Masih Mati
Ada orang yang mati sebelum benar-benar mati.
Tubuhnya masih berjalan. Dia masih bekerja. Masih membalas chat. Masih membayar tagihan. Masih tertawa di acara keluarga. Dari luar, hidupnya tampak baik-baik saja.
Tapi di dalam dirinya, ada sesuatu yang sudah lama dikubur.
Impian.
Dulu dia ingin menulis buku.
Dulu dia ingin berbisnis.
Dulu dia ingin belajar bahasa asing.
Dulu dia ingin hidup dengan cara yang lebih jujur pada dirinya sendiri.
Lalu hidup datang.
Membawa cicilan. Membawa kebutuhan. Membawa rasa takut. Membawa opini orang lain.
Pelan-pelan dia berkata, “Nanti saja.”
Nanti kalau sudah siap.
Nanti kalau uang cukup.
Nanti kalau anak-anak besar.
Nanti kalau keadaan tenang.
Masalahnya, hidup jarang benar-benar tenang.
Dan “nanti” sering berubah menjadi kuburan yang rapi.
Impian Itu Manis, Tapi Tidak Cukup
Impian memang terdengar romantis.
Kita suka membicarakannya. Kita suka membayangkannya. Kita suka melihat diri kita berhasil dalam kepala sendiri. Rasanya enak. Aman. Tidak ada risiko. Tidak ada orang yang menertawakan. Tidak ada kegagalan.
Tapi impian yang hanya tinggal di kepala tidak akan mengubah hidup.
Dia hanya akan menjadi cerita yang kita ulang-ulang.
Awalnya harapan.
Lalu alasan.
Lalu penyesalan.
Dan penyesalan punya gaung dan gema yang panjang.
Terutama saat usia bertambah dan tenaga mulai berkurang.
Kita Sering Bukan Tidak Bisa
Banyak orang tidak berhenti karena tidak mampu.
Mereka berhenti karena takut.
Takut mulai. Takut salah. Takut ditertawakan. Takut gagal. Takut kehilangan uang. Takut terlihat bodoh. Takut ternyata dirinya tidak sehebat yang dia bayangkan.
Akhirnya dia memilih aman.
Aman memang nyaman.
Tapi aman tidak selalu membuat hidup terasa hidup.
Ada orang yang punya pekerjaan, tapi hatinya tidak ikut bekerja. Ada yang punya rutinitas, tapi jiwanya seperti tertinggal di masa lalu. Ada yang setiap hari bangun, mandi, bekerja, pulang, tidur, lalu mengulang hidup yang sama.
Dia tidak sangat menderita.
Tapi dia juga tidak benar-benar hidup.
Apa yang lebih menyedihkan dari manusia yang diberi umur panjang, tapi menghabiskannya hanya untuk merasa takut?
Deadline Membuat Impian Turun ke Tanah
Impian butuh deadline.
Tanpa deadline, impian menjadi kabut. Ada bentuknya, tapi tidak bisa dipegang. Enak dibicarakan, tapi tidak pernah selesai.
Deadline membuat impian jadi nyata.
Dia bertanya dengan tegas:
Kapan mulai?
Kapan selesai?
Apa langkah pertama?
Apa yang bisa dikerjakan hari ini?
Mau menulis buku? Tulis satu halaman.
Mau berbisnis? Tentukan produk pertama.
Mau belajar bahasa asing? Belajar dua puluh menit malam ini.
Mau hidup lebih baik? Pilih satu kebiasaan buruk, lalu bunuh pelan-pelan.
Deadline tidak membuat impian menjadi mudah.
Deadline hanya membuat kita berhenti berbohong.
Karena sering kali kita tidak benar-benar sedang mengejar impian. Kita hanya sedang menikmati bayangan tentang diri kita yang berhasil.
Deadline membongkar ilusi itu.
Jangan Menunggu Siap
Kita sering menunggu siap.
Padahal siap itu jebakan yang sopan.
Tidak ada orang yang benar-benar siap saat mulai. Penulis pertama kali menulis dengan kalimat yang buruk. Pedagang pertama kali menjual dengan rasa malu. Guru pertama kali mengajar dengan suara bergetar. Pembicara pertama kali tampil dengan tangan dingin.
Semua orang yang sekarang terlihat ahli dan hebat dulunya pernah terlihat bodoh.
