Menyobek Topeng Dunia
Ada banjir yang tidak hanya membawa air. Ia membawa lumpur. Ia menyeret bangkai. Ia membuka apa yang selama ini disembunyikan di bawah karpet ruang tamu dunia.
1.000 hari sejak 7 Oktober 2023, dunia seperti berdiri di depan cermin yang pecah. Gaza menjadi pecahan kaca itu. Dari sana kita melihat wajah Barat, wajah rezim Arab, wajah media, wajah lembaga internasional, dan wajah kita sendiri.
Sebagian orang menyebutnya Thufan Al-Aqsho. Sebagian lain menyebutnya awal dari perang Gaza yang panjang. Apa pun istilahnya, satu hal sulit dibantah: setelah peristiwa itu, dunia tidak kembali sama.
Yahya Sinwar menjadi salah satu nama paling vital dalam pusaran ini. Bagi pendukungnya, beliau simbol perlawanan. Bagi banyak negara Barat, beliau arsitek serangan 7 Oktober. Tetapi artikel ini tidak hendak mengkultuskan manusia. Islam tidak membutuhkan kultus. Islam membutuhkan keadilan.
Dan justru di titik itulah Gaza menelanjangi dunia.
Ketika Hak Asasi Mati di Depan Kamera
Selama puluhan tahun, dunia diajari kata-kata ajaib: hak asasi manusia, kebebasan berbicara, hukum internasional, perlindungan anak, hak perempuan, kebebasan pers.
Lalu Gaza datang.
Anak-anak mati. Rumah sakit dibom. Jurnalis lokal bekerja sambil menunggu giliran menjadi berita duka. Bantuan kemanusiaan ditahan. Pengungsi berpindah dari satu tenda ke tenda lain, seakan tanah sudah tidak punya tempat lagi untuk mereka.
Pada saat yang sama, banyak kampus di Barat memperlakukan mahasiswa pro-Palestina seperti ancaman negara. Spanduk diturunkan. Perkemahan dibubarkan. Nama mahasiswa dicatat. Profesor disanksi. Akun dibatasi. Kalimat “Free Palestine” tiba-tiba dianggap lebih berbahaya daripada bom yang jatuh ke perumahan warga.
Di sinilah ayat Allah terasa seperti baru turun:
“Dan apabila dikatakan kepada mereka, ‘Janganlah berbuat kerusakan di bumi,’ mereka menjawab, ‘Sesungguhnya kami justru orang-orang yang melakukan perbaikan.’ Ingatlah, sesungguhnya merekalah yang berbuat kerusakan, tetapi mereka tidak menyadari.” (QS. Al-Baqarah: 11-12).
Mereka datang membawa kamus kemanusiaan. Tetapi ketika yang menjadi korban adalah Muslim, kamus itu seperti hilang semua halamannya.
Hukum Internasional yang Dipaksa Bercermin
Gaza tidak hanya menguji nurani manusia biasa. Gaza juga menguji lembaga-lembaga besar.
Mahkamah Internasional memerintahkan langkah-langkah sementara dalam perkara genosida yang diajukan Afrika Selatan terhadap Israel. Mahkamah Pidana Internasional mengeluarkan surat perintah penangkapan terhadap Benjamin Netanyahu dan Yoav Gallant atas dugaan kejahatan perang dan kejahatan terhadap kemanusiaan.
Ini bukan bahasa mimbar. Ini bahasa hukum dunia sendiri.
Namun kita melihat sesuatu yang ganjil. Ketika hukum menyentuh musuh dunia Barat, hukum disebut suci. Ketika hukum menyentuh sekutu Barat, hukum disebut bias.
Di sinilah ucapan yang dinisbatkan kepada Ibnu Taimiyah menemukan tempatnya: “Allah menegakkan negara yang adil meskipun kafir, dan tidak menegakkan negara dzolim meskipun Muslim.” Intinya jelas: keadilan adalah tiang. Jika tiang itu patah, istana akan mencari tanggal robohnya sendiri.
Gaza membuat Barat memilih. Mereka bisa mempertahankan topeng hukum internasional, atau mempertahankan Israel tanpa syarat. Banyak dari mereka memilih yang kedua. Maka topeng itu retak.
Rezim Arab dan Diam yang Mahal
Gaza juga menelanjangi dunia Arab.
Rakyat turun ke jalan. Mereka menangis, marah, mengangkat bendera Palestina, membaca doa, mengirim bantuan. Tetapi banyak penguasa bicara dengan bahasa yang sudah disaring oleh penguasa. Mereka mengecam sedikit, berunding lama, lalu kembali mengamankan kursi kekuasaan.
