Janji yang Terlalu Mudah Diucapkan
Apa jaminannya kita akan rajin ibadah setelah kaya, kalau saat miskin saja kita jadi pemalas?
Pertanyaan ini tidak enak didengar.
Tapi kadang hati memang perlu diguncang.
Kita sering punya alasan yang terdengar masuk akal.
Nanti kalau hidup sudah mapan.
Nanti kalau cicilan lunas.
Nanti kalau anak-anak sudah besar.
Nanti kalau pekerjaan tidak menumpuk.
Nanti kalau kepala tidak lagi penuh urusan beras, bensin, kontrakan, sekolah, dan tagihan.
Masalahnya, hidup tidak pernah benar-benar selesai.
Satu urusan selesai, urusan lain datang.
Satu tagihan lunas, kebutuhan baru muncul.
Satu kecemasan pergi, kecemasan lain duduk menggantikannya.
“Nanti” itu licin.
Dan sering kali, “nanti” adalah nama lain dari tidak mau mulai.
Ibadah Tidak Menunggu Kaya
Allah tidak menciptakan manusia untuk menunggu kaya.
Allah menciptakan manusia untuk beribadah kepada-Nya.
Dalam QS Adz-Dzariyat: 56, Allah berfirman bahwa jin dan manusia tidak diciptakan kecuali untuk beribadah kepada-Nya.
Ayat itu tidak berkata: beribadahlah setelah saldo aman.
Tidak berkata: sholatlah setelah hidup lapang.
Tidak berkata: taatlah setelah dompet tebal.
Ibadah adalah tujuan hidup.
Bukan kegiatan sisa waktu.
Dalam QS Thoha: 132, Allah memerintahkan Nabi ﷺ untuk menyuruh keluarganya shalat dan bersabar dalam mengerjakannya. Lalu Allah menegaskan, “Kami tidak meminta rezeki kepadamu. Kamilah yang memberi rezeki kepadamu.”
Ini menampar.
Kita sering meninggalkan sholat demi mengejar rezeki.
Padahal rezeki itu milik Allah.
Kita mengejar pemberian, tapi melupakan Sang Maha Pemberi.
Aneh.
Tapi sering terjadi.
Miskin Itu Berat, Tapi Bukan Alasan
Miskin memang berat.
Tidak perlu dibuat jadi indah.
Lapar itu nyata. Utang itu nyata. Anak sakit itu nyata. Harga kebutuhan naik itu nyata. Kepala yang penuh hitungan juga nyata.
Islam tidak meremehkan kemiskinan.
Tapi kemiskinan tidak boleh dijadikan alasan untuk menjauh dari Allah.
Banyak orang miskin tetap sholat.
Tetap puasa.
Tetap berdoa.
Tetap mencari yang halal.
Tetap mengajarkan anaknya mengenal Allah.
Mereka tidak punya banyak sandaran, maka mereka belajar bersandar kepada Allah.
Kemiskinan bisa membuat seseorang dekat kepada Allah.
Bisa juga membuatnya jauh.
Tergantung hatinya.
Yang membuat seseorang malas ibadah bukan semata-mata miskin.
Sering kali, yang membuatnya malas adalah kebiasaan mencari pembenaran.
Hari ini alasannya miskin.
Besok, kalau kaya, alasannya sibuk.
Lusa, kalau tua, alasannya badan sudah lemah.
Begitulah manusia kalau terlalu lama berteman dengan kata “nanti”.
Kaya Juga Bukan Jaminan
Sebagian orang membayangkan kekayaan seperti pintu otomatis menuju kesalehan.
Nanti kalau kaya, saya akan sedekah banyak.
Nanti kalau punya rumah besar, saya akan menghadiri majelis ilmu.
Nanti kalau punya mobil, saya akan sering ke masjid.
Nanti kalau bisnis lancar, saya akan umroh.
Indah sekali.
Tapi siapa yang menjamin?
Al-Qur’an justru memberi peringatan dalam QS At-Takatsur bahwa bermegah-megahan telah melalaikan manusia hingga akhirnya mereka masuk ke liang lahat.
Kekayaan tidak otomatis melembutkan hati.
Kadang kekayaan hanya mengganti jenis kesibukan.
Dulu sibuk mencari uang.
