Janji yang Terlalu Mudah Diucapkan
Apa yang menjadi jaminan jika kelak seseorang akan rajin ibadah jika sudah kaya? Sedangkan masih miskin saja malas ibadah.
Kalimat itu tidak sopan. Tidak ramah. Tidak enak dibaca. Tapi justru dibutuhkan karena jujur.
Dia seperti suara kecil yang muncul tiba-tiba di kepala, lalu tidak mau pergi. Suara yang mengganggu, karena dia membongkar satu kebiasaan lama: kebiasaan menunda ketaatan dengan alasan menunggu hidup lebih layak.
Banyak orang hidup dari janji ke janji. Janji pada Allah, tapi lebih sering pada diri sendiri. Nanti, katanya. Nanti kalau sudah tidak pusing soal uang. Nanti kalau sudah punya waktu. Nanti kalau hidup sudah beres.
Masalahnya, hidup jarang benar-benar beres.
Ilusi Bernama “Nanti”
“Nanti” adalah kata paling berbahaya yang pernah ditemukan manusia. Pendek, terdengar masuk akal, dan bersifat sangat memaafkan.
Dengan “nanti”, seseorang bisa menunda apa pun tanpa merasa bersalah. Termasuk ibadah.
Dia berkata pada dirinya sendiri bahwa kemiskinan adalah penghalang. Bahwa lapar, lelah, dan cemas membuat doa terasa berat. Seolah Allah hanya layak disapa ketika hidup sudah nyaman.
Padahal, “nanti” itu tidak pernah datang sendirian. Dia selalu membawa alasan baru. Ketika miskin, alasannya sibuk mencari makan. Ketika sudah cukup, alasannya sibuk menjaga harta. Ketika kaya, alasannya sibuk menikmati hidup.
“Nanti” selalu menemukan cara untuk tetap menjadi nanti.
Al-Qur’an menggambarkan pola ini dengan tajam. Manusia yang menunda kebaikan sampai ajal datang, lalu berharap waktu bisa diputar ulang. Penyesalan selalu datang belakangan. Tidak pernah di awal.
Ibadah Tidak Menunggu Kondisi
Ibadah tidak diciptakan untuk orang-orang yang hidupnya rapi. Dia tidak menunggu saldo aman atau jadwal kosong.
Perintah beribadah turun kepada manusia apa adanya. Dalam lapar. Dalam takut. Dalam sempit.
Jika ibadah memang harus menunggu kaya, maka sebagian besar manusia tidak akan pernah layak beribadah. Tapi faktanya, kewajiban itu datang tanpa syarat kekayaan.
Masalahnya bukan pada miskin atau kaya. Masalahnya pada kebiasaan.
Rasulullah Muhammad pernah mengatakan bahwa amalan yang paling dicintai Allah adalah yang dilakukan terus-menerus, meskipun sedikit. Bukan yang megah, bukan yang menunggu waktu luang, tapi yang setia dilakukan dalam keadaan apa pun.
Konsistensi tidak lahir dari kelapangan. Dia lahir dari latihan. Dari memaksa diri ketika malas. Dari diri tetap datang meski hati belum sepenuhnya hadir.
Ketika Miskin, Alasan Terasa Mulia
Kemiskinan sering diberi peran terlalu besar dalam cerita kemalasan ibadah. Seolah dia biang keladi segala kelalaian.
Padahal, banyak orang miskin yang tetap menjaga shalatnya. Tetap berdoa dengan khusyuk. Tetap menggenggam harapan pada Allah karena memang tidak punya apa-apa lagi.
Dalam keterbatasan, ketergantungan terasa nyata. Tuhan tidak lagi konsep abstrak. Dia menjadi tempat bersandar terakhir.
Yang membuat malas ibadah bukan miskin. Yang membuat malas ibadah adalah kebiasaan mencari pembenaran.
Miskin hanya dijadikan tameng. Agar seseorang bisa berkata bahwa dia punya alasan kuat untuk lalai. Padahal, alasan itu rapuh sejak awal.