Normalisasi yang dulu dijual sebagai jalan damai mendadak terlihat seperti transaksi dingin. Di atas meja, ada bisnis. Di bawah meja, ada darah.
Allah berfirman:
“Wahai orang-orang yang beriman, jadilah kamu penegak keadilan karena Allah, menjadi saksi dengan adil. Janganlah kebencianmu terhadap suatu kaum mendorongmu untuk berlaku tidak adil. Berlaku adillah, karena adil itu lebih dekat kepada takwa.” (QS. Al-Ma’idah: 8).
Ayat ini berat. Yakni melarang kita dzolim bahkan kepada musuh. Maka bagaimana mungkin dunia membiarkan kedzoliman kepada anak-anak, ibu-ibu, dokter, jurnalis, dan pengungsi?
Al-Hasan Al-Bashri pernah mengingatkan bahaya ulama yang terlalu dekat dengan pintu penguasa dzolim. Sebab ilmu yang seharusnya menegur bisa berubah menjadi stempel. Dan ketika agama berubah menjadi stempel kekuasaan, rakyat kehilangan pelita.
Sinwar dan Patahnya Narasi Global
Yahya Sinwar adalah tokoh yang tidak mungkin dibaca dengan kalimat datar. Hidupnya keras. Pilihannya keras. Warisannya diperdebatkan.
Tetapi kematiannya pada 2024 membuat satu narasi runtuh: bahwa semua pemimpin perlawanan hanya bersembunyi jauh dari medan. Kabar kematiannya di Gaza selatan, dalam situasi tempur, membuat para pembencinya pun harus menata ulang cerita.
Namun sekali lagi, Islam tidak mengajarkan kita menilai kebenaran hanya dari keberanian seseorang. Keberanian harus tunduk kepada syariat. Rasulullah Muhammad melarang pembunuhan wanita dan anak-anak dalam perang. Ini prinsip yang tidak boleh dikubur oleh emosi.
Karena itu, pelajaran dari Sinwar bukan untuk memuja manusia. Pelajarannya lebih besar: satu konflik telah membuka kebusukan sistem global yang selama ini mengaku netral.
Kisah Hind Rajab dan Jurnalis yang Tetap Menulis
Di antara ribuan kisah Gaza, nama Hind Rajab menjadi luka. Anak enam tahun itu terjebak dalam mobil keluarganya. Dia meminta pertolongan. Ambulans datang. Lalu tubuhnya, keluarganya, dan para petugas penyelamat ditemukan dalam kematian setelah dibombardir oleh peluru penjajah teroris zionis israel yahudi.
Dunia mendengar suara anak kecil meminta tolong. Tetapi dunia terlambat datang.
Ada pula para jurnalis Gaza. Banyak dari mereka kehilangan rumah, keluarga, bahkan nyawa. Mereka tetap merekam. Seakan berkata, “Jika kami mati, setidaknya dunia tidak bisa berkata: ‘Kami tidak tahu.’”
Inilah yang membuat Gaza berbeda. Ini bukan hanya perang senjata. Ini perang ingatan. Penjajah ingin menghapus sejarah. Dan Allah adalah sebaik-baik saksi.
Setelah Thufan Al-Aqsho, Tidak Ada yang Sama
1.000 hari Thufan Al-Aqsho bukan hanya tentang Gaza. Ini tentang dunia yang kehilangan topengnya.
Kita belajar bahwa slogan kemanusiaan bisa menjadi barang dagangan. Hukum bisa dibuat tajam ke bawah dan tumpul ke sekutu. Media bisa memilih mayat mana yang diberi nama dan mayat mana yang dijadikan angka. Rezim bisa lebih takut kepada sponsor daripada kepada Allah. Ulama bisa menjadi anjing istana atau penjaga kebenaran.
Tetapi kita juga belajar hal lain.
Anak kecil yang mati bisa membangunkan jutaan hati. Jurnalis yang gugur bisa membuat kamera berikutnya menyala. Reruntuhan bisa menjadi mimbar. Gaza yang diblokade bisa menembus dinding dunia.
Maka tugas kita bukan hanya marah. Tugas kita adalah bertakwa. Membela yang didzolimi. Menjaga lisan dari dusta. Menjaga tangan dari kedzoliman. Menguatkan gerakan boikot. Mengirim bantuan. Mendidik anak-anak kita tentang Al-Aqsho. Dan berdoa agar Allah menjaga Palestina, membersihkan umat dari kemunafikan, serta mengembalikan keadilan kepada tempatnya.
Setelah banjir, tanah memang rusak.
Tetapi dari tanah yang basah itu, sering kali tumbuh akar baru.