by

Kenapa Malu dengan Nama-Nama Islami?

Nama Atau Merek?

Ada orang tua yang memberi anaknya nama seperti sedang menamai merek parfum.

Bunyinya halus. Terlihat global. Mudah ditulis di bio media sosial. Cocok untuk dipanggil di kafe, bandara, atau kantor kedutaan asing. Tetapi ketika ditanya artinya, jawabannya sering berhenti di kalimat, “Pokoknya bagus.”

Tidak salah memberi nama yang terdengar indah. Tidak salah pula memakai nama yang tidak berbahasa Arab, selama maknanya baik dan tidak bertentangan dengan Islam. Tetapi ada yang perlu kita tanyakan dengan jujur.

Kenapa sebagian dari kita mulai malu dengan nama-nama Islami?

Kenapa nama Abdullah terasa terlalu tua? Kenapa Abdurrahman terasa terlalu berat? Kenapa Aisyah, Khodijah, Umar, Hamzah, Zaid, Fatimah, Maryam, dan Yusuf terasa kalah keren dari nama-nama yang hanya menang bunyi?

Jangan-jangan masalahnya bukan pada nama. Masalahnya pada rasa percaya diri kita sebagai muslim.

Nama Bukan Sekadar Bunyi

Nama bukan tumpukan huruf mati. Nama adalah doa yang berjalan. Ia dipanggil berkali-kali sejak seseorang lahir sampai wafat. Ia masuk ke telinga anak setiap hari. Ia ditulis di buku, ijazah, undangan, akad, paspor, dan kelak dikenal oleh orang lain sebagai tanda dirinya.

Karena itu, Islam tidak menganggap nama sebagai urusan remeh.

Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya nama yang paling dicintai Allah adalah Abdullah dan Abdurrahman.” (HR. Muslim).

Dua nama itu sederhana, tetapi maknanya dalam. Abdullah berarti hamba Allah. Abdurrahman berarti hamba Ar-Rahman. Sejak dipanggil, pemilik nama itu diingatkan tentang siapa dirinya. Dia bukan hamba popularitas. Bukan hamba uang. Bukan hamba gaya hidup. Dia hamba Allah.

Dalam riwayat Abu Dawud disebutkan bahwa manusia akan dipanggil pada hari kiamat dengan nama mereka dan nama ayah mereka, maka hendaklah memperbagus nama. Para ulama membahas derajat riwayat ini, tetapi maknanya sejalan dengan perhatian Islam terhadap nama yang baik.

Nama adalah pintu pertama identitas.

Dari nama, seseorang sering dikenali: laki-laki atau perempuan, berasal dari budaya mana, dan kadang dari agama apa. Tentu tidak selalu mutlak. Tetapi nama punya daya penanda. Ia membawa aroma sejarah, keluarga, dan keyakinan.

Maka ketika seorang muslim bangga dipanggil dengan nama Islami, itu bukan fanatisme kosong. Itu tanda bahwa dia peduli dengan agama ini.

Arab, Islam, dan Rasa Terikat

Ada yang berkata, “Islam tidak harus Arab.”

Benar.

Islam bukan milik suku Arab. Islam untuk seluruh manusia. Orang Jawa bisa menjadi muslim yang saleh. Orang Sunda, Melayu, Bugis, Minang, Turki, Afrika, Eropa, dan siapa pun bisa menjadi hamba Allah yang mulia.

Tetapi kita juga tidak perlu pura-pura lupa bahwa Al-Qur’an turun dalam bahasa Arab. Sunnah Nabi ﷺ sampai kepada kita dengan bahasa Arab. Banyak nama para nabi, sahabat, ulama, dan orang saleh sampai kepada kita melalui akar bahasa Arab.

Karena itu, memakai nama Islami bernuansa Arab bukan berarti kita menyembah Arab. Kita sedang menjaga hubungan batin dengan sumber agama.

Nama Muhammad mengingatkan kita kepada Rasulullah ﷺ. Nama Aisyah mengingatkan kita kepada Ummul Mukminin yang cerdas dan faqih. Nama Umar mengingatkan kita kepada keberanian dan keadilan. Nama Fatimah mengingatkan kita kepada kesucian, rasa malu, dan kedekatan dengan Nabi ﷺ.

Nama-nama itu bukan hanya bunyi. Di baliknya ada rumah besar bernama sejarah Islam.

Malu yang Salah Tempat

Hari ini, sebagian orang malu jika namanya terlalu Islami. Takut dianggap kampungan. Takut terlihat kaku. Takut tidak modern. Takut sulit diterima di ruang global.

Padahal rasa malu seperti itu sering lahir dari mentalitas kalah.

Ibnu Khaldun dalam Muqaddimah menjelaskan bahwa bangsa yang kalah cenderung meniru bangsa yang menang. Mereka meniru pakaian, lambang, gaya, kebiasaan, bahkan cara hidupnya. Sebab dalam hati mereka ada sangkaan bahwa yang menang pasti lebih sempurna.

Ini bukan hanya terjadi dalam pakaian atau bahasa. Ini juga bisa masuk ke ranah nama.

