Kafan Berjalan
Ada orang yang sudah mati sebelum tubuhnya benar-benar dikafani.
Dia masih berjalan. Masih bekerja. Masih membayar tagihan. Masih membalas pesan. Masih tertawa saat keluarga berkumpul. Dari luar, hidupnya tampak baik-baik saja.
Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang sudah lama dikubur.
Impian.
Dulu dia ingin menulis buku. Dulu dia ingin membuka usaha. Dulu dia ingin belajar bahasa asing. Dulu dia ingin memperbaiki hidupnya. Dulu dia ingin menjadi manusia yang lebih jujur kepada dirinya sendiri.
Lalu hidup datang.
Membawa cicilan. Membawa kebutuhan. Membawa rasa takut. Membawa opini orang lain.
Pelan-pelan dia berkata, “Nanti saja.”
Nanti kalau siap.
Nanti kalau uang cukup.
Nanti kalau anak-anak besar.
Nanti kalau keadaan tenang.
Masalahnya, hidup jarang benar-benar tenang.
Dan “nanti” sering berubah menjadi kuburan yang kita gali sendiri.
Impian Itu Manis, Tapi Tidak Cukup
Impian memang terdengar indah.
Kita suka membicarakannya. Kita suka membayangkannya. Kita suka melihat diri kita berhasil di dalam kepala sendiri. Di sana aman. Tidak ada risiko. Tidak ada orang yang tertawa. Tidak ada kegagalan.
Tapi impian yang hanya tinggal di kepala tidak akan mengubah apa-apa.
Dia hanya menjadi cerita yang kita ulang-ulang sebelum tidur.
Awalnya harapan.
Lalu alasan.
Lalu penyesalan.
Dan penyesalan punya suara yang panjang. Terutama saat usia bertambah, tubuh melemah, dan waktu tidak lagi bisa diajak tawar-menawar.
Islam tidak melarang manusia punya cita-cita. Justru seorang Muslim harus punya arah. Allah berfirman dalam QS. Al-Hasyr: 18, “Wahai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah, dan hendaklah setiap jiwa memperhatikan apa yang telah diperbuatnya untuk hari esok.”
Hari esok itu bukan hanya besok pagi.
Hari esok juga berarti akhirat.
Maka impian seorang Muslim tidak boleh berhenti pada dompet, jabatan, panggung, dan tepuk tangan. Semua boleh dikejar selama halal. Tapi semuanya harus punya jalan pulang kepada Allah.
Kita Sering Bukan Tidak Bisa
Banyak orang tidak berhenti karena tidak mampu.
Mereka berhenti karena takut.
Takut mulai. Takut salah. Takut ditertawakan. Takut rugi. Takut terlihat bodoh. Takut ternyata dirinya tidak sehebat yang dia bayangkan.
Akhirnya dia memilih aman.
Aman memang nyaman.
Tapi aman tidak selalu membuat hidup terasa hidup.
Ada orang yang punya pekerjaan, tapi hatinya tidak ikut bekerja. Ada yang punya rutinitas, tapi jiwanya tertinggal di masa lalu. Ada yang bangun, mandi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulang hidup yang sama seperti mesin yang diberi gaji.
Dia tidak menderita sangat.
Tapi dia juga tidak benar-benar hidup.
Padahal Rasulullah ﷺ mengingatkan bahwa ada dua nikmat yang banyak manusia tertipu di dalamnya: sehat dan waktu luang. Dua hal ini sering baru terasa mahal saat hilang. Saat sakit datang. Saat tenaga tinggal sisa. Saat umur habis.
Maka jangan tunggu hidup menghajar kita dulu baru sadar.
Deadline Membuat Impian Turun ke Tanah
Impian butuh deadline.
Tanpa deadline, impian menjadi kabut. Ada bentuknya, tapi tidak bisa dipegang. Enak dibicarakan, tapi tidak pernah selesai.
Deadline membuat impian turun ke tanah.
Dia bertanya dengan kasar:
Kapan mulai?
Kapan selesai?
Apa langkah pertama?
Apa yang bisa dikerjakan hari ini?
Mau menulis buku? Tulis satu halaman malam ini.
Mau membuka usaha? Tentukan produk pertama pekan ini.
Mau belajar bahasa? Belajar dua puluh menit setiap hari.
Mau hidup lebih baik? Pilih satu kebiasaan buruk, lalu bunuh pelan-pelan.
