by

Binaraga & Binajiwa

Bangunlah Jiwanya

Pusat kebugaran tumbuh di mana-mana.

Di kota besar. Di kota kecil. Di ruko-ruko pinggir jalan.

Orang datang membawa botol minum, sepatu olahraga, handuk, dan tekad. Mereka mengangkat beban. Mengatur makan. Menghitung kalori. Memburu dada yang bidang, lengan yang padat, perut yang rata.

Tidak ada yang salah.

Islam tidak mengajarkan umatnya menjadi lemah. Nabi Muhammad ﷺ bersabda, “Mukmin yang kuat lebih baik dan lebih dicintai Allah daripada mukmin yang lemah.” Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim.

Masalahnya bukan pada olahraga.

Masalahnya ada pada ketimpangan.

Raga kita latih dengan serius. Jiwa kita biarkan kelaparan.

Kita hafal jadwal latihan bahu. Tapi lupa kapan terakhir duduk tenang membaca Al-Qur’an. Kita tahu kebutuhan protein harian. Tapi tidak tahu seberapa parah penyakit hati yang sedang kita pelihara.

Sombong.

Dengki.

Riya’.

Cinta pujian.

Merasa lebih baik dari orang lain.

Padahal Indonesia Raya sudah memberi isyarat sejak lama: “Bangunlah jiwanya, bangunlah raganya.”

Jiwa dulu.

Baru raga.

Jiwa Lebih Mahal daripada Otot

Manusia bukan hanya daging, tulang, dan otot.

Jasad berasal dari tanah. Nanti kembali ke tanah. Sekuat apa pun tubuh seseorang, kuburan tidak akan kagum. Liang lahat tidak peduli pada sixpack.

Yang akan menghadap Allah adalah hati.

Allah berfirman, “Pada hari ketika harta dan anak-anak tidak berguna, kecuali orang yang datang kepada Allah dengan hati yang selamat.” (QS. Asy-Syu’ara: 88–89).

Itulah inti binajiwa.

Membersihkan hati sampai layak pulang kepada Allah.

Nabi ﷺ juga bersabda, “Sesungguhnya Allah tidak melihat rupa kalian dan harta kalian, tetapi Dia melihat hati dan amal kalian.” Hadits ini diriwayatkan Imam Muslim.

Jadi, cermin tidak cukup.

Cermin hanya menunjukkan bentuk badan. Ia tidak menunjukkan isi hati. Ia tidak memberi tahu apakah kita sedang sombong. Ia tidak menegur saat kita merendahkan orang lain. Ia tidak bersuara ketika kita menikmati pujian.

Padahal penyakit hati bisa lebih mematikan daripada lemak di perut.

Apa gunanya raga tegap jika hati bengkok?

Apa gunanya tubuh kuat jika jiwa rapuh?

Masjid adalah Gym Jiwa

Orang yang serius membentuk tubuh paham satu hal: hasil butuh disiplin.

Dia datang ke gym meski malas. Dia mengulang gerakan yang sama. Dia menahan pegal. Dia menjaga makan. Dia membayar biaya bulanan.

Semua itu demi otot.

Pertanyaannya sederhana.

Mengapa untuk otot kita bisa disiplin, tetapi untuk datang masjid kita banyak alasan?

Mengapa satu jam di treadmill terasa wajar, tetapi sepuluh menit membaca Al-Qur’an terasa berat?

Mengapa angkat beban terasa keren, tetapi sujud panjang terasa asing?

Masjid seharusnya menjadi pusat latihan jiwa.

Bukan hanya tempat datang saat hidup hancur. Bukan hanya tempat mencari tenang ketika masalah sudah menumpuk. Masjid adalah tempat seorang muslim membentuk batin.

Di sana ada sholat.

Ada dzikir.

Ada ilmu.

Ada sujud yang mematahkan leher kesombongan.

Allah berfirman, “Sungguh beruntung orang yang menyucikan jiwa itu, dan sungguh rugi orang yang mengotorinya.” (QS. Asy-Syams: 9–10).

Jelas sekali.

Untung rugi manusia tidak hanya dihitung dari rekening, jabatan, atau bentuk tubuh. Untung rugi manusia dihitung dari bersih atau kotornya jiwa.

Binaraga butuh nutrisi.