Kekayaan Bukan Hadiah, Tapi Ujian
Ada anggapan diam-diam bahwa kekayaan adalah hadiah atas kesabaran. Bahwa ketika seseorang sudah kaya, hidup akan lebih lurus. Lebih tertib. Lebih taat.
Al-Qur’an justru berkata sebaliknya. Bermegah-megahan sering kali melalaikan manusia. Kekayaan membuat orang sibuk. Bukan hanya sibuk bekerja, tapi sibuk menjaga, menghitung, memamerkan, dan menikmati.
Waktu yang dulu diisi doa, kini diisi rapat. Pikiran yang dulu gelisah karena lapar, kini gelisah karena takut rugi.
Kekayaan membuka pintu ujian baru. Dia tidak otomatis melunakkan hati. Bahkan sering kali mengeraskannya.
Jika saat miskin seseorang malas ibadah, kekayaan hanya memberinya fasilitas lebih nyaman untuk tetap malas.
Kisah yang Terlalu Sering Terulang
Dalam kisah-kisah lama, diceritakan tentang seseorang yang meminta kekayaan agar bisa lebih taat. Ketika doanya dikabulkan, hidupnya berubah. Hartanya bertambah. Kesibukannya meningkat. Masjid perlahan ditinggalkan.
Benar atau tidak kisah itu secara sejarah, maknanya terasa sangat akrab.
Berapa banyak orang yang dulu rajin datang ke rumah ibadah saat hidupnya susah, lalu menghilang ketika hidupnya lapang?
Berapa banyak yang dulu berdoa panjang ketika tidak punya apa-apa, lalu lupa berdoa ketika semuanya tersedia?
Kisah itu tidak sedang menunjuk siapa pun. Dia hanya cermin. Dan cermin sering kali tidak menyenangkan.
Disiplin yang Tidak Menunggu Siap
Ibadah bukan soal perasaan siap. Dia soal keputusan.
Menunggu hati lembut untuk beribadah sama seperti menunggu laut tenang untuk belajar berenang. Tidak akan pernah mulai.
Disiplin spiritual dibentuk dari tindakan berulang, bukan dari niat besar yang disimpan untuk masa depan. Niat yang tidak segera dijalankan hanya akan berubah menjadi cerita.
Rasulullah Muhammad mengingatkan bahwa manusia sering tertipu oleh dua hal: kesehatan dan waktu luang. Dua nikmat yang dianggap akan selalu ada, padahal justru paling cepat hilang.
Jika waktu luang saja disia-siakan, mengapa seseorang begitu yakin bahwa kekayaan akan membuatnya lebih taat?
Pengakuan yang Tidak Nyaman
Barangkali esai ini tidak sedang membicarakan orang lain. Barangkali dia sedang membicarakan diri sendiri.
Tentang doa-doa yang ditunda. Tentang shalat yang disepelekan. Tentang janji yang terlalu mudah diucapkan, tapi terlalu berat dijalankan.
Mengakui kemalasan sendiri memang tidak heroik. Tapi kejujuran selalu jadi langkah pertama.
Tidak ada jaminan kualitas ibadah seseorang akan berubah ketika saldo rekeningnya bertambah. Yang ada hanya peluang. Dan peluang itu sering disia-siakan oleh kebiasaan lama yang tidak pernah dilatih ulang.
Tidak Ada Jaminan, Hanya Pilihan
Pertanyaannya kembali sederhana.
Apa yang menjadi jaminan jika kelak seseorang akan rajin ibadah jika sudah kaya?
Tidak ada.
Yang ada hanyalah apa yang dilakukan hari ini. Dalam kondisi seadanya. Dalam hidup yang belum ideal.
Ibadah tidak menunggu hidup tenang. Justru dia yang menenangkan hidup.
Jika hari ini seseorang malas ibadah, maka kekayaan hanya akan memperhalus kemalasannya. Jika hari ini dia melatih diri untuk datang ke masjid meski berat, maka kelapangan, jika datang, akan menemukan seseorang yang sudah terbiasa setia.
Tidak ada jaminan di masa depan. Yang ada hanya keputusan kecil yang diulang hari ini. Besok. Lusa.
Dan mungkin, di situlah ibadah sebenarnya bermula.