by

Privilege: Hidup Tidak Adil?

Garis Start Kehidupan

Hidup memang tidak dimulai dari garis yang sama.

Ada anak yang lahir dengan pintu dunia sudah terbuka. Orang tua lengkap. Rumah aman. Uang cukup. Sekolah bagus. Buku tersedia. Guru mudah dijangkau. Koneksi sudah menunggu.

Bahkan sebelum dia bisa berjalan, sebagian jalannya sudah diratakan.

Tapi ada juga anak yang lahir dalam keadaan minus.

Bukan nol.

Minus!

Dia lahir dekat dengan utang, teriakan, lapar, dan takut. Dia tidak punya ruang untuk gagal. Sebelum mencoba, dia sudah dihukum oleh keadaan. Orang lain belajar mengejar mimpi. Dia belajar bertahan hidup.

Lalu kita bertanya:

Apakah hidup tidak adil?

Dalam ukuran manusia, sering kali tampak begitu.

Tapi dalam Islam, ketimpangan awal hidup bukan alasan untuk menjadikan Allah sebagai terdakwa.

Allah berfirman:

“Dia tidak ditanya tentang apa yang Dia perbuat, tetapi merekalah yang akan ditanya.” (QS. Al-Anbiya: 23).

Ayat ini keras.

Tapi menyelamatkan.

Sebab kalau kita terus menggugat Allah, hidup kita berhenti. Kita kalah sebelum melangkah.

Privilege Itu Nyata

Privilege itu nyata.

Ada yang punya keluarga lengkap. Ada yang punya uang. Ada yang punya kesehatan. Ada yang punya mentor. Ada yang punya jaringan. Ada yang punya lingkungan yang mendukung. Ada yang punya waktu luang.

Semua itu bisa mempercepat langkah.

Kita tidak perlu pura-pura semua orang punya modal yang sama. Islam tidak mengajarkan kepalsuan seperti itu. Rasulullah ﷺ hidup di tengah manusia dengan keadaan berbeda. Ada yang kaya. Ada yang miskin. Ada yang merdeka. Ada yang budak. Ada yang kuat. Ada yang lemah.

Tapi Islam juga mengajarkan satu hal:

Nikmat adalah amanah.

Allah berfirman:

“Kemudian kamu benar-benar akan ditanya pada hari itu tentang kenikmatan.” (QS. At-Takatsur: 8).

Jadi privilege bukan tiket bebas hisab.

Itu justru bahan pemeriksaan.

Yang diberi harta akan ditanya hartanya. Yang diberi ilmu akan ditanya ilmunya. Yang diberi waktu akan ditanya waktunya. Yang diberi kemudahan akan ditanya: untuk apa semua itu dipakai?

Adil Tidak Selalu Berarti Sama

Kita sering mengira adil berarti semua orang harus mendapat hal yang sama.

Padahal tidak begitu.

Adil bukan berarti semua bayi lahir di rumah yang sama, dengan uang yang sama, dan peluang yang sama.

Adil berarti Allah memberi ujian, beban, peluang, dan hisab sesuai ilmu dan hikmah-Nya.

Allah berfirman:

“Dan Tuhanmu tidak menzalimi seorang pun.” (QS. Al-Kahfi: 49)/

Allah juga berfirman:

“Allah tidak membebani seseorang melainkan sesuai dengan kesanggupannya.” (QS. Al-Baqarah: 286).

Manusia melihat hasil akhir.

Allah melihat titik mulai.

Allah tahu luka yang tidak tampak. Allah tahu air mata yang disembunyikan. Allah tahu usaha kecil yang tidak pernah mendapat tepuk tangan.

Maka orang yang lahir dengan kemudahan belum tentu lebih mulia.

Orang yang lahir membawa kesulitan belum tentu lebih hina.

Ukuran akhirnya bukan modal awal.

Ukuran akhirnya adalah takwa, ikhtiar, dan respons.

Semua Punya 24 Jam

Ada satu privilege yang Allah berikan kepada semua manusia: waktu.

Setiap orang punya 24 jam sehari.

Memang benar, kualitas 24 jam itu tidak sama. Ada yang 24 jamnya lapang. Ada yang 24 jamnya habis untuk bekerja. Ada yang harus merawat keluarga. Ada yang menahan sakit. Ada yang memikul trauma.

Tapi waktu tetap amanah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu padanya: kesehatan dan waktu luang.” (HR. Al-Bukhori).

Orang kaya bisa kalah karena membuang waktu.

Orang miskin juga bisa kalah karena membuang waktu.

