Terkungkung di Penjara
Ada hari ketika pekerjaan terasa seperti dejavu yang memuakkan.
Anda datang, duduk, membuka laptop, menjawab pesan, mengisi laporan, menghadiri rapat, mengejar target, lalu pulang dengan kepala penuh tetapi hati kosong. Besoknya sama lagi. Lusa sama lagi. Bulan berganti, tugas berganti sedikit, tetapi rasa jenuhnya tetap tinggal.
Tidak semua orang bekerja dalam kisah yang heroik.
Banyak orang bekerja dalam sunyi. Mengurus data. Menata berkas. Membalas pelanggan. Menjaga toko. Mengajar anak yang sulit paham. Menyapu lantai yang besok kotor lagi. Menulis laporan yang mungkin hanya dibaca sekilas. Mengulang pekerjaan yang tidak selalu dipuji.
Lalu muncul bisikan itu.
“Untuk apa serius-serius?”
“Tidak ada yang melihat juga.”
“Yang penting selesai.”
“Kerja secukupnya saja.”
Di titik itulah seorang muslim diuji. Bukan hanya ketika pekerjaan terasa besar. Bukan hanya ketika panggung terbuka dan tepuk tangan menunggu. Tetapi ketika kerja terasa banal, kosong, membosankan, dan tidak ada orang yang peduli.
Anda hebat bila tetap profesional di saat seperti itu.
Kerja Adalah Amanah
Islam tidak memandang kerja hanya sebagai cara mencari uang. Kerja adalah amanah. Ada janji di sana. Ada akad. Ada hak orang lain. Ada jam kerja. Ada kualitas yang harus dijaga. Ada upah yang kelak masuk ke rumah, menjadi makanan keluarga, menjadi darah dan tenaga.
Allah berfirman dalam QS. Al-Isra’ ayat 34, “Dan penuhilah janji, karena janji itu pasti diminta pertanggungjawabannya.”
Ayat ini sederhana, tetapi berat. Kontrak kerja adalah janji. Menerima gaji adalah bagian dari janji. Menyetujui tugas adalah janji. Maka pekerjaan tidak selesai hanya karena atasan tidak marah. Pekerjaan selesai ketika amanah ditunaikan dengan benar.
Rasulullah ﷺ bersabda, “Sesungguhnya Allah mencintai apabila salah seorang dari kalian melakukan suatu pekerjaan, ia melakukannya dengan itqan.” (HR. Ath-Thobroni dan Al-Baihaqi).
Itqan berarti rapi. Tuntas. Sungguh-sungguh. Tidak asal jadi. Tidak menipu mata manusia. Tidak bekerja baik hanya saat diawasi.
Seorang muslim bukan pekerja yang hidup dari suasana hati. Dia boleh lelah. Dia boleh bosan. Dia boleh ingin istirahat. Tetapi dia tidak boleh mengkhianati amanah.
Banal Bukan Berarti Sia-Sia
Masalahnya, tidak semua pekerjaan terasa bermakna setiap hari.
Ada pekerjaan yang terlalu rutin sampai kita lupa nilainya. Ada tugas yang tampak kecil sampai kita menganggapnya tidak penting. Padahal banyak hal besar berdiri di atas pekerjaan kecil yang dilakukan dengan benar.
Seorang petugas kebersihan mungkin merasa hanya menyapu lantai. Tetapi dari lantai yang bersih, orang lain bekerja dengan nyaman. Anak-anak belajar tanpa merasa jijik. Orang sakit tidak mudah tertular penyakit. Ibadah terasa lebih khusyuk.
Seorang guru mungkin merasa hanya mengulang materi yang sama. Tetapi dari pengulangan itu, ada satu anak yang akhirnya paham. Ada satu murid yang merasa diperhatikan. Ada satu jiwa yang pelan-pelan menemukan arah.
Seorang pegawai administrasi mungkin merasa hanya mengetik dan mengarsip. Tetapi dari arsip yang rapi, hak orang lain tidak hilang. Urusan menjadi jelas. Masalah tidak tumbuh menjadi fitnah.
Kebanalan sering lahir karena kita melihat pekerjaan dari permukaannya saja. Iman mengajak kita melihat lebih dalam. Apa yang tampak kecil di mata manusia bisa besar di sisi Allah bila niatnya benar dan caranya halal.
Menata Niat di Tengah Jenuh
Imam Al-Ghazali dalam Ihya Ulumuddin menjelaskan bahwa mencari nafkah halal untuk menjaga diri dan keluarga dari meminta-minta adalah amal yang bernilai besar. Seorang ayah yang bekerja agar keluarganya tidak bergantung kepada orang lain sedang menjaga kehormatan. Seorang ibu yang bekerja dengan amanah sedang menunaikan tanggung jawab. Seorang pemuda yang bekerja halal sedang menutup pintu haram dari hidupnya.
Maka rutinitas bisa berubah menjadi ibadah.
Kuncinya niat.
Anda datang bekerja bukan hanya untuk gaji. Anda bekerja untuk menjaga diri dari meminta-minta. Anda bekerja agar keluarga makan dari yang halal. Anda bekerja agar orang lain mendapat manfaat. Anda bekerja karena Allah melihat cara Anda menuntaskan amanah.
