Sejenak ke Belakang
Bayangkan Indonesia pada 1944.
Belum ada upacara 17 Agustus. Belum ada Merah Putih yang berkibar sebagai bendera sebuah negara merdeka. Penjara, kerja paksa, kelaparan, dan rasa takut masih menjadi bagian dari hidup rakyat Nusantara.
Di tengah keadaan itu, sebuah suara datang dari tempat yang jauh.
Pada 6 September 1944, Radio Berlin berbahasa Arab menyiarkan ucapan selamat dari Mufti Besar Palestina, Syaikh Muhammad Amin Al-Husaini rohimahulloh, berkaitan dengan harapan kemerdekaan Indonesia yang saat itu dijanjikan penjajah Jepang. Siaran tersebut diberitakan selama dua hari dan disebarkan melalui pers Arab. Ini memang belum menjadi pengakuan resmi antar negara, Indonesia bahkan belum memproklamasikan kemerdekaannya, tetapi dukungan politik dan moral itu sangat berarti bagi perjuangan bangsa yang masih mencari kawan.
Palestina mengingat Indonesia ketika Indonesia belum punya banyak teman.
Hari ini keadaan berbalik. Kita dapat belajar di ruang kelas, membuka laptop, mengerjakan tugas, lalu membicarakan masa depan. Sementara itu, banyak anak di Gaza berusaha mempertahankan hak belajar di tengah kehilangan rumah, keluarga, sekolah, dan kampus.
Ayyah Kishko, seorang mahasiswa keperawatan di Gaza, kehilangan anggota keluarganya dan berkali-kali mengungsi. Namun dia memilih kembali belajar melalui ruang belajar sementara yang dibuat oleh UNESCO. Bagi Ayyah, pendidikan bukan sekadar mengejar gelar. Pendidikan memberinya tujuan ketika hidup di sekelilingnya porak-poranda.
Mungkin inilah waktunya kita membayar “hutang sejarah”. Bukan hutang dalam arti transaksi. Ini hutang ingatan, rasa syukur, dan keberanian.
Nasionalisme Tidak Berhenti di Garis Peta
Ada orang berkata, “Mengapa memikirkan Palestina? Urus saja Indonesia.”
Kalimat itu terdengar masuk akal. Namun terasa bertabrakan dengan jiwa bangsa Indonesia sendiri. Alinea pertama Pembukaan UUD 1945 berbunyi:
“Bahwa sesungguhnya kemerdekaan itu ialah hak segala bangsa dan oleh sebab itu, maka penjajahan di atas dunia harus dihapuskan, karena tidak sesuai dengan peri-kemanusiaan dan peri-keadilan.”
Para pendiri bangsa tidak menulis bahwa kemerdekaan hanya menjadi hak bangsa Indonesia. Mereka menulis segala bangsa. Mereka juga tidak meminta agar penjajahan sekadar dikurangi. Mereka menuntut agar penjajahan dihapuskan.
Karena itu, membela kemerdekaan Palestina (Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho) bukan tindakan yang mengurangi nasionalisme. Justru di situlah nasionalisme Indonesia diuji.
Merah Putih tidak dijahit agar kita menutup mata terhadap penjajahan. Merah Putih dikibarkan untuk mengingatkan betapa mahal harga kebebasan.
Kita tidak menginginkan Indonesia dengan menjadi bangsa yang egois. Kita mencintai Indonesia dengan menjaga janji yang tertulis dalam dasar negaranya: melawan penjajahan, membela kemanusiaan, dan menegakkan keadilan.
Smartphone Menjadi Saksi
Medan perjuangan telah berubah. Tidak semua orang berdiri di garis depan. Tidak semua orang menjadi dokter, diplomat, wartawan, atau relawan kemanusiaan.
Namun hampir semua Gen Z memegang sebuah benda kecil yang dapat merekam, menerjemahkan, menghubungkan, dan menyebarkan informasi: smartphone.
Masalahnya, smartphone juga dapat berubah menjadi sumur tanpa dasar. Jempol bergerak berjam-jam, tetapi tidak menghasilkan apa-apa. Kita mengetahui tren terbaru, tetapi tidak mengenal sejarah. Kita cepat membagikan kemarahan, tetapi malas memeriksa kebenaran.
Karena itu, perjuangan digital harus dimulai dari pendidikan.
