Belajar dari 2 Sosok Kafir
Hampir tiga puluh tahun Eiichiro Oda menggambar One Piece, dan kisah Monkey D. Luffy belum juga tamat. Tiga puluh tahun! Seorang bayi bisa tumbuh dewasa, menikah, bahkan punya anak dalam rentang waktu tersebut. Namun, Oda masih sibuk dengan bajak laut bertopi jeraminya.
Bukankah itu waktu yang teramat panjang untuk sesuatu yang oleh sebagian orang dianggap sekadar bacaan anak-anak?
Tunggu dulu. Ada yang lebih gila!
Sebuah kamus hadis berjudul Concordance et Indices de la Tradition Musulmane, yang dikenal sebagai Al-Mu’jam al-Mufahras li Alfazh al-Hadits an-Nabawi, memerlukan waktu hingga 72 tahun sejak proyeknya dirintis sampai terbitnya jilid indeks terakhir.
Penggagasnya adalah Arent Jan Wensinck, seorang orientalis Belanda.
Yang satu menghabiskan puluhan tahun untuk menggambar komik. Yang lain merintis pekerjaan yang memakan waktu lebih panjang daripada umur sebagian manusia.
Keduanya membuat saya bertanya: jika manusia sanggup mengabdikan puluhan tahun untuk sesuatu yang mereka anggap berharga, bagaimana dengan kita yang mengaku percaya kepada surga?
Tiga Puluh Tahun untuk Sebuah Komik
One Piece mulai terbit pada 22 Juli 1997. Hingga Oktober 2026, ceritanya masih berlangsung.
Selama 29 tahun, Oda membangun dunia dengan ratusan tokoh, pulau, kerajaan, dan konflik yang saling terhubung. Tentu ada masa ketika dia harus beristirahat. Namun, proyek yang dimulainya saat masih muda itu terus berjalan.
Kita boleh menyukai atau membenci komiknya. Boleh pula menganggap kisah bajak laut tidak lebih penting daripada urusan dapur. Namun, sulit menyangkal ketekunan pembuatnya.
Sebab, memulai sesuatu itu mudah. Yang sulit adalah bertahan setelah rasa senang pada permulaan menghilang.
Berapa banyak dari kita membeli buku yang tak kunjung selesai dibaca? Memulai hafalan Al-Qur’an yang berhenti pada pekan kedua? Menyusun rencana hidup yang akhirnya mati prematur?
Kita pandai memulai. Sayangnya, kita juga pandai mencari alasan untuk berhenti.
Kamus Hadis yang Melampaui Usia Penggagasnya
Pada 1916, Wensinck merintis proyek penyusunan indeks lafal hadis. Tujuannya membantu pembaca menemukan hadis dalam sembilan kitab rujukan, termasuk Shahih al-Bukhari, Shahih Muslim, dan Musnad Ahmad.
Bayangkan pekerjaan itu dilakukan sebelum ada komputer dan mesin pencari. Ribuan halaman harus diperiksa. Kata-kata ditelusuri, dicatat, lalu dihubungkan dengan sumbernya.
Jilid pertama terbit pada 1936. Wensinck meninggal pada 1939, ketika pekerjaan tersebut belum selesai.
Namun, proyek itu tidak ikut dikuburkan.
Para sarjana lain melanjutkannya, termasuk J. P. Mensing dan J. Brugman. Muhammad Fu’ad Abdul Baqi, seorang sarjana Muslim, juga turut memberikan kontribusi. Tujuh jilid utama selesai pada 1969. Jilid kedelapan yang berisi indeks tambahan terbit pada 1988.
Artinya, proyek tersebut berjalan selama 53 tahun hingga tujuh jilid utamanya selesai, atau 72 tahun jika menghitung jilid tambahan.
Wensinck tidak menyaksikan pekerjaan itu rampung. Namun, orang-orang setelahnya meneruskan apa yang dia mulai.
Di situlah pelajarannya: ada pekerjaan yang begitu besar sehingga penyelesaiannya tidak harus terjadi semasa hidup penggagasnya.
Mengapa Surga Tidak Membuat Kita Lebih Bersemangat?
Oda punya cerita yang ingin diselesaikan. Wensinck punya proyek ilmu yang ingin diwujudkan.
Lalu kita?
Sebagai Muslim, kita meyakini adanya kehidupan setelah kematian. Kita percaya bahwa amal saleh memperoleh balasan, bahwa surga itu nyata, dan bahwa kehidupan dunia hanyalah sementara.
Allah berfirman:
“Berlomba-lombalah kamu menuju ampunan dari Tuhanmu dan surga.” (QS. Al-Hadid: 21)
Perhatikan kata sābiqū. Allah memerintahkan kita berlomba, bukan sekadar berjalan tanpa tujuan.
Jika akhirat merupakan tujuan kita, mengapa usaha menuju ke sana sering dilakukan dengan sisa waktu dan tenaga?