Bedanya, mereka mau terlihat bodoh lebih dulu.
Kita sering ingin langsung rapi. Langsung matang. Langsung dipuji. Langsung berhasil. Padahal hidup tidak berjalan seperti itu.
Hidup sering memberi lumpur dulu.
Baru jalan.
Gagal dulu.
Baru paham.
Maka mulai saja.
Mulai dengan kecil. Mulai dengan jelek. Mulai dengan gemetar. Mulai dengan alat yang ada. Mulai dari sudut hidup yang paling mungkin disentuh hari ini.
Sesuatu yang buruk tapi dikerjakan masih bisa menjadi baik.
Sesuatu yang hanya dibayangkan tidak punya nasib apa-apa.
Kematian Membuat Semua Lebih Jelas
Lalu ada kematian.
Kata yang sering kita hindari, padahal dia berjalan ke arah kita sejak hari pertama kita lahir.
Kematian membuat hidup menjadi jelas.
Bukan jelas seperti lampu pesta. Tapi jelas seperti kamar yang tiba-tiba sunyi. Kita mulai tahu mana yang penting dan mana yang cuma keributan tolol.
Di ranjang kematian, mungkin kita tidak lagi peduli pada omongan orang.
Mungkin kita tidak terlalu menyesal karena belum punya mobil baru.
Mungkin kita tidak lagi memikirkan jabatan yang tidak sempat diraih.
Yang mungkin datang justru pertanyaan kecil.
Kenapa dulu aku tidak mencoba?
Kenapa dulu aku terlalu takut?
Kenapa aku membiarkan impian itu mati pelan-pelan?
Kenapa aku menunggu hidup mudah, padahal hidup tidak pernah berjanji begitu?
Itulah yang paling menakutkan dari penyesalan.
Dia sering datang saat tenaga sudah habis.
Saat tangan tidak lagi kuat memulai.
Saat waktu tidak bisa diajak negosiasi.
Kita Tetap Manusia Biasa
Namun mengejar impian bukan berarti kita bisa memaksa hidup untuk tunduk.
Kita manusia biasa.
Kita boleh punya rencana. Boleh punya target. Boleh punya deadline. Boleh bekerja keras. Boleh menata hari dengan rapi.
Tapi hasil akhir tetap bukan milik kita sepenuhnya.
Kita tidak bisa mendikte Tuhan.
Ada impian yang tumbuh cepat. Ada yang tumbuh lambat. Ada yang harus melewati gagal berkali-kali. Ada yang ditunda. Ada juga yang tidak pernah terwujud, karena mungkin memang bukan jalan terbaik untuk kita.
Di sinilah kematian mengajari kita dua hal.
Bersyukur dan bersabar.
Bersyukur karena hari ini kita masih diberi waktu. Masih bisa mulai. Masih bisa memperbaiki diri. Masih bisa meminta maaf. Masih bisa menulis halaman pertama. Masih bisa membuka pintu yang dulu kita kunci sendiri.
Bersabar karena perjalanan tidak selalu sesuai kemauan kita.
Tugas kita bukan memastikan semua impian menjadi kenyataan.
Tugas kita adalah memastikan kita tidak mengkhianati hidup dengan terus menunda.
Mulailah Sebelum Terlambat
Impian terdengar indah saat dibicarakan.
Tapi impian yang tidak dikerjakan akan menjadi hantu.
Dia akan mengikuti kita saat usia bertambah. Saat tubuh melemah. Saat teman-teman mulai pergi. Saat anak-anak punya kehidupan sendiri. Saat malam terasa lebih panjang dari biasanya.
Maka beri impianmu deadline.
Jangan tunggu rasa takut hilang.
Jangan tunggu semua orang mendukung.
Jangan tunggu hidup terasa ideal.
Mulai hari ini.
Kecil saja tidak apa-apa.
Sebab pada akhirnya, kita semua akan menuju tempat yang sama. Kematian. Dan ketika hari itu datang, semoga yang keluar dari hati kita bukan kalimat, “Seandainya dulu aku berani.”
Semoga yang keluar adalah rasa syukur.
Bahwa kita pernah takut, tapi tetap melangkah.
Bahwa kita pernah gagal, tapi tidak berhenti.
Bahwa kita pernah punya impian, dan tidak membiarkannya mati lebih dulu daripada kita.