Belajar bahasa Arab dan Inggris membuat kita mampu membaca sumber pertama, bukan hanya potongan narasi. Belajar desain grafis membuat fakta yang rumit lebih mudah dipahami. Belajar menulis membantu kita menyusun argumen tanpa makian. Belajar coding dapat melahirkan situs arsip, pusat data, media pendidikan, atau aplikasi kemanusiaan. Literasi digital membuat kita mampu membedakan laporan yang sahih dari hoaks yang hanya mengejar emosi.
Jangan hanya mengejar konten yang viral. Kejarlah konten yang benar.
Satu video pendek berbasis data dapat membuka mata ribuan orang. Satu terjemahan yang tepat dapat membawa kesaksian korban kepada pembaca lintas negara. Satu poster yang jujur dapat menggerakkan bantuan. Satu karya ilmiah dapat membongkar bahasa propaganda.
Teknologi bahkan telah membantu pelajar Gaza mempertahankan hubungan dengan pendidikan. UNESCO mengembangkan Gaza Virtual Campus untuk mendukung 20.000 mahasiswa pada tahap pertama. Ruang belajar sementara juga menyediakan laptop, koneksi internet, tempat ujian, dan pendampingan bagi ribuan mahasiswa yang kehilangan akses terhadap kampus.
Inilah jihad digital dalam bentuk yang damai dan bertanggung jawab: melawan dusta dengan data, kebodohan dengan ilmu, dan sikap masa bodoh dengan kepedulian.
Islam Tidak Mengajari Kita Menjadi Penonton
Rasulullah Muhammad ﷺ menggambarkan orang-orang beriman seperti satu tubuh. Ketika satu anggota tubuh sakit, bagian lain ikut merasakan demam dan tidak dapat tidur.
Palestina bukan sekadar berita yang lewat di layar hape. Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho adalah luka pada tubuh umat.
Allah berfirman dalam An-Nisa ayat 75 tentang kewajiban membela laki-laki, perempuan, dan anak-anak yang tertindas. Ketika menafsirkan ayat tersebut, Imam Ibnu Katsir menjelaskan bahwa Allah mendorong kaum beriman untuk berjuang menyelamatkan orang-orang lemah yang hidup di bawah kedzoliman.
Tidak semua bentuk perjuangan harus sama. Ada yang membantu dengan harta. Ada yang berdoa. Ada yang menulis. Ada yang mengajar. Ada yang meneliti. Ada yang membuat teknologi.
Yang tidak boleh adalah merasa bahwa penderitaan orang lain tidak ada hubungannya dengan kita.
Rasulullah Muhammad ﷺ juga bersabda, “Orang yang tidak berterima kasih kepada manusia berarti tidak bersyukur kepada Allah.” Mengingat dukungan Palestina terhadap perjuangan Indonesia merupakan bagian dari rasa terima kasih. Mengubah ingatan itu menjadi amal adalah bentuk syukur.
Dari Ruang Kelas untuk Palestina
Kamu tidak terlalu muda untuk ikut melawan penjajahan teroris zionis yahudi israel. Namun semangat saja tidak cukup. Kepedulian membutuhkan ilmu. Kemarahan membutuhkan arah. Konten membutuhkan data.
Mulailah hari ini!
Bacalah satu artikel atau buku sejarah Palestina (Baitul Maqdis dan Masjid Al-Aqsho) dari sumber yang dapat dipercaya. Bawa pembahasannya ke ROHIS, OSIS, kelas, atau kelompok belajar. Gunakan kemampuan kamu untuk membuat tulisan, video, infografis, podcast, desain, atau penelitian. Periksa informasi sebelum membagikannya. Dukung gerakan boikot berdasarkan bukti. Sisihkan uang saku melalui lembaga kemanusiaan resmi. Jangan lupa menyebut Gaza dalam doa-doamu.
Scroll, tetapi jangan kehilangan arah. Share, tetapi jangan menyebarkan dusta. Care, tetapi jangan berhenti pada rasa sedih.
Indonesia pernah ditolong oleh suara yang datang dari jauh. Kini suara itu dapat datang dari ruang kelasmu, layar hapemu, dan ilmu yang kamu pelajari hari ini.
Sebab pendidikan bukan jalan untuk melarikan diri dari kenyataan. Pendidikan adalah cara kita mengubahnya. Teknologi bukan sekadar alat hiburan. Teknologi dapat menjadi alat kesaksian.
Dan nasionalisme bukan hanya mencintai tanah air sendiri. Nasionalisme juga berarti berani berdiri melawan penjajahan, di mana pun dan kapan pun terjadi.