Lebih Dari Gaji
Bayangkan dua perempuan yang sama-sama bangun sebelum matahari terbit. Yang pertama memasak di restoran. Dia disebut pekerja. Yang kedua memasak untuk suami dan anak-anaknya. Dia ditanya, “Memangnya seharian di rumah ngapain saja?”
Aneh. Ketika mengurus anak orang lain, seorang perempuan disebut pengasuh. Ketika mengurus anak sendiri, dia dianggap pengangguran.
Barangkali persoalannya bukan pada pekerjaan ibu rumah tangga, melainkan pada cara kita menilai pekerjaan. Kita begitu mudah menghitung gaji, tetapi gagal menghitung nilai dari segala hal yang membuat sebuah keluarga tetap waras.
Sumur: Pekerjaan yang Tidak Masuk Slip Gaji
Mencuci pakaian, membersihkan lantai, mengurus anak sakit, atau memastikan makanan tersedia bukan pekerjaan yang selesai karena dipikirkan. Semuanya memerlukan waktu dan tenaga. Coba bayangkan jika seluruh pekerjaan itu diserahkan kepada orang lain. Tentu ada biaya yang harus dibayar.
Laporan Government Accountability Office Amerika Serikat pada September 2026 memperkirakan nilai pekerjaan rumah tangga tanpa upah di negara tersebut mencapai 5,6–6 triliun dolar pada 2024. Angka itu mencakup pekerjaan seluruh anggota rumah tangga, bukan hanya ibu. Tetapi pesannya jelas: tidak menerima gaji bukan berarti tidak menghasilkan nilai.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Setiap kalian adalah pemimpin dan setiap kalian akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpinnya.” Beliau juga menyebut tanggung jawab perempuan terhadap rumah dan anak-anaknya, serta tanggung jawab laki-laki terhadap keluarganya (HR. Al-Bukhari no. 5200).
Asma’ binti Abu Bakar pernah mengurus kuda, mengambil air, menyiapkan adonan, dan memikul biji kurma dari kebun yang jauh ketika hidup bersama Zubair bin Awwam (HR. Al-Bukhari no. 5224). Kisah itu bukan perintah agar istri menanggung semua beban. Namun, siapa berani menyebut pekerjaan Asma’ sebagai pekerjaan remeh?
Dapur: Tempat Manusia Dibentuk
Dapur menghasilkan makanan. Tetapi kehidupan di rumah menghasilkan sesuatu yang lebih jauh akibatnya: kebiasaan, kemampuan berbahasa, akhlak, dan rasa aman anak-anak.
Al-Qur’an mengingatkan beratnya pengorbanan seorang ibu saat mengandung dan menyusui (QS. Luqman: 14). Ketika ditanya siapa yang paling berhak mendapat perlakuan baik, Rasulullah ﷺ menjawab “ibumu” tiga kali sebelum menyebut “ayahmu” (HR. Al-Bukhari no. 5971).
Aisyah pernah memberi sebutir kurma kepada seorang ibu yang memiliki dua anak putri. Ibu itu membelahnya untuk kedua anaknya tanpa menyisakan bagian bagi dirinya. Rasulullah ﷺ kemudian menjelaskan keutamaan berbuat baik kepada anak-anak perempuan (HR. Al-Bukhari no. 5995). Sebutir kurma tidak akan masuk catatan prestasi. Tetapi Islam melihat kasih yang terkandung di dalamnya.
Ilmu pengetahuan pun menjelaskan pentingnya pengasuhan. Center on the Developing Child di Harvard menunjukkan bahwa percakapan, respons, dan perhatian timbal balik antara anak dengan orang dewasa membantu perkembangan otak, bahasa, serta kemampuan sosial. Kajian Selman dan rekan-rekan pada 2024, yang menelaah 170 penelitian, juga menemukan hubungan antara rutinitas keluarga dan perkembangan anak yang baik.
Semua ini tidak membuktikan bahwa ibu harus selalu berada di rumah. Ayah dan pengasuh lain juga dapat memberi perhatian yang baik. Namun, penelitian tersebut mengingatkan betapa besar kerugian ketika anak tumbuh tanpa hubungan pengasuhan yang hangat.
