Cukup Teori & Teori Cukup

Antara Kitab Suci dan Lemak Kehidupan

Ada lelaki usia 38 tahun yang setiap hari membaca Al-Quran. Tiga juz sehari. Tidak pernah absen. Hafal ayat-ayat tentang kejujuran. Tapi kemarin dia menipu pelanggannya dengan mengurangi timbangan. Ada perempuan 39 tahun yang menangis setiap mendengar ceramah tentang surga-neraka. Tapi dia membentak pembantunya karena secangkir teh terlalu manis. Ada seorang imam masjid yang bergetar ketika membaca doa, tapi menunggak biaya sekolah anaknya karena malas bekerja.

Continue reading

Ketakutan dan Impian: Untukku yang Akan Tua dan Pernah Muda

Kesadaran Awal

Dalam kesendirian malam ini, dengan tubuh yang semakin lelah dan waktu yang semakin terbatas, aku menyadari bahwa hidup ini memiliki dua hal yang selalu beriringan: ketakutan dan impian. Dua hal ini sering datang bergantian, kadang bersamaan, bahkan dalam bentuk yang sama. Ketakutan yang mencekam, dan impian yang menggelora. Kedua-duanya begitu mengatur langkahku, mempengaruhi cara berpikirku, dan bahkan mempengaruhi pilihan-pilihanku. Saat aku menulis ini, aku tidak hanya berusaha memahami ketakutan dan impian yang datang padaku seiring bertambahnya usia, tetapi juga berusaha berbicara kepada diriku yang lebih muda. Sebuah surat untuk diriku yang berusia 15 tahun.

Continue reading

Meski Maksiat Tidak Pernah Tamat

Utopia Ideal: Bebas Maksiat

Setiap orang beriman pasti memiliki impian untuk hidup dalam kondisi yang bersih dari dosa. Harapan ini begitu murni dan alami. Di dalam hati setiap Muslim, ada kerinduan besar untuk selalu berada dalam keadaan yang suci, mendekatkan diri pada Allah, menjalankan perintah-Nya, dan menjauhi larangan-Nya. Tidak ada yang lebih diinginkan selain terbebas dari segala bentuk maksiat dan dosa yang bisa menghalangi jalan kita menuju Surga. Tapi kenyataannya, meskipun niat baik selalu ada, banyak dari kita yang sering terjerumus dalam dosa. Itulah ujian hidup, dan ini adalah kenyataan yang harus kita hadapi. Maksiat memang tidak pernah tamat.

Continue reading