Sekarang sibuk menjaga uang.
Dulu cemas karena tidak punya.
Sekarang cemas karena takut berkurang.
Dulu menunda sholat karena lelah bekerja.
Sekarang menunda sholat karena rapat, perjalanan bisnis, tamu, proyek, dan chat yang tidak habis-habis.
Kalau saat kondisi sempit seseorang tidak melatih diri untuk taat, kelapangan bisa menjadi tempat baru untuk lalai.
Dulu malas di atas tikar.
Sekarang malas di atas sofa mahal.
Dulu menunda sholat karena berjalan kaki.
Sekarang menunda shalat karena terlalu nyaman di mobil ber-AC.
Masalahnya bukan miskin atau kaya.
Masalahnya hati.
Ibadah Itu Dilatih
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit.
Ini penting.
Allah tidak meminta kita langsung besar.
Allah mencintai yang terus berjalan.
Dua rokaat yang dijaga.
Sedekah kecil yang rutin.
Dzikir pendek yang tidak ditinggalkan.
Satu halaman Al-Qur’an yang dibaca setiap hari.
Sholat tepat waktu meski hati belum selalu khusyuk.
Ibadah bukan soal menunggu perasaan siap.
Ibadah adalah keputusan.
Kalau menunggu hidup longgar, mungkin kita tidak mulai-mulai.
Kalau menunggu hati lembut, mungkin kita terus menunda.
Kalau menunggu kaya, mungkin kekayaan datang bersama kelalaian baru.
Hasan al-Bashri pernah berkata bahwa manusia hanyalah kumpulan hari. Jika satu hari berlalu, berlalu pula sebagian dari dirinya.
Maka setiap hari yang habis untuk menunda taat bukan sekadar waktu yang pergi.
Itu bagian dari diri kita yang hilang.
Dan tidak kembali.
Sehat dan Waktu Luang Sering Menipu
Rasulullah ﷺ bersabda bahwa ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: sehat dan waktu luang.
Kita sering merasa masih punya waktu.
Masih muda.
Masih kuat.
Masih bisa nanti.
Masih bisa taubat besok.
Masih bisa memperbaiki sholat setelah hidup tenang.
Tapi kematian tidak menunggu hidup kita rapi.
Dalam QS Al-Munafiqun: 10-11, Allah menggambarkan manusia yang meminta ditunda kematiannya agar bisa bersedekah dan menjadi orang saleh. Tapi Allah menegaskan bahwa kematian tidak akan ditunda apabila ajalnya telah datang.
Perhatikan.
Saat ajal datang, manusia tidak minta kembali untuk menambah koleksi duniawi.
Tidak minta kembali untuk membeli rumah.
Tidak minta kembali untuk mengejar gengsi.
Dia minta kembali untuk bersedekah.
Dia minta kembali untuk menjadi saleh.
Tapi pintu sudah tertutup.
Dan penyesalan yang paling sakit adalah penyesalan yang sudah tidak bisa diperbaiki.
Mulailah Sekarang
Jadi pertanyaannya sederhana.
Apa jaminannya kita akan rajin ibadah saat kaya, kalau hari ini saja kita malas?
Tidak ada.
Yang ada hanya latihan hari ini.
Sholat hari ini.
Taubat hari ini.
Sedekah hari ini.
Membaca Al-Qur’an hari ini.
Menjaga lisan hari ini.
Mendidik keluarga hari ini.
Mengalahkan malas hari ini.
Ibadah tidak menunggu hidup tenang.
Justru ibadah yang membuat hidup menjadi tenang.
Kalau kelak Allah memberi kita kaya, semoga kekayaan itu menemukan kita sudah terbiasa taat. Sudah terbiasa sujud. Sudah terbiasa memberi. Sudah terbiasa pulang kepada Allah.
Sebab harta tidak selalu mengubah arah hati.
Harta sering hanya memperbesar apa yang sudah ada di dalam hati.
Kalau hati condong kepada Allah, harta menjadi kendaraan.
Kalau hati condong kepada dunia, harta menjadi jurang.
Maka jangan menunggu kaya untuk ibadah.
Ibadahlah sekarang.
Dalam kesempitan.
Dalam lelah.
Dalam hidup yang morat-marit.
Sebab justru di situlah Allah melihat kesungguhan kita.