Sekolah Seharusnya
Pagi hari.
Anak-anak berangkat sekolah dengan mata yang belum selesai bangun.
Tas di punggung terasa seperti karung batu. Di tangan ada bekal. Di kepala ada tugas. Di hati ada rasa malas yang tidak selalu berani mereka ucapkan.
Belum sampai gerbang, mereka sudah lelah.
Guru juga begitu.
Datang pagi. Pulang sore. Mengajar. Menilai. Mengisi laporan. Mengurus administrasi. Menghadapi murid. Menghadapi orang tua. Menghadapi sistem.
Lalu kita menyebutnya pendidikan.
Padahal kadang rasanya lebih mirip pabrik.
Anak masuk.
Materi dimasukkan.
Nilai keluar.
Ijazah dicetak.
Tapi apakah mereka tahu untuk apa belajar?
Apakah mereka bahagia saat belajar?
Apakah hati mereka benar-benar hadir saat belajar?
Di sinilah tiga kata itu penting: meaningful, joyful, dan mindful.
Bermakna.
Menyenangkan.
Hadir dengan kesadaran.
Sekolah seharusnya terasa begitu. Bukan hanya bagi murid, tapi juga bagi guru.
Sebab jika tiga hal ini hilang, sekolah hanya melahirkan manusia yang tahu banyak hal, tapi tidak tahu arah hidupnya.
Ketika Belajar Tidak Lagi Bermakna
Banyak anak belajar karena takut.
Takut nilai jelek.
Takut dimarahi.
Takut tidak naik kelas.
Takut tidak dapat sekolah bagus.
Takut tidak dapat pekerjaan.
Akhirnya ilmu berubah menjadi alat tukar. Belajar bukan lagi jalan mengenal Allah, mengenal diri, dan memberi manfaat. Belajar hanya menjadi jalan mencari angka.
Nilai bagus dianggap sukses.
Paham atau tidak, urusan nanti.
Padahal dalam Islam, ilmu punya makna yang jauh lebih tinggi.
Ilmu bukan sekadar bekal kerja.
Ilmu adalah jalan menuju Allah.
Dengan ilmu, manusia tahu halal dan haram. Tahu adab. Tahu tujuan hidup. Tahu bagaimana menjadi hamba.
Dalam hadits yang diriwayatkan imam Abu Dawud, Rasulullah ﷺ memperingatkan bahwa siapa pun yang menuntut ilmu yang seharusnya ditujukan untuk mencari ridho Allah, tetapi dia mencarinya hanya demi dunia, maka dia tidak akan mencium bau surga.
Keras sekali.
Bukan berarti dunia tidak penting. Pekerjaan penting. Nafkah penting. Keterampilan penting.
Tapi jika ilmu diputus dari Allah, ia menjadi kering.
Anak bisa pandai berhitung, tapi curang.
Bisa fasih bicara, tapi sombong.
Bisa lulus tinggi, tapi tidak tahu arah pulang.
Sekolah yang meaningful harus berani menjawab pertanyaan paling dasar.
Untuk apa semua ini?
Untuk apa matematika?
Untuk apa bahasa?
Untuk apa sejarah?
Untuk apa sains?
Jawabannya tidak boleh berhenti pada ujian.
Ilmu harus kembali kepada ibadah, manfaat, dan tanggung jawab sebagai manusia.
Ketika Belajar Menjadi Penjara
Ada sekolah yang bersih dan rapi, tapi membuat anak takut.
Takut salah.
Takut bertanya.
Takut dimarahi.
Takut dianggap bodoh.
Di sana, kelas berubah menjadi ruang interogasi. Guru menjadi hakim. Murid menjadi terdakwa.
Lalu kita heran kenapa anak tidak cinta ilmu.
Padahal cinta tidak tumbuh dari ancaman.
Rasulullah ﷺ adalah guru terbaik. Beliau mengajar dengan lembut. Beliau menyesuaikan bahasa dengan orang yang diajak bicara. Beliau tidak membuat manusia lari dari agama.
Nabi ﷺ bersabda, “Mudahkanlah dan jangan dipersulit, berilah kabar gembira dan jangan membuat orang lari.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Inilah dasar joyful learning dalam Islam.
Belajar yang menyenangkan bukan berarti main-main tanpa arah.
Bukan berarti kelas tanpa disiplin.
Bukan berarti guru kehilangan wibawa.
Menyenangkan berarti hati anak tidak dipatahkan saat belajar. Rasa ingin tahunya tidak dibunuh. Kesalahannya tidak dijadikan bahan hinaan. Pertanyaannya tidak dianggap gangguan.
Guru juga berhak merasakan joyful.
Guru bukan mesin kurikulum.
Guru manusia.
Mereka butuh dihargai. Didengar. Diberi ruang bernapas.
