Harus Naik Kelas
Ada pasangan muda yang baru menikah, lalu tiba-tiba merasa hidupnya harus naik kelas.
Dulu cukup makan di rumah. Sekarang merasa harus makan di tempat yang instagrammable. Dulu cukup motor bebek. Sekarang merasa harus mencicil mobil karena teman seangkatan sudah punya. Dulu rumah kontrakan kecil terasa cukup. Sekarang terasa sempit setelah melihat ruang tamu orang lain di TikTok.
Padahal mungkin gajinya tidak berubah banyak. Yang berubah hanya standar malu.
Media sosial membuat orang merasa miskin dengan cara baru. Bukan karena tidak makan. Bukan karena tidak punya tempat tinggal. Bukan karena tidak bisa membeli kebutuhan. Tetapi karena melihat hidup orang lain yang tampak lebih rapi, lebih mahal, dan lebih layak dipamerkan.
Kita menyebutnya dewasa. Padahal sering kali itu hanya gaya hidup yang memakai baju kedewasaan.
Menjadi dewasa memang butuh biaya. Menikah butuh nafkah. Punya anak butuh perencanaan. Rumah tangga butuh uang. Itu semua nyata. Islam tidak mengajarkan kita menjadi malas, miskin karena pilihan, atau menolak ikhtiar.
Tetapi Islam juga tidak mengajarkan bahwa dewasa berarti hidup harus makin mahal.
Dewasa adalah kemampuan membedakan kebutuhan dan keinginan. Kebutuhan punya batas. Keinginan sering tidak tahu pintu keluar.
Kebutuhan Ada Batasnya
Kebutuhan hidup manusia sebenarnya tidak sepanjang daftar belanja yang dibuat algoritma.
Kita butuh makan. Tetapi tidak harus selalu makan di tempat yang mahal. Kita butuh pakaian. Tetapi tidak harus setiap bulan membeli hanya agar tampak baru di foto. Kita butuh rumah. Tetapi tidak harus langsung seperti rumah orang yang sudah bekerja dua puluh tahun. Kita butuh kendaraan. Tetapi tidak harus ikut standar orang yang cicilannya membuat dada sesak.
Masalahnya, dunia digital membuat semua keinginan terasa seperti kebutuhan.
Lihat dapur orang, ingin ganti dapur. Lihat stroller orang, ingin beli stroller. Lihat liburan orang, merasa rumah tangga kurang bahagia. Lihat isi kulkas orang, merasa diri gagal menjadi pasangan yang layak.
Akhirnya rumah tangga bukan lagi tempat pulang. Ia menjadi ruang pamer yang tidak selesai dibangun.
Allah memuji hamba-hamba-Nya dalam QS. Al-Furqan ayat 67: “Dan orang-orang yang apabila membelanjakan harta, mereka tidak berlebihan dan tidak pula kikir, tetapi berada di antara keduanya.”
Ayat ini seperti neraca. Islam tidak menyuruh kita pelit. Islam juga tidak membiarkan kita boros. Di antara keduanya ada jalan waras: cukup, pantas, dan bertanggung jawab.
Algoritma Tidak Mengajarkan Syukur
Rasulullah ﷺ bersabda, “Lihatlah kepada orang yang berada di bawah kalian dan jangan melihat kepada orang yang berada di atas kalian. Itu lebih layak agar kalian tidak meremehkan nikmat Allah atas kalian.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Kalimat ini seperti obat bagi zaman kita.
Sebab media sosial sering melakukan kebalikannya. Ia membuat mata kita terus menengadah. Kita melihat orang yang lebih kaya. Lebih indah rumahnya. Lebih sering liburannya. Lebih mahal barangnya. Lebih tampak bahagia hidupnya.
Padahal yang kita lihat hanya potongan. Satu foto tidak menceritakan cicilan. Satu video tidak menunjukkan pertengkaran. Satu postingan tidak membuka kegundahan hati. Orang bisa tampak berhasil di layar, tetapi panik saat tagihan datang.
Rasulullah ﷺ juga bersabda, “Seandainya anak Adam memiliki satu lembah emas, niscaya dia ingin memiliki dua lembah. Tidak ada yang memenuhi mulutnya kecuali tanah (kuburan).” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Begitulah manusia jika tidak dijaga iman. Satu barang selesai, ingin barang kedua. Satu target tercapai, muncul target lain. Satu standar terpenuhi, algoritma memberi standar baru.
Tidak ada ujungnya.
Pasangan Muda dan Perangkap Pamer
Banyak pasangan muda tidak hancur karena kurang cinta. Mereka lelah karena hidupnya terlalu banyak dibandingkan.