Tentu bukan berarti kita harus bekerja tanpa tidur. Allah tidak meminta manusia menghitung prestasinya seperti menghitung angka penjualan. Dalam QS. Al-Mulk ayat 2, Allah menegaskan bahwa kehidupan merupakan ujian untuk melihat siapa yang paling baik amalnya, bukan semata-mata siapa yang paling banyak.
Niat, kebenaran amal, dan keikhlasan tetap menentukan.
Rasulullah ﷺ juga bersabda:
“Amal yang paling terus-menerus, meskipun sedikit.” (HR. Al-Bukhari no. 6465)
Jadi, semangat bukan berarti melakukan semuanya sekaligus. Semangat berarti terus melangkah, bahkan ketika langkah itu kecil.
Para Salaf Sudah Membuktikannya
Jauh sebelum Oda menggambar Luffy dan Wensinck menyusun indeks hadis, umat Islam telah mengenal manusia-manusia yang mengabdikan hidupnya untuk sebuah tujuan.
Imam Al-Bukhari, misalnya, diriwayatkan menghabiskan 16 tahun untuk menyusun Al-Jami’ ash-Shahih. Beliau menyeleksi hadis dengan ketelitian yang membuat kitabnya menjadi salah satu rujukan terpenting umat Islam.
Ada pula Khalifah Umar bin Abdul Aziz. Ketika khawatir ilmu hadis menghilang bersama wafatnya para ulama, beliau memerintahkan Abu Bakr bin Hazm untuk menuliskannya. Perintah ini dicatat Imam Al-Bukhari dalam Kitab Al-‘Ilm.
Keduanya memperlihatkan hal yang sama: ilmu tidak akan terjaga hanya dengan kekaguman. Seseorang harus bersedia mengerjakannya.
Bahkan Nabi Nuh a.s. berada di tengah kaumnya selama 950 tahun, sebagaimana disebut dalam QS. Al-‘Ankabut ayat 14.
Bayangkan keteguhan yang diperlukan untuk menjalankan amanah dalam rentang selama itu.
Kisah-kisah tersebut mengingatkan kita bahwa ukuran keberhasilan bukan sekadar seberapa cepat hasil diperoleh, melainkan seberapa setia manusia menjalankan tanggung jawabnya.
Belajar dari Siapa Saja
Barangkali ada yang keberatan. Mengapa harus mengambil pelajaran dari Oda dan Wensinck?
Jawabannya sederhana: meneladani ketekunan seseorang tidak berarti membenarkan seluruh keyakinannya.
Ketika berhijrah menuju Madinah, Rasulullah ﷺ dan Abu Bakr menggunakan jasa seorang penunjuk jalan yang musyrik. Keahliannya dipercaya untuk perjalanan tersebut. Kisah ini diriwayatkan dalam Shahih Al-Bukhari no. 2263.
Kita dapat mengakui keterampilan orang lain tanpa kehilangan pegangan agama.
Dari Oda, kita belajar bertahan dalam satu pekerjaan. Dari Wensinck dan para penerusnya, kita belajar membangun sesuatu yang dapat diteruskan oleh orang lain.
Namun, Islam memberi arah yang lebih jauh. Kita tidak cukup hanya rajin. Kita harus tahu untuk siapa dan untuk apa kita bekerja.
Apa yang Akan Kita Tinggalkan?
Rasulullah ﷺ mengajarkan bahwa ketika manusia meninggal, amalnya terputus kecuali tiga: sedekah jariyah, ilmu yang bermanfaat, dan anak saleh yang mendoakannya (HR. Muslim no. 1631).
Betapa luas kesempatan yang tersedia.
Kita tidak harus menulis kitab berjilid-jilid. Kita bisa mendidik anak, membina generasi, membangun madrasah, mengajarkan Al-Qur’an, atau menulis sesuatu yang kelak membawa manfaat bagi orang lain.
Pekerjaan itu tidak selalu menghasilkan uang. Tidak selalu mendatangkan pujian. Bahkan mungkin tidak selesai semasa kita hidup.
Namun, bukankah indah jika seseorang meninggalkan dunia sementara kebaikan yang dimulainya masih berjalan?
Eiichiro Oda telah menghabiskan hampir tiga puluh tahun untuk sebuah cerita. Wensinck dan para penerusnya menghabiskan puluhan tahun untuk sebuah kamus hadis.
Lalu kita, yang percaya kepada surga dan kehidupan abadi, berapa lama bersedia berjuang untuk sebuah amal kebaikan?
Barangkali persoalannya bukan siapa yang lebih pintar atau siapa yang lebih kaya. Bukan pula siapa yang memiliki waktu lebih banyak.
Barangkali persoalannya adalah siapa yang lebih bersemangat, lebih bersungguh-sungguh, dan lebih sanggup menjaga semangatnya sampai akhir.
Sebab, kita tidak harus menjadi Oda atau Wensinck. Kita punya tujuan sendiri: mengharapkan rida Allah dan surga-Nya.
Dan untuk tujuan sebesar itu, rasanya sayang sekali jika kita hanya bersemangat selama beberapa pekan.