalah bagian dari iman. Jika malu hilang, jangan buru-buru bicara kreativitas. Jangan cepat-cepat menyebutnya ekspresi diri. Bisa jadi yang sedang hilang adalah pagar iman.

Rasulullah ﷺ juga mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu: sehat dan waktu luang. Inilah penyakit zaman ini. Waktu luang tidak dipakai untuk ilmu, ibadah, keluarga, atau melayani murid. Dia jatuh ke layar. Lalu tenggelam.

Ulama dan Kehormatan Ilmu

Para ulama sejak dulu paham bahwa ilmu tidak hanya butuh otak. Ilmu butuh adab.

Imam Al-Ghazali menjelaskan bahwa pendidik bukan sekadar pemindah pengetahuan. Dia membentuk jiwa. Maka guru harus menjaga niat, amal, dan perilakunya. Ilmu yang tidak tampak dalam akhlak akan kehilangan cahaya.

Ibnu Jama’ah, dalam pembahasan adab guru dan murid, menekankan kehormatan ilmu. Seorang pembawa ilmu tidak pantas merendahkan dirinya dengan perkara sia-sia. Wibawa guru bukan kesombongan. Wibawa adalah pagar agar ilmu tidak dianggap murah.

KH. Muhammad Hasyim Asy’ari dalam Adabul ‘Alim wal Muta’allim juga menekankan adab orang berilmu. Guru harus membersihkan hati, menjaga akhlak, dan menjauhi perkara yang merendahkan martabat ilmu.

Maka pertanyaannya sederhana.

Jika guru menjadikan dirinya tontonan konyol, bagaimana murid belajar menjadikan ilmu sebagai kemuliaan?

Kisah Guru Terbaik

Anas bin Malik pernah melayani Rasulullah ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau mengatakan Nabi tidak pernah membentaknya dengan ucapan kasar. Tidak pula berkata, “Mengapa kamu melakukan ini?” atau “Mengapa kamu tidak melakukan itu?”

Itulah pendidikan.

Bukan hanya teori. Bukan hanya modul. Bukan hanya slogan.

Akhlak yang hadir setiap hari.

Ada pula kisah putri Nabi Syu’aib dalam QS. Al-Qashash. Dia keluar untuk satu keperluan. Dia berbicara kepada Nabi Musa. Dia menyampaikan amanah. Tapi Al-Qur’an menyebut dia datang dengan rasa malu.

Malu tidak membuatnya lumpuh.

Malu menjaganya tetap mulia.

Itulah pelajaran untuk zaman media sosial. Muslimah boleh berperan. Boleh dikenal. Boleh berbicara. Boleh mengajar. Tapi dikenal karena ilmu jauh lebih mulia daripada dikenal karena pose dan sensasi.

Jangan Menghakimi, Tapi Jangan Menormalisasi

Guru juga manusia.

Guru bisa lelah. Guru bisa salah. Guru bisa tergelincir. Maka jangan mencari-cari aib. Jangan memfitnah. Jangan membuat daftar dosa guru di grup WhatsApp. Itu bukan nasihat. Itu pasar ghibah.

Tapi jangan pula menormalisasi kerusakan.

Menasihati krisis keteladanan bukan kebencian kepada guru. Justru itu bentuk cinta kepada pendidikan.

Guru boleh punya hiburan. Tapi guru tidak boleh menjadi budak hiburan.

Guru boleh punya media sosial. Tapi guru tidak boleh kehilangan kehormatan di sana.

Guru boleh belajar pelan-pelan. Tapi guru tidak boleh nyaman menjadi contoh buruk.

Sebelum Mengajar, Didik Diri Sendiri

Guru perlu audit hidupnya.

Berapa jam untuk ilmu?

Berapa jam untuk ibadah?

Berapa jam untuk keluarga?

Berapa jam untuk melayani murid?

Berapa jam habis untuk layar?

Guru perlu melihat lagi akunnya. Apakah media sosialnya menjaga wibawa atau menghancurkannya? Guru perlu melihat lagi tontonannya. Apakah itu menambah akal atau merusak hati?

Lembaga pendidikan juga harus berani membangun budaya adab. Bukan hanya mengejar administrasi. Kepala sekolah dan kepala madrasah harus membina guru, bukan hanya menagih perangkat ajar.

Sebab anak-anak tidak hanya mendengar apa yang guru katakan.

Mereka diam-diam menyalin cara guru hidup.

Maka sebelum meminta murid menjadi saleh, guru harus bertanya kepada dirinya sendiri:

“Apakah hidupku layak ditiru?”

Write a Comment

Comment