by

Kolonialisme dan Piala Dunia

Bola Itu Bundar, Ingatan Jangan Ikut Pudar

Setiap Piala Dunia datang, rakyat jelata ikut sibuk. Tukang bakso pasang televisi. Warung kopi penuh sampai dini hari. Anak-anak memakai kaos Argentina, Brasil, Prancis, Jepang, Portugal. Orang dewasa mendadak jadi pelatih. Semua tahu siapa harus diganti, siapa harus menendang penalti, dan siapa yang pantas dimaki.

Tidak apa-apa.

Sepak bola memang hiburan. Kadang ia membuat hidup yang susah terasa bisa ditunda dua kali empat puluh lima menit. Cicilan tetap ada. Beras tetap mahal. Tapi kalau bola masuk gawang, dada rakyat mendadak sumringah.

Namun ada hal yang mengganggu saya.

Di layar itu, banyak negara besar datang sebagai peserta reguler. Portugal. Spanyol. Belanda. Prancis. Inggris. Jepang. Di mata penggemar bola, mereka raksasa lapangan. Di mata sejarah Nusantara, mereka tamu lama yang pernah masuk ke rumah kita tanpa salam.

Mereka pernah datang bukan untuk bermain bola. Mereka datang untuk rempah. Untuk pelabuhan. Untuk tanah. Untuk tenaga. Untuk kekuasaan.

Hari ini mereka datang memakai sepatu bola. Dahulu mereka datang membawa kapal, meriam, serdadu, dan perjanjian yang ditulis untuk menguntungkan diri sendiri.

Dari Rempah ke Kontrak

Dulu nama Nusantara harum karena rempah. Cengkih, pala, lada, dan hasil bumi lain membuat bangsa jauh menyeberangi laut. Mereka berkata hendak berdagang. Lalu mereka meminta monopoli. Setelah itu mereka membangun benteng. Setelah benteng berdiri, mereka membuat aturan. Setelah aturan jadi, penduduk asli berubah menjadi orang asing di tanah sendiri.

Itulah sejarah kolonialisme.

Sekarang Nusantara sudah bernama Indonesia. Kita punya bendera. Kita punya lagu kebangsaan. Kita punya presiden. Kita punya upacara tujuh belas Agustus. Anak-anak sekolah berdiri tegak, memberi hormat, menyanyi Indonesia Raya.

Tapi setelah lagu selesai, pertanyaan itu datang pelan-pelan.

Apakah kita sungguh merdeka?

Emas dan tembaga di Papua sejak lama terkait dengan Amerika Serikat. Minyak bumi kita juga melibatkan perusahaan Amerika. Nikel kita menjadi rebutan modal Cina, Jepang, Kanada, Prancis, Australia, dan banyak pihak lain. Gas alam kita melibatkan Inggris, Italia, Malaysia, Jepang, dan negara lain. Sawit menjadi ladang besar yang terkait dengan jaringan modal Malaysia dan Singapura.

Tentu saja keadaan tidak sesederhana teriak “dikuasai asing!” lalu selesai. Ada saham negara. Ada BUMN. Ada pekerja Indonesia. Ada pajak. Ada teknologi yang belum kita kuasai. Ada kerja sama yang mungkin dibutuhkan.

Tetapi rakyat jelata boleh bertanya: kalau tanahnya tanah kita, gunungnya gunung kita, hutannya hutan kita, lautnya laut kita, mengapa yang paling kaya seringkali bukan kita?

Jangan-jangan kolonialisme memang tidak mati. Ia hanya ganti baju. Dulu ia memakai seragam militer. Sekarang ia memakai jas, kontrak, konsesi, utang, dan presentasi PowerPoint.

Islam dan Kezaliman yang Rapi

Dalam Islam, masalah ini bukan sekadar ekonomi. Ini soal keadilan.

Allah berfirman dalam QS. An-Nisa ayat 135 agar orang beriman menjadi penegak keadilan, meski terhadap diri sendiri, orang tua, dan kerabat. Artinya, kita tidak boleh pura-pura buta hanya karena yang dzolim memakai bahasa investasi, pembangunan, atau kerja sama strategis.

Allah juga berfirman dalam QS. Hud ayat 85 melalui nasihat Nabi Syu’aib kepada kaumnya: sempurnakan takaran dan timbangan, jangan kurangi hak manusia, dan jangan membuat kerusakan di bumi.