Kita mulai merasa nama kita kurang keren bila masih terdengar Islami. Kita merasa perlu memolesnya agar tampak lebih asing. Kita takut anak kita diejek karena namanya terlalu dekat dengan agama. Kita lebih takut anak tampak tidak modern daripada takut anak jauh dari identitas Islam.

Aneh.

Bagaimana mungkin kita ingin melahirkan generasi pembela agama, tetapi sejak awal kita membuat mereka merasa canggung dengan simbol agamanya sendiri?

Bagaimana mungkin anak diharapkan bangga pada Islam, jika nama para nabi dan sahabat saja terdengar asing di rumahnya?

Nama dan Jiwa

Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah dalam Tuhfatul Maudud bi Ahkamil Maulud menjelaskan bahwa ada hubungan antara nama dan orang yang diberi nama. Nama dapat memberi pengaruh pada jiwa, perilaku, dan cara seseorang memandang dirinya.

Ini masuk akal.

Anak yang bernama Abdullah terus dipanggil sebagai hamba Allah. Anak bernama Shalih dipanggil dengan doa agar menjadi orang saleh. Anak bernama Maryam membawa ingatan kepada perempuan suci yang dipuji dalam Al-Qur’an. Anak bernama Musa, Ibrahim, Yusuf, atau Nuh membawa jejak para nabi yang sabar dalam ujian.

Nama tidak otomatis membuat seseorang saleh. Banyak orang makna namanya baik tetapi perilakunya buruk. Banyak pula orang bernama biasa tetapi amalnya mulia. Tetapi nama yang baik tetap menjadi doa, arah, dan pengingat.

Orang tua tidak bisa menjamin masa depan anak. Tetapi orang tua bisa memberi bekal pertama berupa nama yang mengarahkannya kepada kebaikan.

Rasulullah ﷺ Mengubah Nama

Rasulullah ﷺ sangat peduli pada nama.

Dalam hadis riwayat Muslim, beliau mengubah nama seorang perempuan dari ‘Ashiyah, yang bermakna wanita yang bermaksiat, menjadi Jamilah. Dalam riwayat Al-Bukhori, beliau juga pernah mengubah nama Hazn, yang bermakna keras atau sedih, menjadi Sahl, yang bermakna mudah.

Mengapa beliau melakukan itu?

Karena nama mengandung makna. Nama membangun rasa. Nama bisa menjadi doa atau beban. Rasulullah ﷺ sedang membentuk umat baru. Umat yang tauhidnya bersih. Umat yang tidak membawa sisa kesyirikan, kesombongan, atau makna buruk dalam panggilan hidupnya.

Perubahan nama itu seperti perubahan arah. Dari makna buruk menuju makna baik. Dari identitas lama menuju kehormatan baru. Dari panggilan putus asa menuju panggilan yang lebih membawa harapan.

Ini menunjukkan bahwa penamaan anak bukan urusan sepele. Itu bagian dari pendidikan pertama.

Generasi yang Mengambang

Anak-anak yang tumbuh tanpa akar akan mudah diterbangkan angin.

Jika sejak kecil mereka tidak dikenalkan dengan nama-nama besar Islam, jangan heran jika tokoh yang mereka kagumi hanya berasal dari layar hiburan. Jika nama-nama sahabat terdengar asing, jangan heran jika mereka lebih akrab dengan nama karakter fiktif. Jika nama para ulama tidak pernah menjadi kebanggaan, jangan heran jika mereka lebih mudah meniru siapa pun yang sedang viral.

Nama Islami bukan jaminan kejayaan. Tetapi itu bisa menjadi jembatan.

Dari nama Umar, orang tua bisa bercerita tentang keadilan. Dari nama Khodijah, orang tua bisa bercerita tentang iman dan pengorbanan. Dari nama Hamzah, orang tua bisa bercerita tentang keberanian. Dari nama Aisyah, orang tua bisa bercerita tentang ilmu.

Nama menjadi pintu percakapan. Dari percakapan lahir cinta. Dari cinta lahir pembelaan.

Kembalikan Kebanggaan Itu

Tidak semua anak muslim harus bernama Arab. Tetapi setiap orang tua muslim seharusnya memberi nama yang baik, bermakna, dan tidak membuat anak jauh dari agamanya. Nama lokal pun bisa indah jika maknanya baik. Namun jangan sampai kita sengaja menghindari nama Islami hanya karena merasa malu.

Buang rasa minder itu.

Islam tidak perlu disembunyikan dari nama anak-anak kita. Justru dari sanalah kita mulai mendidik mereka. Sebelum mereka bisa membaca Al-Qur’an, mereka sudah mendengar panggilan yang baik. Sebelum mereka paham sejarah Islam, mereka sudah membawa satu nama yang mengikat mereka dengan umat ini.

Bangga dipanggil dengan nama Islami bukan berarti merasa paling suci. Itu hanya tanda kecil bahwa kita tidak ingin putus dari agama ini.

Kembalikan kejayaan umat ini dari buaian nama non islami.

Jangan biarkan anak-anak kita asing dengan agamanya sendiri, dimulai dari nama yang mereka sandang seumur hidup.

Write a Comment

Comment