Orang ber-privilege bisa hancur karena malas. Orang yang lahir dari minus bisa naik karena sabar, ilmu, doa, dan kerja.

Kita mungkin tidak punya modal yang sama.

Tapi kita sama-sama sedang kehilangan waktu setiap hari.

Yang Ditanya adalah Respons Kita

Saat hidup terasa tidak adil, kita mudah mencari kambing hitam.

Tuhan disalahkan.

Orang tua disalahkan.

Negara disalahkan.

Masa lalu disalahkan.

Nasib disalahkan.

Sebagian luka memang bukan salah kita. Sebagian kedzoliman memang dilakukan orang lain. Sebagian masa lalu memang pahit.

Tapi hidup tidak boleh berhenti di sana.

Allah berfirman:

“Dan bahwasanya seorang manusia tidak memperoleh selain apa yang telah diusahakannya.” (QS. An-Najm: 39).

Allah juga berfirman:

“Sesungguhnya Allah tidak akan mengubah keadaan suatu kaum sampai mereka mengubah keadaan yang ada pada diri mereka sendiri.” (QS. Ar-Ra’d: 11).

Kita tidak selalu memilih garis start.

Tapi kita ikut menentukan arah langkah.

Kita tidak selalu memilih luka pertama.

Tapi kita bertanggung jawab atas respons berikutnya.

Dari Lemon Kecut Menjadi Es Lemon Manis

Hidup kadang melemparkan lemon yang kecut.

Ada yang hanya mengeluh. Ada yang melempar lemon itu ke orang lain. Ada yang duduk menangis selamanya.

Tapi ada juga yang belajar membuat es lemon kehidupan.

Dalam Islam, ini bukan sekadar berpikir positif.

Ini sabar. Syukur. Ikhtiar. Tawakal. Husnudzon kepada Allah.

Rasulullah ﷺ bersabda:

“Sungguh menakjubkan urusan seorang mukmin. Semua urusannya baik baginya. Jika mendapat kesenangan, dia bersyukur, maka itu baik baginya. Jika ditimpa kesusahan, dia bersabar, maka itu baik baginya.” (HR. Muslim).

Orang beriman bukan orang yang tidak merasakan pahit.

Orang beriman adalah orang yang tidak membiarkan pahit itu merusak imannya.

Yusuf, Bilal, dan Mus’ab

Nabi Yusuf ‘alaihissalam tidak memulai hidup dari jalan mudah.

Beliau dibenci saudaranya. Dilempar ke sumur. Dijual sebagai budak. Difitnah. Dipenjara. Dilupakan.

Tapi Nabi Yusuf tidak rusak.

Beliau tetap menjaga diri. Tetap berbuat baik. Tetap menolong manusia. Ketika berkuasa, beliau tidak membalas dendam.

Di akhir kisah, beliau berkata:

“Sesungguhnya Tuhanku Maha Lembut terhadap apa yang Dia kehendaki.” (QS. Yusuf: 100)

Bilal bin Rabah juga tidak lahir membawa kunci dunia.

Beliau budak. Disiksa. Ditindih batu panas. Tapi lisannya tetap berkata, “Ahad, Ahad.”

Kelak beliau menjadi muadzin Rasulullah ﷺ. Bahkan Nabi ﷺ pernah mendengar suara langkah sandalnya di surga karena amal sholat sunnah wudhunya yang beliau jaga.

Lalu ada Mus’ab bin Umair.

Beliau lahir dalam kemewahan. Beliau punya privilege. Tapi ketika Islam datang, beliau memilih Allah daripada kenyamanan. Beliau menjadi duta Islam ke Madinah. Beliau syahid di Uhud.

Tiga kisah ini mengajarkan satu hal.

Yang miskin diuji.

Yang kaya diuji.

Yang sempit diuji.

Yang lapang juga diuji.

Semua manusia sedang menjalani ujiannya masing-masing.

Jangan Kalah dengan Menyalahkan Tuhan

Menyalahkan Allah tidak membuat hidup lebih ringan.

Menyalahkan takdir tidak membuat luka sembuh.

Menyalahkan keadaan tidak otomatis membuat kondisi kita membaik.

Allah berfirman:

“Boleh jadi kamu membenci sesuatu, padahal itu baik bagimu. Dan boleh jadi kamu menyukai sesuatu, padahal itu buruk bagimu. Allah mengetahui, sedangkan kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 216).

Tugas kita bukan mengadili Allah.

Tugas kita memperbaiki respons.

Ubah keluh menjadi doa.

Ubah iri menjadi usaha.

Ubah luka menjadi ilmu.

Ubah kekurangan menjadi jalan pulang.

Write a Comment

Comment