Ayat itu seperti diturunkan untuk semua zaman. Untuk pedagang pasar. Untuk pejabat. Untuk perusahaan tambang. Untuk penguasa. Untuk siapa saja yang mengambil lebih banyak dari haknya, lalu menyisakan lubang, limbah, dan air mata.

Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Kezaliman adalah kegelapan pada hari Kiamat.” Hadis ini diriwayatkan oleh Al-Bukhori dan Muslim. Maka kedzoliman ekonomi bukan perkara kecil. Ia bisa tampak legal di dunia, tetapi kegelapan di akhirat.

Al-Mawardi menjelaskan bahwa pemimpin negara bertugas menjaga agama dan mengatur urusan dunia. Maka negara tidak boleh hanya menjadi penjaga stempel. Negara harus menjaga rakyat, tanah, air, dan kekayaan umum.

Ibnu Taimiyah menekankan bahwa urusan publik harus diserahkan kepada orang yang kuat dan amanah. Kalau yang mengurus tambang, minyak, gas, dan sawit adalah orang yang lemah atau tidak amanah, kekayaan alam akan berubah menjadi perampokan yang diberi kop surat.

Ibnu Kholdun juga mengingatkan bahwa kedzoliman merusak peradaban. Bangsa tidak runtuh hanya karena diserang dari luar. Bangsa juga runtuh karena dirusak dari dalam oleh kerakusan.

Kisah Banda dan Pala

Pulau Banda pernah menjadi surga kecil karena pala. Pala tumbuh di sana. Orang-orang Banda berdagang dengan banyak bangsa. Lalu VOC datang. Mereka ingin monopoli. Mereka tidak cukup hanya membeli. Mereka ingin menguasai.

Ketika rakyat Banda menolak tunduk sepenuhnya, kekerasan terjadi. Pada abad ke-17, Banda menjadi luka besar. Banyak penduduk terbunuh, diusir, diperbudak, atau tercerabut dari tanahnya.

Kisah Banda mengajarkan satu hal: kolonialisme sering dimulai dengan kalimat manis.

“Kami hanya ingin berdagang.”

Kalimat itu terdengar sopan. Tapi di belakangnya bisa berdiri meriam.

Hari ini kita tidak lagi bicara pala saja. Kita bicara nikel, emas, minyak, gas, tembaga, batu bara, sawit. Namanya berubah. Polanya bisa sama. Rakyat melihat kekayaan keluar dari tanah mereka, sementara kosa kata kaya seolah tidak ada di dalam kamus hidup mereka.

Nikmati, Tapi Jas Merah

Jadi, apakah kita tidak boleh menonton Piala Dunia?

Boleh.

Sepak bola pada asalnya mubah. Yang haram adalah jika ia melalaikan sholat, menjadi perjudian, mabuk, fanatisme buta, permusuhan, atau membuat kita lupa kepada Allah.

Silakan menikmati gol. Silakan memilih tim. Silakan kagum pada taktik. Silakan begadang, selama tidak mengorbankan kewajiban.

Tapi JAS MERAH.

Jangan sekali-kali melupakan sejarah.

Ketika Portugal bermain, ingat Malaka dan Maluku. Ketika Spanyol disebut, ingat perebutan rempah. Ketika Belanda masuk lapangan, ingat VOC dan Hindia Belanda. Ketika Prancis disebut, ingat Daendels. Ketika Inggris bermain, ingat Raffles. Ketika Jepang datang, ingat pendudukan 1942–1945.

Bukan untuk membenci bangsa mereka hari ini. Islam tidak mengajarkan kebencian rasial. Kritik kita bukan kepada warna kulit, bahasa, atau rakyat biasa. Kritik kita kepada kedzoliman, penjajahan, dan sistem yang membuat bangsa kaya sumber daya tetap miskin kendali.

Piala Dunia boleh menjadi hiburan mata. Tapi bagi bangsa bekas jajahan, ia juga harus menjadi latihan ingatan.

Bola boleh bergulir di layar.

Tapi jangan biarkan sejarah ikut menggelinding hilang dari kepala kita.

Sebab bangsa yang lupa pernah dijajah akan mudah dijajah lagi. Kali ini bukan dengan meriam. Cukup dengan kontrak. Cukup dengan utang. Cukup dengan tanda tangan orang-orang yang menjual tanah airnya sambil tersenyum di depan kamera.

Write a Comment

Comment