Deadline tidak membuat impian menjadi mudah.
Deadline hanya membuat kita berhenti berbohong.
Sebab sering kali kita tidak benar-benar sedang mengejar impian. Kita hanya sedang menikmati bayangan tentang diri kita yang berhasil.
Deadline membongkar kepalsuan itu.
Jangan Menunggu Siap
Kita sering menunggu siap.
Padahal siap itu jebakan yang sopan.
Tidak ada orang yang benar-benar siap saat mulai. Penulis pertama kali menulis dengan kalimat yang buruk. Pedagang pertama kali menjual dengan rasa malu. Guru pertama kali mengajar dengan suara bergetar. Pembicara pertama kali tampil dengan jantung deg-degan.
Semua orang yang sekarang tampak ahli pernah terlihat bodoh.
Bedanya, mereka mau terlihat bodoh lebih dulu.
Maka mulai saja.
Mulai dengan kecil. Mulai dengan jelek. Mulai dengan gemetar. Mulai dengan alat yang ada. Mulai dari bagian hidup yang paling mungkin disentuh hari ini.
Sesuatu yang buruk tapi dikerjakan masih bisa menjadi baik.
Sesuatu yang hanya dibayangkan tidak punya nasib apa-apa.
Kematian Membuat Semua Jelas
Lalu ada kematian.
Kata yang sering kita hindari, padahal dia berjalan ke arah kita sejak hari pertama kita lahir.
Kematian membuat hidup menjadi jelas. Bukan jelas seperti lampu pesta. Tapi jelas seperti kamar yang tiba-tiba sunyi. Di sana kita mulai tahu mana yang penting dan mana yang hanya keributan.
Di ranjang kematian, mungkin kita tidak lagi peduli pada omongan orang.
Mungkin kita tidak terlalu menyesal karena belum membeli mobil baru.
Mungkin kita tidak lagi memikirkan jabatan yang tidak sempat diraih.
Yang mungkin datang justru pertanyaan kecil.
Kenapa dulu aku tidak mencoba?
Kenapa dulu aku terlalu takut?
Kenapa aku membiarkan impian itu mati pelan-pelan?
Itulah yang menakutkan dari penyesalan. Dia sering datang saat raga tidak lagi kuat memulai.
Kita Tidak Bisa Mendikte Allah
Namun mengejar impian bukan berarti memaksa hidup tunduk.
Kita manusia biasa.
Kita boleh punya rencana. Boleh punya target. Boleh punya deadline. Boleh bekerja keras. Tapi hasil akhir tetap milik Allah.
QS. Al-Kahfi: 23–24 mengajarkan agar kita tidak berkata, “Aku pasti melakukan ini besok,” kecuali dengan menyebut, “Insya Allah.”
Ini bukan kalimat hiasan.
Ini pelajaran tauhid.
Kita berencana, tapi Allah yang menentukan. Ada impian yang tumbuh cepat. Ada yang tumbuh lambat. Ada yang gagal berkali-kali. Ada yang tidak Allah berikan karena memang bukan jalan terbaik.
Di sinilah kematian mengajari kita dua hal: bersyukur dan bersabar.
Bersyukur karena hari ini masih diberi waktu.
Bersabar karena perjalanan tidak selalu mengikuti kemauan kita.
Tugas kita bukan memastikan semua impian menjadi nyata.
Tugas kita adalah memastikan kita tidak mengkhianati hidup dengan terus menunda.
Mulai Sebelum Terlambat
Impian terdengar indah saat dibicarakan.
Tapi impian yang tidak dikerjakan akan menjadi hantu.
Dia mengikuti kita saat usia bertambah, tubuh melemah, teman-teman mulai pergi, dan malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Maka beri impianmu deadline.
Jangan tunggu rasa takut hilang.
Jangan tunggu semua orang mendukung.
Jangan tunggu hidup sempurna.
Mulai hari ini.
Kecil saja tidak apa-apa.
Sebab pada akhirnya, kita semua menuju tempat yang sama. Kematian. Dan ketika hari itu datang, semoga yang keluar dari hati kita bukan kalimat, “Seandainya dulu aku berani.”
Semoga yang keluar adalah rasa syukur.
Bahwa kita pernah takut, tapi tetap melangkah.
Bahwa kita pernah gagal, tapi tidak berhenti.
Bahwa kita pernah punya impian, dan tidak membiarkannya mati lebih dulu daripada kita.