Binajiwa juga.

Nutrisi jiwa adalah Al-Qur’an. Napasnya adalah dzikir. Latihannya adalah sabar. Puasanya membakar rakus. Sedekahnya mengikis cinta dunia. Sholat malamnya melatih otot tawadhu’.

Ibnu Qayyim al-Jauziyyah menjelaskan bahwa hati bisa sakit seperti badan. Obatnya adalah taubat, dzikir, dan kembali kepada Allah.

Sayangnya, kita sering lebih panik saat berat badan naik daripada saat iman turun.

Raga Kuat, Jiwa Kotor

Raga yang kuat tanpa jiwa yang bersih bisa menjadi bahaya.

Ia tidak selalu melahirkan pelindung.

Kadang ia melahirkan pemangsa.

Orang merasa lebih tinggi karena lengannya besar. Merasa boleh membentak karena badannya kuat. Merasa pantas menindas karena posisinya di atas.

Lalu hukum rimba bekerja.

Siapa kuat, dia menang.

Siapa lemah, dia dimakan.

Itu bukan kekuatan. Itu kedzoliman.

Islam tidak memusuhi kekuatan. Islam justru mengarahkannya. Otot harus tunduk kepada iman. Kekuasaan harus tunduk di bawah rasa takut kepada Allah. Harta harus tunduk kepada amanah. Ilmu harus tunduk kepada adab.

Tanpa tazkiyatun nafs, semua kekuatan bisa berubah menjadi alat penindasan.

Fisik berubah menjadi kesombongan.

Harta berubah menjadi cambuk.

Jabatan berubah menjadi kandang binatang buas.

Ilmu berubah menjadi pisau untuk mempermalukan orang lain.

Nabi Muhammad ﷺ pernah bersabda bahwa orang kuat bukanlah orang yang menang bergulat. Orang kuat adalah orang yang mampu menahan dirinya ketika marah. Hadits ini diriwayatkan Imam Al-Bukhori dan Imam Muslim.

Jadi dalam Islam, kuat bukan hanya soal mampu mengangkat beban.

Kuat adalah mampu menurunkan ego.

Umar, Ali, dan Kekuatan yang Tunduk

Islam punya teladan.

Umar bin Al-Khattab dikenal kuat, tegas, dan disegani. Tetapi ketika menjadi khalifah, beliau pernah memanggul sendiri bahan makanan untuk rakyat yang kelaparan. Kisah ini banyak disebut dalam kitab sejarah Islam sebagai contoh rasa takut seorang pemimpin kepada Allah.

Bayangkan.

Seorang penguasa memanggul makanan sendiri.

Bukan karena tidak punya bawahan. Tapi karena hatinya hidup.

Itulah kekuatan yang tunduk.

Ali bin Abi Thalib juga dikenal pemberani. Beliau tidak lari dari medan berat. Tetapi keberaniannya tidak membuat jiwanya kasar. Beliau dikenal berilmu, penuh hikmah, dan dekat dengan keadilan.

Kekuatan mereka tidak berubah menjadi hukum rimba.

Sebab jiwa mereka dilatih.

Mereka bukan hanya binaraga.

Mereka binajiwa.

Jangan Kekar di Dunia, Kurus di Akhirat

Maka mari jujur kepada diri sendiri.

Rawat raga. Makan yang baik. Bergerak. Berolahraga. Jangan malas. Jangan menjadikan agama sebagai alasan untuk membiarkan tubuh rusak.

Tubuh yang sehat membantu ibadah.

Tetapi jangan berhenti di sana.

Latih jiwa lebih serius daripada melatih lengan. Bersihkan hati lebih sering daripada membersihkan sepatu olahraga. Datangi masjid seperti kita datang ke tempat nge-gym. Baca Al-Qur’an seperti kita membaca program diet. Duduk di majelis ilmu seperti kita duduk di bangku bench press.

Sebab badan yang kuat bisa membantu kita hidup.

Tetapi jiwa yang bersih membantu kita selamat.

Jangan sampai otot kita kekar di dunia, tetapi jiwa kita kurus kering di hadapan Allah.

Mari angkat beban.

Tapi jangan lupa sujud panjang.

Mari binaraga.

Sekaligus binajiwa.

Write a Comment

Comment