Bagaimana guru bisa membuat kelas bahagia jika hidupnya sendiri dicekik beban yang tidak ada habisnya?
Sekolah yang menyenangkan harus menyenangkan bagi dua pihak.
Murid.
Dan guru.
Kalau hanya murid yang diminta bahagia sementara guru kelelahan, itu bukan pendidikan.
Itu sandiwara.
Ketika Tubuh Hadir, Hati Pergi
Masalah sekolah hari ini bukan hanya anak malas.
Kadang mereka hadir di kelas, tapi pikirannya pergi jauh.
Ke game.
Ke media sosial.
Ke notifikasi.
Ke rasa cemas.
Ke rumah yang sedang ribut.
Ke masa depan yang menakutkan.
Tubuh duduk di bangku.
Mata melihat papan.
Tapi hati entah di mana.
Itulah hilangnya mindful.
Dalam Islam, kesadaran penuh bukan barang asing. Kita mengenal khusyuk. Kita mengenal ihsan. Yaitu beribadah seakan-akan melihat Allah. Jika tidak mampu, maka sadar bahwa Allah melihat kita.
Belajar juga perlu ruh itu.
Anak belajar dengan kehadiran penuh.
Guru mengajar dengan kehadiran penuh.
Bukan sekadar mengejar jam selesai. Bukan sekadar mengejar halaman buku. Bukan sekadar mengejar target.
Allah mengingatkan agar kita tidak mengikuti orang yang hatinya lalai dari mengingat-Nya dan mengikuti hawa nafsunya. Pesan ini ada dalam QS. Al-Kahfi: 28.
Kelalaian hati adalah bencana.
Sekolah yang mindful membantu anak sadar dengan apa yang dia lakukan.
Mengapa dia belajar.
Bagaimana dia memperhatikan.
Bagaimana dia menghargai guru.
Bagaimana dia mengelola pikirannya.
Dan guru juga perlu hadir utuh.
Bukan mengajar sambil patah hati.
Bukan tersenyum sambil habis tenaga.
Bukan berdiri di depan kelas hanya karena kewajiban.
Guru yang hadir dengan hati akan lebih mudah menyentuh hati.
Cara Nabi Mengajar Mu’adz
Ada satu kisah yang indah.
Rasulullah ﷺ pernah mengajari Mu’adz bin Jabal sebuah doa penting. Tapi Nabi Muhammad tidak langsung memberi instruksi kaku.
Beliau memegang tangan Mu’adz.
Lalu berkata, “Wahai Mu’adz, demi Allah, aku benar-benar mencintaimu.”
Bayangkan seorang murid mendengar kalimat itu dari gurunya.
Hatinya terbuka.
Perhatiannya terkunci.
Jiwanya siap menerima.
Baru setelah itu Nabi ﷺ mengajarkan doa agar tidak ditinggalkan setelah shalat:
“Ya Allah, bantulah aku untuk mengingat-Mu, bersyukur kepada-Mu, dan beribadah dengan baik kepada-Mu.” (HR. Abu Dawud dan An-Nasa’i).
Di sana ada joyful.
Karena ada cinta.
Di sana ada mindful.
Karena ada kehadiran.
Di sana ada meaningful.
Karena ilmu yang diajarkan menyambungkan manusia kepada Allah.
Satu peristiwa kecil.
Tapi cukup untuk menampar banyak ruang kelas modern.
Mengembalikan Ruh Sekolah
Sekolah tidak cukup diperbaiki dengan cat baru.
Tidak cukup dengan gedung tinggi.
Tidak cukup dengan slogan kurikulum.
Tidak cukup dengan aplikasi penilaian.
Sekolah harus dikembalikan kepada ruhnya: membentuk manusia.
Akalnya diasah.
Hatinya dibersihkan.
Jiwanya dituntun.
Guru dan murid sama-sama tumbuh.
Jika sekolah terasa hambar, periksa maknanya.
Jika sekolah terasa menakutkan, periksa kasih sayangnya.
Jika sekolah terasa bising tapi kosong, periksa kehadiran hatinya.
Pendidikan terbaik bukan tentang berapa banyak halaman selesai.
Bukan tentang berapa banyak nilai terkumpul.
Bukan tentang berapa banyak piala dipajang.
Pendidikan terbaik adalah ketika ilmu membuat manusia makin mengenal Allah, makin beradab kepada manusia, dan makin sadar akan tugas hidupnya.
Sekolah seharusnya meaningful.
Agar guru dan murid tahu tujuan hidupnya.
Sekolah seharusnya joyful.
Agar ilmu dicintai, bukan ditakuti.
Sekolah seharusnya mindful.
Agar tubuh, akal, dan hati hadir bersama.
Karena pendidikan yang kehilangan ruh hanya melahirkan robot berijazah.
Dan kita tidak sedang mendidik robot.
Kita sedang mendidik manusia, makhluk terbaik ciptaan Allah.