Setelah Membaca Novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar

Membaca novel Teruslah Bodoh, Jangan Pintar karya Tere Liye adalah pengalaman yang menyentuh saraf-saraf terdalam tentang apa itu kebijaksanaan dan pengetahuan. Sebagai seorang guru, saya melihat novel ini sebagai ajakan untuk menantang status quo, untuk mempertanyakan apa yang sering kita anggap sebagai kebenaran mutlak. Kebodohan yang dimaksud di sini bukanlah ketidaktahuan, melainkan keberanian untuk keluar dari jerat pikiran yang seragam, dari definisi ‘pintar’ yang sering kali mengekang kreativitas dan keaslian diri.

Continue reading

Setelah Membaca Novel Negeri Para Bedebah

Membaca novel Negeri Para Bedebah itu seperti duduk di warung kopi, menyaksikan bagaimana dunia ini berjalan di belakang layar. Sebagai guru, saya tak bisa menahan diri untuk merenung, mengingat kembali tujuan dari pendidikan yang sebenarnya. Tere Liye dengan lihai merajut kisah Thomas, seorang konsultan keuangan, yang terjebak dalam jaring kekuasaan dan kepentingan. Dunia yang ia hadapi begitu gelap, penuh intrik dan tipu daya. Dan sebagai guru, saya merasa tertampar—apakah kita, dalam mendidik generasi muda, hanya melahirkan orang-orang pintar tanpa adab dan kehilangan arah?

Continue reading

Burungku Sakit

Burungku, yang dulu terbang tinggi tanpa ragu
Dengan sayap perkasa membelah langit biru
Kini terkapar di dahan yang rapuh
Tertatih-tatih di bawah bayang kekuasaan yang membatu

Dulu, angin membawanya menari di atas awan
Kini, rantai-rantai tak terlihat mencekik perlahan
Oligarki dan politik dinasti, bak racun yang merayap diam-diam
Menggerogoti semangat yang dulu tak pernah tenggelam

Burungku sekarat, bukan karena usia
Tapi karena nestapa, karena cinta yang dipaksa buta
Pada kepentingan yang sempit, pada harta nafsu durjana
Ia merintih dalam bisu, menunggu pagi yang tak kunjung tiba

Tapi Garudaku takkan sirna
Dalam dadanya, masih tersimpan cahaya
Kecil, namun berani menantang sang pemilik tahta
Menentang mereka yang ingin merenggut kebebasan terakhirnya

Burungku sakit, tapi ia belum kalah
Selama masih ada yang percaya
Bahwa langit itu luas, dan angin masih setia
Membawanya terbang kembali ke rumah Pancasila