Di sinilah ancaman motherless patut direnungkan: bukan sekadar anak yang ibunya bekerja atau tidak hadir secara fisik, melainkan anak yang kehilangan perhatian dan kasih yang ia butuhkan. Peradaban bisa rapuh ketika pekerjaan merawat generasi terus dianggap urusan kecil.
Kasur: Tempat Orang Dewasa Menemukan Ketenangan
Kata kasur sering dipakai untuk mengecilkan perempuan menjadi pelayan kebutuhan birahi suami. Padahal, Al-Qur’an menyebut pasangan sebagai pakaian satu sama lain (QS. Al-Baqarah: 187). Allah juga menjadikan pernikahan tempat memperoleh ketenteraman, kasih, dan sayang (QS. Ar-Rum: 21).
Keintiman suami-istri bahkan dapat bernilai sedekah (HR. Muslim no. 1006). Tetapi pernikahan bukan pelayanan satu arah. Kedekatan menuntut penghormatan, perhatian, dan tanggung jawab kedua pihak.
Ingat Khadijah. Ketika Rasulullah ﷺ pulang dalam ketakutan setelah menerima wahyu pertama, Khadijah menenangkan beliau dan mengingatkan kebaikan-kebaikannya (HR. Al-Bukhari no. 3). Dalam salah satu peristiwa terpenting sejarah Islam, ada seorang istri yang menjadi tempat suaminya menemukan keberanian.
Keberhasilan Tidak Selalu Memiliki Slip Gaji
Kita mengajari perempuan untuk mengejar nilai akademik tinggi, gelar, dan karir yang cemerlang. Semua itu berguna. Namun, mengapa ketika seorang perempuan berpendidikan memilih mengasuh anak, kita menganggap ilmunya terbuang?
Stevenson dan Wolfers pada 2009 menemukan bahwa kemajuan dalam berbagai ukuran kehidupan perempuan tidak selalu diikuti kenaikan kebahagiaan yang dilaporkan. Penelitian itu tidak membuktikan bahwa bekerja membuat perempuan tidak bahagia. Ia hanya mengingatkan: keberhasilan manusia lebih rumit daripada pendapatan dan jabatan.
Al-Qur’an menjanjikan kehidupan yang baik bagi laki-laki dan perempuan yang beriman serta beramal saleh (QS. An-Nahl: 97). Ukuran kemuliaan bukan semata apa yang tertulis pada bio di media sosial.
Membela Ibu Rumah Tangga Bukan Mengurung Perempuan
Sejarah Islam juga mengenal perempuan yang belajar dan berkarya. Sekelompok perempuan pernah meminta waktu khusus untuk menuntut ilmu, dan Nabi memenuhinya (HR. Al-Bukhari no. 101). Zainab binti Jahsy bekerja dengan tangannya dan menyedekahkan hasilnya (HR. Muslim no. 2452).
Bahkan Rasulullah ﷺ membantu urusan keluarganya di rumah (HR. Al-Bukhari no. 676). Maka, membela ibu rumah tangga tidak boleh dijadikan alasan bagi suami untuk lepas tangan. Menghormati pengorbanan istri seharusnya membuat seorang suami semakin ringan membantu, bukan semakin pandai memberi perintah.
Tidak semua perempuan harus menjadi ibu rumah tangga penuh waktu. Tidak semua keluarga punya keadaan yang sama. Yang penting, pengasuhan anak tidak dikorbankan dan kerja domestik tidak dilecehkan.
Yang Sedang Kita Bela
Sumur menjaga kehidupan rumah. Dapur merawat tubuh dan membentuk kebiasaan. Kasur melambangkan kedekatan dua manusia yang membangun keluarga.
Ketiganya bukan penjara yang harus dimasuki setiap perempuan. Namun, ketiganya juga bukan tempat hina yang harus ditinggalkan agar seorang perempuan disebut sukses dan berhasil.
Ibu rumah tangga tidak sekadar menyelesaikan pekerjaan harian. Dia ikut menyiapkan manusia yang kelak menjadi tetangga, guru, pemimpin, atau orang tua. Itu tanggung jawab peradaban.
Jika kita takut pada lahirnya generasi tanpa kasih dan pengasuhan, mungkin pertanyaannya bukan lagi, “Mengapa perempuan itu hanya di rumah?” Melainkan, “Mengapa kita begitu mudah meremehkan orang yang menjaga kehidupan di dalam rumahnya?”