by

Homo Saecularis vs Homo Islamicus

Pertarungan Homo

Ada istilah yang muncul seperti gurauan, tetapi menyimpan luka: secular trauma.

Istilah itu lahir sebagai bayangan dari istilah lain yang lebih sering terdengar: religious trauma. Sebagian orang merasa terluka oleh pengalaman buruk dengan lingkungan agama. Ada yang pernah melihat agama dipakai untuk menekan, mengontrol, atau mempermalukan. Itu ada. Tidak perlu ditutup-tutupi.

Tapi pertanyaannya: apakah hidup tanpa agama pasti membuat manusia sembuh?

Apakah hidup tanpa keluarga kuat, tanpa tradisi, tanpa komunitas, tanpa tujuan akhirat, membuat manusia lebih sehat?

Di sinilah kita perlu bicara tentang dua jenis manusia. Homo saecularis, manusia modern yang merasa harus menciptakan dirinya sendiri. Dan homo islamicus, manusia yang mengenal dirinya sebagai hamba Allah, anak dari sebuah keluarga, bagian dari umat, pewaris wahyu, dan calon penghuni akhirat.

Masalah manusia modern bukan hanya dia kurang bebas.

Kadang dia terlalu bebas sampai tidak tahu harus menjadi siapa.

Manusia Tidak Lahir Kosong

Sekularisme sering memperlakukan manusia seperti halaman kosong. Seolah manusia bisa menulis dirinya dari nol. Dia bebas memilih identitas, makna hidup, cara mencintai, cara sukses, cara menikah, cara bahagia, bahkan cara mati.

Terdengar gagah. Tapi melelahkan.

Islam memandang manusia dengan cara lain. Manusia tidak lahir kosong. Dia lahir membawa fitrah.

Allah berfirman dalam Ar-Rum ayat 30 bahwa fitrah Allah adalah fitrah yang manusia diciptakan di atasnya. Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Setiap anak dilahirkan di atas fitrah. Maka kedua orang tuanyalah yang menjadikannya Yahudi, Nasrani, atau Majusi.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

Ibnu Katsir menjelaskan bahwa fitrah itu adalah kecenderungan kepada agama Allah yang lurus, kepada tauhid. Artinya, manusia tidak diciptakan tanpa arah. Dia punya panggilan dalam dirinya. Panggilan untuk mengenal Robb-nya.

Homo saecularis dipaksa terus bertanya, “Siapa aku?”

Homo islamicus memulai dengan jawaban: “Aku hamba Allah.” Lalu dia berusaha hidup pantas dengan jawaban itu.

Kebebasan yang Menjadi Beban

Homo saecularis tampak merdeka. Dia tidak mau diikat oleh keluarga. Tidak mau diatur tradisi. Tidak mau dinasihati agama. Tidak mau dibatasi komunitas. Semua harus lahir dari dirinya sendiri.

Tapi pelan-pelan, kebebasan itu berubah menjadi beban.

Dia harus menentukan sendiri apa arti sukses. Dia harus memilih sendiri kapan dewasa. Dia harus membentuk citra diri. Dia harus memutuskan apakah menikah penting atau tidak. Dia harus menjawab mengapa hidup perlu dilanjutkan ketika semua terasa kosong.

Maka hidup menjadi proyek identitas yang tidak selesai-selesai.

Hari ini dia menjadi satu hal. Besok berubah. Lusa merasa salah. Setelah itu menghapus foto lama, mengganti gaya bicara, mengganti lingkaran pergaulan, mengganti makna hidup. Dia bergerak, tapi tidak pulang.

Allah berfirman dalam Adz-Dzariyat ayat 56: “Tidaklah Aku menciptakan jin dan manusia melainkan agar mereka beribadah kepada-Ku.”

Ibnu Abbas menafsirkan makna ibadah di sini dengan mengenal Allah. Maka hidup bukan permainan tebak-tebakan. Hidup punya pusat. Namanya Allah.

Islam tidak menghapus pilihan manusia. Islam menyelamatkan manusia dari pilihan yang tidak punya arah.

Banyak Kontak, Sedikit Ikatan

Modernitas membuat manusia bisa hidup tanpa banyak bertemu manusia. Makan lewat aplikasi. Belanja lewat kurir. Belajar lewat layar. Bekerja dari kamar. Mengeluh di media sosial. Tertawa dengan orang asing. Lalu tetap merasa sendirian.

Manusia modern punya banyak kontak, tetapi sedikit ikatan.

Islam tidak membiarkan manusia menjadi atom yang terpisah. Ada keluarga. Ada tetangga. Ada jamaah. Ada umat. Ada silaturahim.

Allah membuka Surat An-Nisa dengan perintah takwa kepada-Nya dan menjaga hubungan rahim. Rasulullah ﷺ bersabda, “Siapa yang beriman kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia menyambung silaturahim.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).

Lihatlah Madinah.

Ketika kaum Muhajirin hijrah, mereka meninggalkan rumah, tanah, harta, dan masa lalu. Rasulullah ﷺ lalu mempersaudarakan mereka dengan kaum Anshor. Salah satu kisah yang sohih adalah Abdurrohman bin Auf dan Sa’ad bin Robi’. Sa’ad menawarkan sebagian hartanya. Abdurrohman tidak mengambil kesempatan itu untuk bergantung. Dia mendoakan Sa’ad dan meminta ditunjukkan pasar.