Suami merasa gagal karena belum bisa memberi seperti suami orang lain. Istri merasa tertinggal karena rumahnya belum seestetik rumah orang lain. Anak pertama belum lahir, tetapi barang-barangnya sudah dibeli seperti sedang menyiapkan konten, bukan kehidupan.
Kemudian utang masuk pelan-pelan.
Awalnya kecil. Cicilan ponsel. Cicilan furnitur. Cicilan liburan. Cicilan barang yang sebenarnya tidak mendesak. Semua tampak ringan sampai ditumpuk bersama kebutuhan pokok, kontrakan, susu anak, biaya dokter, listrik, transportasi, dan bantuan untuk orang tua.
Lalu rumah tangga mulai kehilangan nafas.
Padahal kaya dalam Islam bukan semata banyak barang. Kaya adalah hati yang merasa cukup. Rasulullah ﷺ bersabda, “Kekayaan bukanlah banyaknya harta, tetapi kekayaan adalah kaya jiwa.” (HR. Al-Bukhori dan Muslim).
Kaya jiwa membuat suami istri bisa makan sederhana tanpa merasa hina. Bisa menunda beli barang tanpa merasa kalah. Bisa tinggal di rumah kecil tanpa saling menyalahkan. Bisa memakai barang lama tanpa merasa martabatnya jatuh.
Umar bin Abdul Aziz dan Hidup yang Turun Kelas
Umar bin Abdul Aziz pernah hidup dalam kemewahan. Sebelum menjadi kholifah, beliau dikenal sebagai pemuda dari keluarga istana. Pakaiannya bagus. Wewangiannya mewah. Cara jalannya sampai ditiru sebagian orang.
Tetapi ketika amanah kepemimpinan jatuh ke pundaknya, hidupnya berubah.
Beliau mengembalikan harta yang tidak menjadi haknya. Fasilitas yang berlebihan dipangkas. Pakaian mewah ditinggalkan. Istrinya, Fatimah binti Abdul Malik, diminta memilih antara perhiasan dan hidup sederhana bersama suaminya dalam amanah. Beliau memilih suaminya.
Dalam kisah yang masyhur di kitab sejarah, Umar bin Abdul Aziz pernah hanya memiliki satu pakaian yang layak. Ketika pakaian itu dicuci, beliau menunggu sampai kering sebelum keluar menemui orang.
Lihatlah.
Puncak kedewasaan beliau bukan saat hidup makin mahal. Justru saat mampu menundukkan ego dunia.
Umar bin Abdul Aziz tidak menjadi kecil karena sederhana. Beliau justru menjadi besar karena tidak diperbudak kemewahan.
Rumah Tangga Berbasis Qona’ah
Qona’ah bukan berarti berhenti berusaha. Qona’ah adalah hati yang tidak liar ketika melihat dunia milik orang lain.
Suami tetap bekerja. Istri tetap mengatur rumah. Keduanya tetap menabung. Keduanya tetap boleh punya cita-cita: rumah milik sendiri, kendaraan layak, pendidikan anak, bisnis yang tumbuh, traveling yang halal dan menyenangkan.
Tetapi semua itu berjalan dalam kendali iman, bukan dorongan pamer.
Pasangan muda perlu bertanya sebelum membeli: ini kebutuhan atau keinginan? Ini membantu hidup atau hanya membantu citra persona online? Ini dibeli karena perlu atau karena malu? Ini mendekatkan kami kepada ketenangan atau menambah beban?
Pertanyaan seperti ini bisa menyelamatkan rumah tangga.
Sebab banyak barang tidak jahat pada pemiliknya. Yang berbahaya adalah ketika barang menjadi ukuran harga diri.
Memutus Rantai
Mungkin anda perlu berhenti mengikuti akun yang membuat anda selalu merasa kurang.
Mungkin anda perlu menutup aplikasi medsos saat hati mulai membanding-bandingkan.
Mungkin anda perlu bicara dengan pasangan: “Kita hidup sesuai kemampuan kita. Bukan sesuai standar orang lain.”
Kalimat itu sederhana, tetapi bisa menyelamatkan banyak malam dari pertengkaran.
Dewasa bukan berarti membeli semua yang dulu tidak mampu dibeli. Dewasa adalah tahu kapan membeli, kapan menunda, kapan menolak, dan kapan bersyukur.
Hidup yang mahal tidak selalu membuat rumah tangga lebih bahagia. Kadang itu hanya membuat kecemasan punya sofa baru, mobil baru, dan tagihan baru.
Kedewasaan yang hakiki bukan tentang seberapa mahal versi hidup yang mampu anda pamerkan, melainkan tentang seberapa kaya hati anda untuk merasa cukup dengan apa yang Allah tetapkan.