Ibnul Qoyyim Al-Jauziyyah sering menekankan pentingnya menjaga waktu dan mengisinya dengan kewajiban yang paling dekat. Waktu yang pergi tidak akan kembali. Maka tugas yang ada di depan mata jangan diremehkan hanya karena itu terasa kecil.
Kadang yang membuat seseorang mulia bukan jenis pekerjaannya, tetapi cara dia menunaikannya.
Zaid bin Tsabit dan Tugas yang Berat
Ada kisah besar tentang profesionalisme dalam sejarah Islam.
Setelah Perang Yamamah, banyak penghafal Al-Qur’an gugur. Umar bin Khaththab mengusulkan kepada Abu Bakar ash-Shiddiq agar Al-Qur’an dikumpulkan dalam satu mushaf. Abu Bakar kemudian memanggil Zaid bin Tsabit.
Tugas itu bukan tugas ringan. Zaid harus mengumpulkan ayat dari lembaran, pelepah kurma, tulang, batu tipis, dan hafalan para sahabat. Beliau harus sangat teliti. Tidak boleh ceroboh. Tidak boleh tergesa. Tidak boleh bekerja dengan perasaan “yang penting selesai.”
Zaid sampai berkata, “Demi Allah, seandainya mereka memberiku tugas untuk memindahkan sebuah gunung, itu tidak lebih berat bagiku daripada perintah mengumpulkan Al-Qur’an.”
Ini pekerjaan besar, tetapi bentuknya banyak berurusan dengan pemeriksaan, pencatatan, pembuktian, dan ketelitian. Secara lahir, itu pekerjaan administratif. Tetapi karena amanahnya besar, Zaid mengerjakannya dengan standar tinggi.
Dari ketelitian itu, umat Islam menerima manfaat sampai hari ini.
Kisah ini mengajarkan satu hal. Pekerjaan yang melelahkan tidak boleh dikerjakan dengan jiwa yang asal-asalan. Semakin besar amanahnya, semakin tinggi pula tuntutan itqan-nya.
Anda Hebat Saat Tidak Diawasi
Profesional saat semangat itu biasa.
Profesional saat dipuji juga tidak terlalu sulit.
Yang sulit adalah tetap profesional saat bosan. Saat tidak ada yang melihat. Saat atasan tidak memeriksa. Saat rekan kerja lain mulai menurunkan standar. Saat hati ingin menyerah pada kalimat, “Ah, sudahlah.”
Di situlah kualitas seseorang terlihat.
Seorang muslim bekerja dengan kesadaran ihsan. Dia merasa diawasi Allah. Bukan diawasi kamera. Bukan hanya diawasi atasan. Rasulullah ﷺ menjelaskan ihsan sebagai beribadah kepada Allah seakan-akan engkau melihat-Nya. Jika engkau tidak melihat-Nya, maka Dia melihatmu.
Prinsip ini mengubah ruang kerja menjadi ladang amal.
Meja kerja menjadi tempat ibadah. Laporan menjadi amanah. Pelayanan menjadi sedekah. Ketelitian menjadi bagian dari takwa. Gaji menjadi lebih bersih karena diambil dengan usaha yang pantas.
Rezeki yang Thoyyib
Kita sering meminta rezeki yang banyak. Tetapi Islam mengajarkan kita meminta rezeki yang halal dan thoyyib. Baik. Bersih. Tidak mengandung kedzoliman. Tidak lahir dari tipu daya. Tidak datang dari kerja yang pura-pura.
Makan gaji buta tampak aman di dunia, tetapi berbahaya bagi hati. Mungkin orang lain tidak tahu. Mungkin sistem tidak mencatat. Tetapi Allah Maha Tahu mana pekerjaan yang ditunaikan dan mana yang dikhianati.
Karena itu, menjaga kualitas kerja adalah cara menjaga keberkahan rezeki. Bukan hanya agar karier naik. Bukan hanya agar nama baik terjaga. Tetapi agar apa yang kita bawa pulang tidak menjadi beban di akhirat.
Tetaplah Hebat
Lelah itu manusiawi.
Bosan itu manusiawi.
Merasa pekerjaan banal juga manusiawi.
Tetapi jangan biarkan rasa itu membuat Anda menjadi orang yang kehilangan amanah. Istirahatlah bila perlu. Atur tenaga. Perbaiki niat. Cari cara agar kerja lebih tertata. Tetapi jangan turunkan martabat diri dengan bekerja asal-asalan.
Sebab muslim yang baik bukan hanya tampak saleh di masjid. Dia juga jujur di kantor. Dia rapi di bengkel. Dia amanah di kelas. Dia teliti di toko. Dia sungguh-sungguh di dapur. Dia profesional dalam setiap ruang yang Allah takdirkan untuknya.
Saat rutinitas terasa banal, ingatlah bahwa Allah sedang melihat bagaimana Anda menuntaskan amanah.
Tetaplah hebat!
Karena lelah yang dijalani dengan profesional bisa menjadi pahala. Dan kerja yang terasa hambar, bila ditunaikan karena Allah, bisa menjadi jalan pulang menuju ridha-Nya.