Itulah Islam.

Ada ukhuwah. Ada bantuan. Ada harga diri. Ada kerja. Ada saudara baru yang lahir bukan dari darah, tetapi dari iman.

Madinah tidak dibangun oleh manusia-manusia yang sendirian.

Tidak Semua Batas Adalah Penjara

Homo saecularis sering melihat batas sebagai musuh. Halal-haram dianggap sempit. Nasihat keluarga dianggap gangguan. Tradisi dicurigai. Syariat terasa seperti pagar pengganggu.

Padahal tidak semua pagar dibuat untuk mengurung. Ada pagar di tepi jurang agar manusia tidak jatuh.

Allah berfirman dalam Al-Mulk ayat 2 bahwa Dia menciptakan mati dan hidup untuk menguji siapa yang paling baik amalnya. Allah juga berfirman dalam Al-Insan ayat 3 bahwa manusia diberi pilihan, apakah dia mau bersyukur atau kufur.

Imam Asy-Syathibi menjelaskan bahwa syariat datang untuk menjaga maslahat manusia: agama, jiwa, akal, keturunan, dan harta. Jadi syariat bukan sekadar daftar larangan. Syariat adalah penjagaan.

Kisah Salman Al-Farisi dan Abu Darda memberi pelajaran. Abu Darda terlalu fokus ibadah sampai mengabaikan hak diri dan keluarganya. Salman menasihatinya, “Robb-mu punya hak atasmu. Tubuhmu punya hak atasmu. Keluargamu punya hak atasmu. Berikan setiap pemilik hak akan haknya.” Ketika hal itu disampaikan kepada Nabi ﷺ, beliau membenarkan Salman. Hadis ini sahih, diriwayatkan oleh Al-Bukhori.

Islam tidak memerintahkan manusia membenci tubuhnya. Tidak menyuruh dia meninggalkan keluarganya. Tidak menyuruh dia mematikan hidupnya.

Islam menyuruh setiap hak diletakkan pada tempatnya.

Hidup yang Terus Ditonton

Luka lain manusia sekuler adalah budaya tampil.

Wajah dinilai. Tubuh dinilai. Pakaian dinilai. Pasangan dinilai. Rumah dinilai. Pekerjaan dinilai. Bahkan kesedihan pun harus tampak menarik sebelum dianggap layak dilihat.

Media sosial membuat manusia sibuk tampak utuh, padahal hatinya pecah.

Islam memindahkan ukuran itu. Bukan rupa. Bukan harta. Bukan citra diri. Tapi takwa.

Allah berfirman dalam Al-Hujurot ayat 13 bahwa yang paling mulia di sisi Allah adalah yang paling bertakwa. Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa dan harta kalian, tetapi melihat hati dan amal kalian.” (HR. Muslim).

Ibnul Qoyyim berkata bahwa di dalam hati ada kekosongan yang tidak bisa dipenuhi kecuali dengan mencintai Allah, kembali kepada-Nya, dan mengingat-Nya.

Maka masalah manusia bukan kurang tontonan. Dia kurang pulang ke rumah iman.

Pulang kepada Fitrah

Sekularisme menyempitkan hidup pada hari ini. Karier yang sekarang. Tubuh yang sekarang. Citra diri yang sekarang. Kepuasan yang sekarang. Konsumsi yang sekarang. Sementara masa lalu dianggap beban, dan masa depan akhirat menjadi kabur.

Islam mengikat manusia dengan tiga waktu. Masa lalu berupa wahyu, nabi, orang tua, ulama, dan sejarah umat. Masa kini berupa amal dan amanah. Masa depan berupa kematian, hisab, surga, dan neraka.

Surat Luqman ayat 13–19 mengabadikan nasihat Luqman kepada anaknya: jangan syirik, dirikan shalat, lakukan amar ma’ruf nahi munkar, bersabar, jangan sombong, dan jaga adab. Ini bukan sekadar nasihat ayah kepada anak. Ini peta antar-generasi.

Dalam Islam, generasi tidak disambung hanya oleh darah. Generasi disambung oleh tauhid.

Maka pertarungan homo saecularis dan homo islamicus bukan sekadar pertarungan istilah. Ini pertarungan tentang manusia.

Apakah manusia lebih bahagia ketika menciptakan dirinya sendiri dari kehampaan?

Atau ketika dia kembali kepada fitrah, hidup dalam bimbingan wahyu, menjaga keluarga, menguatkan umat, dan berjalan menuju Allah?

Homo saecularis terus bertanya siapa dirinya.

Homo islamicus memulai dengan jawaban, lalu berjuang agar hidupnya layak di hadapan jawaban itu.

Allah berfirman dalam Ar-Ra’d ayat 28: “Ketahuilah, hanya dengan mengingat Allah hati menjadi tenang.”

Manusia tidak menjadi kecil karena menghamba kepada Allah.

Justru di situlah dia kembali utuh.

Write a Comment

Comment