by

Parenting Itu Bukan tentang Anak

Ortu Salah Kaprah

Banyak orang tua mengira parenting itu tentang anak.

Anak harus begini. Anak tidak boleh begitu. Anak harus sholat. Anak harus sopan. Anak harus rajin membaca. Anak tidak boleh main hape terus. Anak jangan bohong. Anak jangan membentak. Anak jangan malas. Anak jangan melawan orang tua.

Semua itu benar. Tetapi ada satu pertanyaan yang sering tertinggal di ruang tamu, di meja makan, di depan televisi, dan di balik pintu kamar.

“Orang tuanya bagaimana?”

Jika orang tua menyuruh anak sholat, tetapi dia sendiri menunda sholat, anak sedang merekamnya. Jika orang tua melarang anak bohong, tetapi dia sering berdusta kecil di depan anak, anak sedang merekamnya. Jika orang tua ingin anak bersikap lembut, tetapi rumah penuh bentakan, anak juga sedang merekamnya.

Anak tidak hanya mendengar nasihat. Anak menyerap hidup orang tuanya.

Maka parenting bukan pertama-tama tentang membentuk anak. Parenting adalah tentang membentuk orang tua. Sebab orang tua adalah cermin pertama bagi anak. Karena benda bengkok tidak mungkin menghasilkan bayangan yang lurus.

Anak Lahir di Atas Fitrah

Nabi ﷺ bersabda bahwa setiap anak lahir di atas fitrah Islam. Lalu orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.

Hadis ini menampar kita pelan-pelan. Anak tidak lahir sebagai musuh orang tua. Anak tidak lahir sebagai proyek gagal. Dia datang membawa fitrah tauhid. Dia datang membawa kesiapan untuk mengenal Allah. Dia datang dengan hati yang masih mudah dibentuk.

Lalu rumah menjadi sekolah pertamanya.

Dari rumah, anak belajar tentang siapa Allah. Dari rumah, anak belajar apakah sholat itu penting atau sekadar suara azan yang lewat. Dari rumah, anak belajar apakah Al-Qur’an hanya hiasan lemari atau teman hidup. Dari rumah, anak belajar apakah marah harus dengan teriak, atau apakah kesalahan harus ditutupi, atau apakah meminta maaf itu memalukan.

Maka ketika anak mulai keras, kasar, malas, atau jauh dari agama, orang tua tidak boleh cepat-cepat menunjuk anak. Kadang anak hanya sedang memantulkan apa yang sering dia lihat.

Selamatkan Dirimu, Baru Keluargamu

Allah berfirman dalam Surah At-Tahrim ayat 6: “Jagalah dirimu dan keluargamu dari api neraka.”

Perhatikan urutannya. Allah tidak langsung berkata, “Jagalah keluargamu.” Allah memulai dengan, “Jagalah dirimu.”

Ini bukan kebetulan. Orang tua yang ingin menyelamatkan anak harus belajar menyelamatkan dirinya. Orang tua yang ingin anak dekat kepada Allah harus berusaha mendekat lebih dulu. Orang tua yang ingin anak menjaga lisan harus lebih dulu berhenti menjadikan rumah sebagai tempat melampiaskan amarah.

Ali bin Abi Thalib, dalam penjelasan ayat ini, disebutkan menasihati agar orang tua mengajari syariat dan mendidik adab keluarganya. Artinya, menjaga keluarga dari neraka bukan hanya memberi makan, membayar sekolah, atau membelikan pakaian. Itu semua penting. Tetapi belum cukup.

Anak bukan hanya butuh biaya. Anak butuh arah.

Orang Tua adalah Pemimpin

Nabi ﷺ bersabda bahwa setiap kita adalah pemimpin dan setiap kita akan dimintai pertanggungjawaban atas yang dipimpin.

Ayah bukan hanya mesin pencari nafkah. Ibu bukan hanya pengatur dapur dan jadwal anak. Keduanya adalah pemimpin jiwa. Dan pemimpin tidak hanya memerintah. Pemimpin memberi arah. Pemimpin berjalan lebih dulu.

Banyak orang tua ingin anak rajin membaca, tetapi rumahnya tidak punya budaya membaca. Banyak orang tua ingin anak tidak kecanduan hape, tetapi makan pun tangannya masih menggenggam hape. Banyak orang tua ingin anak tidak membentak, tetapi dia sendiri bicara kepada pasangan seperti sedang mengusir maling.

Lalu kita heran anak meniru sifat jelek dari mana.

Padahal anak adalah peniru yang setia. Dia mungkin tidak selalu patuh pada nasihat, tetapi dia hampir selalu merekam kebiasaan orang tuanya.

Luqman Memulai dari Tauhid

Al-Qur’an mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya. Menariknya, Luqman tidak memulai dengan nilai rapor. Beliau tidak memulai dengan karir. Beliau tidak memulai dengan gengsi keluarga.

Ia memulai dengan tauhid: “Wahai anakku, jangan engkau mempersekutukan Allah.”

Ini pelajaran besar. Parenting Islami bukan hanya membuat anak tertib. Parenting Islami membuat anak terarah. Anak perlu tahu siapa Robb-nya. Anak perlu tahu untuk apa dia hidup. Anak perlu tahu bahwa Allah melihat hal kecil yang orang lain tidak lihat.

Setelah tauhid, Luqman mengajarkan sholat, amar makruf nahi mungkar, sabar, rendah hati, dan menjaga volume suara. Jadi pendidikan anak bukan sekadar aturan rumah. Itu adalah jalan menuju Allah.

Nabi ﷺ Mendidik dengan Rohmah

Rasulullah ﷺ adalah teladan terbaik. Allah menyebut beliau sebagai uswah hasanah. Allah juga menyebut bahwa karena rohmat-Nya, Nabi berlaku lembut. Jika beliau kasar dan berhati keras, manusia akan menjauh.

Ini penting bagi orang tua.

Nabi ﷺ pernah mencium Hasan bin Ali. Al-Aqra’ bin Habis heran dan berkata bahwa dia punya sepuluh anak, tetapi tidak pernah mencium satu pun dari mereka. Nabi ﷺ menjawab bahwa siapa yang tidak menyayangi, tidak akan disayangi.

Kasih sayang bukan kelemahan. Pelukan bukan manja. Ciuman bukan merusak wibawa. Anak yang merasa dicintai lebih mudah menerima nasihat.

Anas bin Malik juga pernah melayani Nabi ﷺ selama sepuluh tahun. Beliau berkata bahwa Nabi tidak pernah berkata “uf” kepadanya dan tidak pernah menyalahkannya dengan kalimat, “Mengapa kamu melakukan ini?” atau “Mengapa kamu tidak melakukan itu?”

Ini bukan berarti anak tidak boleh dikoreksi. Tetapi koreksi tidak harus selalu dengan bentakan. Anak yang terus disalahkan akan belajar menyembunyikan kesalahan. Bukan memperbaikinya.

Namun Nabi ﷺ juga tegas. Ketika Hasan kecil mengambil kurma sedekah dan memasukkannya ke mulut, Nabi segera menyuruhnya mengeluarkan kurma itu. Beliau menjelaskan bahwa keluarga Nabi tidak memakan hasil sedekah.

Jadi parenting bukan keras tanpa cinta. Bukan pula cinta tanpa batas. Parenting adalah rohmah yang punya arah.

Anak adalah Amanah, Bukan Alat Pamer

Al-Ghozali menjelaskan bahwa anak adalah amanah bagi orang tuanya. Hatinya masih bersih dan siap menerima ukiran. Jika dibiasakan pada kebaikan, dia akan tumbuh di atas kebaikan.

Ibnul Qoyyim juga mengingatkan bahwa banyak kerusakan anak bermula dari kelalaian orang tua: anak dibiarkan, tidak diajari kewajiban agama, dan tidak diarahkan kepada sunnah Nabi Muhammad.

Maka anak bukan alat pamer. Bukan proyek gengsi. Bukan papan pengumuman agar orang tua terlihat berhasil.

Anak adalah amanah.

Dan amanah tidak cukup dicintai. Amanah harus dijaga.

Mulailah dari Orang Tua

Sebelum bertanya, “Kenapa anakku begini?” tanyakan dulu, “Apa yang dia lihat dariku setiap hari?”

Apakah dia melihat saya sholat tepat waktu? Apakah dia melihat saya membaca Al-Qur’an? Apakah dia melihat saya meminta maaf saat salah? Apakah dia melihat saya menghormati pasangan? Apakah dia melihat saya jujur? Apakah dia melihat saya menepati janji?

Tidak ada orang tua yang sempurna. Anak juga tidak membutuhkan orang tua seperti malaikat. Anak membutuhkan orang tua yang mau bertaubat. Mau belajar. Mau memperbaiki diri. Mau mengakui salah. Mau tumbuh.

Orang tua yang matang bukan orang tua yang tidak pernah marah. Tetapi orang tua yang belajar mengendalikan marah. Orang tua yang matang bukan orang tua yang tidak pernah salah. Tetapi orang tua yang tidak gengsi meminta maaf. Orang tua yang matang bukan orang tua yang serba tahu. Tetapi orang tua yang terus mencari ilmu.

Dari orang tua seperti itu, anak belajar menjadi manusia.

Meluruskan Sumber Bayangan

Parenting itu bukan tentang anak saja. Parenting adalah tentang orang tua yang dibentuk Allah melalui kehadiran anak.

Anak memang perlu dididik. Tetapi orang tua lebih dulu perlu ditundukkan egonya. Anak perlu diarahkan. Tetapi orang tua lebih dulu perlu diluruskan jalannya.

Sebab anak adalah cermin yang jujur. Kadang dia memantulkan nada bicara kita. Kadang dia memantulkan kemarahan kita. Kadang dia memantulkan kemalasan kita. Kadang dia juga memantulkan keimanan kita.

Maka sebelum sibuk meluruskan anak, mari berdiri lurus di hadapan Allah.

Karena benda bengkok tidak mungkin menghasilkan bayangan yang lurus. Dan orang tua yang matang, dengan izin Allah, akan menumbuhkan anak yang gemilang.

Write a Comment

Comment